
Meskipun Dewi dibalut dengan gaun malam yang mahal sekali itu, bahkan Anha dapat menebak harganya mungkin tembus lebih dari ratusan ribu—karena Anha juga tidak kolot kolot amat dalam dunia fashion. Tapi tetap saja, seburuk apapun perilaku seseorang tidak akan pernah menaikkan pangkatnya sedikitpun meskipun ditutupi kekayaan yang dipamerkannya.
Pria tukang selingkuh dengan wanita perebut suami orang. Enar benar pasangan yang sangat cocok dan romantis.
Busuk, ya, tetap saja busuk.
Bahkan dulu saja ketika Ikram masih menjadi suami sahnya Ikram tidak pernah sekalipun mengajak Anha ke acara pesta formal ataupun mengikuti perjalanan bisnis Ikram ke luar kota.
Anha tidak takut lagi menatap mereka berdua. Kini Anha dapat menangkap raut marah yang ketara dari mimik wajah Dewi yang berhadap hadapan dengannya itu.
Tangan Dewi tampak mengepal erat, rahangnya mengeras dan bibirnya juga tampak membentuk satu garis lurus menahan emosi yang ditahannya sekuat tenaga agar tidak meluap.
Dua orang ini…
Semakin lama dilihat semakin tampak memuakkan.
"Anha…" Hasan merangkul pinggang Anha dengan lembut, mencoba mengkode halus kekasihnya itu agar mau menjabat tangan dari tamu pentingnya tersebut karena bagaimana pun Hasan merasa agak tidak sopan saja jika membiarkan tangan investornya itu menggantung di udara sejak tadi.
Anha tersenyum pongah, alih alih menjabat tangan yang seolah tidak lelah terulur menunggu jabatan tangan dari Anha sejak tadi, kini bukannya menjabat Anha malan bergerak melipat tangannya di depan dada.
Kali ini dan seterusanya… Anha tidak boleh lagi terlihat lemah di depan Ikram dan Dewi, dia tidak boleh kalah lagi! kata Anha dalam hati menyakinkan kepada dirinya sendiri.
Anha hanya menatap tangan Ikram tanpa ekspresi sama sekali.
Dia tidak sudi menjabat tangan mantan suaminya tersebut. Persetan dan bodo amatlah, Anha tidak peduli lagi tentang status Ikram yang menjadi investor di perusahaan ini.
"Aku nggak mau jabat tangan itu," kata Anha dengan nada datar dan menatap Ikram dengan sorot mata tajam.
Hal itu seketika membuat dahi Hasan yang mendengarnya mengeryit tidak paham tentang apa maksud dari Anha tersebut.
Anha semakin menatap lurus ke arah Ikram. Mata bertemu mata. Menatapnya dengan penuh rasa benci yang ketara seolah ada bara api di netra cokelat wanita tercantik yang pernah ia temui itu. Bahkan Ikram dapat merasakan atmosfer dari mata cokelat gadis yang dulu amat dicintainya itu seolah tatapan hangat dan memuja yang dulu sering ia dapatkan kini sirna sudah tak berbekas.
“Anha maksud kamu apa?” tanya Hasan dengan lembut kepada kekasihnya tersebut, Hasan merasa agak enak hati apalagi kini tangan Ikram masih menunggu uluran tangan Anha.
"Aku jijik. Lagian aku nggak mau kalau anjingnya nanti marah," kata Anha dengan sarkastik membuat ketiga orang yang berada di situ tercengang dengan ucapan Anha yang tak terduga tersebut. Untung saja di sini hanya ada mereka bertiga, jika ada kolega lain, mana mungkin Anha berani mengatakan hal tersebut kepada Ikram dan Dewi.
Lalu…
***