After Marriage

After Marriage
Syarat Nomor Tiga



"Eh, lha terus ini gimana? Anha, kan, belum selesai makannya," kata Lidya karena steak di piringnya dan piring Hasan masih banyak.


"A-aku juga pengin pulang," kata Anha agak terbata dan wajahnya kini terlihat pucat pasi karena masih ketakutan sekali.


"Eh, serius?" tanya Hasan karena Anha baru makan beberapa suapan saja.


Anha mengangguk, untuk menatap Hasan saja sepertinya dia tidak punya nyali sama sekali.


"Aku mau pulang. Aku nggak enak badan."


Hasan terdiam mendengarnya, bibir Anha juga terlihat  memucat padahal hal itu bukan karena benar benar sedang tidak enak badan.


Tapi melainkan karena terguncang atas semua hal ini.


Tangan Hasan bergerak menyentuh dahi Anha untuk mengecek apakah kekasihnya itu demam.


Hasan mengembuskan napas lega, untung tidak panas.


"Yaudah, yuk, kita pulang. Tapi temen kamu beneran nggak papa kalau kita tinggal gitu aja?"


"Eh, nggak papa, kok, San. Kasihan juga Anhanya lagi nggak enak badan kayak gitu, kan. Lagian aku juga mau pulang soalnya anakku pada di rumah kutinggal sama neneknya."


Hasan menangguk, kemudian membantu Anha berdiri. Sisil dan Lidya menatap punggung mereka bedua dari belakang ketika mereka berdua sudah berjalan menuju pintu keluar.


"Kasihan Anha, ya, Lid," kata Sisil dengan iba. Lidya hanya menganggukkan kepalanya prihatin.


"Semoga aja lakinya bisa nerima dia apa adanya."


Walaupun itu agak susah karena Hasan sudah mengultimatum hal seperti itu tadi.


Anha masih tampak murung, hal itu dianggap wajar oleh Hasan. Mungkin moodnya sedang tidak baik karena Anha sedang tidak enak badan.


Seperti biasanya, Hasan membukanan pintu mobilnya untuk Anha. Namun kali ini Hasan mengeryitkan dahi karena Anha tidak kunjung masuk juga ke dalam mobil dan malahan hanya berdiri mematung sambil mengusap lengan kirinya dan pandangan Anha masih tertunduk ke bawah.


"Ada apa, An?" tanya Hasan kepada Anha. Anha hanya menggelengka kepalanya.


"Hei."


Hasan menangkup wajah cantik kekasihnya itu menggunakan kedua telapak tagannya sehingga  Anha yang semula menunduk ke bawah kini menatap wajah Hasan seketika.


"Kamu kenapa sayang?"


Nggak papa, An. Hasan nggak akan tahu kalau kamu dulu kayak gitu. Yang penting kamu udah berubah. Lagian kamu, kan, udah janda, pasti Hasan nggak akan mempermasalahin tentang kamu yang udah nggak virgin lagi itu, kata Anha dalam hati.


Anha takut apabila dia mengatakan aibnya malahan Hasan mundur.


"Hasan… Kamu cinta, kan, sama aku?" tanya Anha sambil menatap Hasan dengan lembut.


Benar kata Mama, selama aku nggak bilang, maka hubunganku sama Hasan bakalan baik baik aja. Jadi aku nggak perlu khawatir akan hal itu.


Hasan tersenyum dan mengangguk.


"Jelas, dong, aku cinta sama kamu."


Anha merasa lega ketika mendengar hal tersebut secara langsung dari Hasan.


Anha bergerak memeluk tubuh Hasan dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang lelaki tersebut.


Hasan terkekeh dan mengusap lembut rambut Anha penuh kasih.


"Hasan…"


"Hmmm?" gumam Hasan pelan.


"Kamu masih inget nggak kalau syarat ketigaku waktu itu belum aku sebutin?" kata Anha sambil mendongak menatap Hasan yang masih dipeluknya itu. Menagih janji itu sekarang.


Hasan menganggukkan kepalanya.


"Syarat yang ketiga…"


Anha menghirup napasnya dalam dalam sebelum melanjutkan kembali ucapannya tersebut.


"Syarat yang ketiga… bisa nggak kamu nggak usah nanyain semua hal yang berkaitan sama masa lalu aku?"


Hasan mengeryitkan dahinya mendengar syarat terkahir dari Anha itu.


Apa maksudnya? Kenapa tidak boleh menanyakan segala hal tentang masa lalu Anha padahal, kan, dia wajib tahu karena dia adalah calon suaminya Anha.