After Marriage

After Marriage
Kencan Sama Sean, ya? Mau?



"Kamu mau nggak nemenin keponakan saya satu hari aja? Saya bayar, deh, nggak papa asal keponakan saya seneng," bujuk Pak Hans kepada Anha. Medengar hal tersebut membuat Anha kaget bukan main.


"Maaf, Pak! Saya benar benar nggak bisa, Pak! Mau dibayar seratus juta pun saya juga nggak bakalan mau!" tolak Anha tanpa basa basi lagi.


Hans mengeryitkan dahinya ketika mendengar hal tersebut, hanya menemani jalan jalan santai, bahkan dibayar mahal, masih juga tidak mau? Apa susahnya coba.


Melihat respon Anha yang menggebu gebu kini Hans mengerti kalau keponakannya itu pasti hobi sekali mengerjai Anha dan membuatnya kesal.


Bagaimana tidak kesal! Dilamar bocah SMK siapa juga yang mau.


"Cuma satu hari aja, kok. Itung itung nyenengin dia gitu. Saya bayar, kok. Masak nggak mau?" Bujuk Pak Hans yang kedua kaliya, berharap kalau Anha kali ini menyetujuinya.


Yang benar saja menemani bocah tengil itu seharian penuh? Berdekatan lima belas menit saja rasanya seperti tom and jerry. Apalagi jika harus menemami si tengil itu selama seharian penuh? Bisa bisa Anha mati muda karena terkena serangan jantung menghadapi anak itu.


Tidak mau!!!


"Maaf, Pak. Saya tetap nggak bisa."


Anha mulai berdiri dari posisi duduknya. Dia kesal bukan main dengan ini semua. Kenapa juga dia harus menemani Sean. Dikira tidak ada kerjaan apa!


Hans tidak percaya jika Anha sampai bersih keras menolak hal tersebut. Bahkan iming iming imbalan uang pun tidak mempan sama sekali.


"Padahal saya harap kamu mau, loh, buat nemenin ponakan saya."


‘Tau, ah, gelap!’ gerutu Anha dalam hati.


Pasti ini semua akal akalan si bocah tengil itu agar hidup Anha semakin repot saja.


Ketika Anha mulai melangkah hendak keluar dari ruangan. Pak Hans mengatakan sesuatu yang membuat langkak kakinya berhenti sesaat.


Bukan kalimat ancaman akan di pecat. Namun kalimat yang lain, yaitu Pak Hans mengatakan…


"Sean minggu depan udah nggak di Indo lagi. Dia mau saya kirim ke Singapura dan bakalan nerusin pendidikannya nanti di sana."


Anha terdiam kaku mendengar hal tersebut. Apa?


Sean akan pergi ke singapura?


Tapi...


Kenapa?...


Apa maksudnya ini semua?


Pak Hans mengangguk.


"Benar. Saya nggak bohong. Saya minta kamu nemenin Sean buat jalan jalan karena kamu salah satu orang yang deket sama dia setelah saya dan Omanya. Kamu juga orang yang paling berarti bagi dia."


Walaupun bocah itu sangat jahil. Tetapi hati Anha teyap saja tidak tega jika Sean tiba tiba pergi begitu saja. Hatinya seolah tercubit mendengar kenyataan tersebut. Ada rasa agak tidak rela jika dia pergi walaupun Anha sendiri menganggap Sean tidak lebih dari adiknya sendiri.


Apa jangan jangan tadi Sean datang ke ruangannya dan bermanja kepadanya dengan maksud memberitahu Anha jika itu adalah moment terakhir bagi Sean dengannya?


Akhirnya Anha mau duduk kembali dan mendengarkan penjelasan secara detail alasan dibalik itu semua.


"Bagi saya, Sean sudah saya anggap seperti anak saya sendiri. Tapi apa pun yang terjadi. Saya nggak bisa cerita detailnya kepada kamu. Saya cuma akan menjelaskan sekilas garis besarnya aja."


Pak Hans menggantung sejenak ucakapannya sambil menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya.


"Sean mau saya kuliahkan di NTU Singapura. Di sana pendidikannya lebih bagus. Dan di sana Sean juga bakalan ketemu dan dekat lagi sama mama kandungnya."


***


ig: mayangsu_