After Marriage

After Marriage
Perlakuan Manis



Lelaki berkacamata minus tersebut keluar dari ruangan, dia mengatakan akan memanggilkan teknisi agar komputerku cepat ditangani.


Aku hanya terdiam lesu melihat layar komputer yang berwarna hitam penuh tersebut.


Selang beberapa menit berlalu, akhirnya lelaki teman sebelah kubikelku datang.


"Pihak teknisinya lagi benerin jaringan di Gedung B. Ini orang kayaknya bisa bantu sementara," kata laki laki berkacamata bulat minus tersebut ketika datang dengan seseorang di sebelahnya yang katanya dapat menolongku membenarkan komputer ini yang mati.


Orang itu adalah...


SEAN!


Hah, ternyata orang tersebut adalah Sean. Aku mengeryitkan dahi. Benarkah Sean bisa membetulkan komputerku?


Dia, kan, bocah ingusan. Mana tahu dia soal beginian.


Kalau tahu seperti ini. Lebih baik aku menggunggu pihak teknisi saja.


Tetapi aku merasa ada yang aneh dari Sean. Hari ini dia kelihatan sangat murung dan terlihat sedang tidak semangat sama sekali.


Apa dia sedang ada masalah, ya?


Aku malahan jadi penasaran sekali dengan dirinya.


"Minggir bentar, aku yang benerin," kata Sean kemudian mulai mencopot kabel CPU dan kabel monitor pada stopcontact lalu dia mengeluarkan alat-alat dari dalam tas kecilnya yang tadi sempat ia bawa.


Sean berkutat melapaskan skrup pada CPU tersbut dan aku tidak tahu apa yang saat ini sedang ia lakukan. Aku hanya duduk manis di kursiku dan mengamatinya dengan saksama.


Kalau dilihat lihat, Sean tampan juga. Apalagi kalau sedang serius ini. Ditambah lagi dia sedang mengenakan jas lab jurusannya yang berwarna perpaduan dari orange dan hitam semakin terlihat keren sekali di mataku.


Andai saja Sean tahu jika saat ini aku mengaguminya pasti dia akan besar kepala dan langsung menggencarkan gombalan gombalan khas dirinya itu dengan senyuman jahil khas dirinya.


Sean masih saja sibuk dengan CPU itu. Aku bisa memandangi wajah seriusnya dengan berlama lama tanpa harus takut ketahuan olehnya.


Hampir dua puluh menitan akhirnya Sean selesai memperbaiki komputerku.


"Minggir dulu kalau gamau kesetrum," katanya dengan ketus ketika dia hendak menyalakan kabel tersebut. Aku memanyunkan bibirku dan membiarkan Sean yang mengurusinya saja.


Dan ternyata benar! Akhirnya komputerku dapat menyalan kembali. Bahagianya aku! Aku bertepuk tangan girang bukan main dan berkali kali mengucapkan terima kasih kepada Sean.


"Makasih, ya, Sean ganteng," kataku sambil tersenyum lebar sekali tetapi respon Sean hanya diam saja membisu tanpa mau menjawab ucapan terima kasihku dengan wajah tengilnya yang biasanya ia tampilkan di depanku.


"Huk um."


Hanya itulah balasannya sambil memasukkan kembali alat alatnya yang tadi digunakannya untuk memperbaiki komputerku.


Sebenarnya. Anak ini kenapa, sih? Kenapa mendadak cuek seperti itu? Aku bersedekap dada dan masih dongkol bukan main ketika melihat punggung anak itu semakin berjalan semakin menjauh saja dan pada akhirnya dia keluar dari ruangan ini.


Awas saja nanti kalau dia menggodaku atau menggencarkan kalimat gombalan dengan wajah tengilnya yang biasa ia lakukan kepadaku.


Aku mencercau dalam hati. Bersumpah serapah sendiri. Kemudian tangan kananku meraih mouse-ku kembali dan mulai mengerjakan kembali tugasku yang tadi sempat tertunda itu.


Tetapi anehnya aku masih saja kepikiran dengan anak itu.


Kalau dipikir pikir apa dia sedang ada masalah, ya? Sebelumnya dia tidak pernah bertingkah laku aneh seperti itu.


Mulai dari menampilkan ekspresi sedih di parkiran tadi pagi. Tidak tersenyum ke padaku. Mengabaikan diriku. Tidak menggombaliku. Hari ini ekspresi tengilnya seolah hilang.


Aku mengembuska napas berat dan mulai berpikir positif thinking saja, lah. Mungkin dia memang sedang membutuhkan waktu sendirian dulu.


Dan apa pun masalah Sean itu. Aku harap. Dia bisa segera menyelesaikan masalah yang sedang ia hadapi tersebut.


Aku berkutat kembali dengan pekerjaanku yang masih belum juga selesai. Dan sialnya aku harus mengulanginya dari awal lagi karena file yang tadi kuketik ternyata tidak tersimpan secara otomatis.


Perutku sudah keroncongan. Ternyata jam sudah akan memasuki detik detik jam istirahat makan siang.


Beberapa orang sudah berlalu meninggalkan meja kerja mereka.


"Makan bareng, yuk, An," tawar Sisil tetapi aku terpaksa kutolak karena aku sudah janji makan bersama dengan seseorang.


"Sorry, Sil. Kayaknya nggak bisa, deh, akunya. Soalnya aku udah janji makan bareng sama seseorang," kataku menolaknya dengan halus.


"Hah, sama siapa? Kamu, kan, anak baru di sini. Mana mungkin kamu udah punya kenalan selain aku?" tanya Sisi sambil meneryitkan keningnya.


"Serius. Aku udah janjian makan bareng sama seso--" kataku terputus ketika orang yang aku maksud itu datang ke ruangan ini sambil tersenyum lembut.


Hasan.


Kenapa juga dia selalu mengenakan kaca mata ketika di kantor? Tampan. Bikin jantungku berdegub saja.


Tapi rasa jantung yang berdetak kini sirna berganti dengan rasa kesal ketika mengingat kembali Bella--gadis cantik yang tadi pagi bertemu denganku di lift kantor.


"Hah gila! Serius makan siang sama Pak Hasan? Buset!" kata Sisil dengan tidak percaya jika ternyata aku kenal dan hendak makan siang bersama dengan Hasan. Sisil berbisik pelan kepadaku sambil menyikut pelan lenganku.


"Gila kamu, An, bisa kenal dan deket sama Pak Hasan. Pake susuk apa kamu," kata Sisil dengan memelas sekali membuatku menutup mulut menahan terkikik geli.


Susuk dari Hongkong!


Sisil kemudian bergerak mundur satu langkah ke belakang ketika Hasan saat ini sudah mendekatiku.


"Yuk, jadi, kan, makan siang bareng. Aku mau ngajak kamu ke kafe yang enak deket sini," kata Hasan sambil mengulurkan tangannya.


Aku mentapnya, menatap netra hitam miliknya. Tetapi selang beberapa menit kemudian aku membuang muka ketika mengingat kata-kata Bella, "Kami akhir tahun nanti mau liburan bareng," membuatku mengembuskan napas kesal. Kalau memang dia sudah memiliki pacar, kenapa juga dia mendekatiku?


Semua lelaki sama saja.


"Yuk," ulangnya. Namun Hasan kemudian terdiam sesaat, dia tetap dapat membaca raut aneh pada wajahku. Kemudian dia menyentuh daguku dan menggerakkanya pelan hingga kini mata kami bertatapan kembali.


"Kenapa? Kok, wajahnya kusut kayak gitu?" tanyanya.


"Gapapa."


"Berarti kenapa-napa," katanya sambil tersenyum. Dan sialnya. Hatiku meleleh. Tapi pesonanya buru buru kuhapus.


Aneh juga kalau aku cemburu kepadanya. Kan, pada kenyataanya kita bukan siapa-siapa.


Fakta itu membuat jantungku agak ngilu.


"Jadi, kan, makan siang?"


Aku mengalah, mengangguk, kemudian menerima uluran tangannya dan menggandeng dirinya.


Hitung-hitung sebagai utang makan waktu itu. Bagaimanapun janji adalah utang, dan wajib di tepati.


Sesampainya di puntu luar ruangan admin aku melepaskan tanganku yang tadi menggandengan Hasan karena tida enak jika dilihat orang lain. Lagi pula aku tadi menggandeng lengan hasan hanya karena aku ber akting ber pura pura menggoda sisil.


Sesampainya kami di luar gedung, Hasan membukakan pintu mobilnya untukku dan tersenyum lembut kepadaku. Aku membalas senyumannya.


Aku paling suka diperkakukan seperti ratu, seperti ini contohnya. Meskipun hanya tindakan kecil. Tapi aku merasa tersanjung akan perlakuannya itu.