After Marriage

After Marriage
Bertengkar Hebat



"Apa maksud ini semua, Mas! Kenapa ada foto Anha di sini!" teriak Dewi dengan keras sambil menangis.


Ikram terdiam, tidak bisa berkata apa apa karena semua ini memang kenyataannya.


Memang benar, serapat apapun seseorang dalam menyembunyikan sesuatu. Pasti akan tercium juga.


Ikram memejamkan matanya sejenak, memijit dahinya karena kepalanya terasa pusing dadakan.


“Jadi ini alasan kamu, hah, nggak ngizinin aku masuk ke sini karena di sini kamu nyimpen foto mantan istri kamu, Mas?! Tega banget, ya, Mas kamu ngelakuin ini sama aku!” teriak Dewi sambil kedua tangannya mencengkeram kaos suaminya tersebut.


Dewi menangis sedih, dia merasa diselingkuhi atas perbuatan Ikram tersebut. Seolah dia tidak ingat saja tentang bagaimana rasa sakit yang dulu dirasakan oleh Anha ketika memergoki dirinya yang berselingkuh dengan Ikram di hotel kala itu.


“Jawab, Mas! Kenapa kamu cuma diem aja! Jelasin ini semua ke aku,” kata Dewi sambil terisak dan memukul dada Ikram menuntut sebuah penjelasan.


Ikram tahu, lambat laun pasti ini semua akan terbongkar juga. Ya sudah, karena dia sudah ketahuan maka lebih baik sekarang Ikram blak blakan saja mengatakan semuanya kepada Dewi.


Ikram melepaskan cengkeraman tangan Dewi pada kaos depannya dan memegangi tangannya agar tidak memukulnya lagi. Namun ditepisnya dengan kasar oleh Dewi.


“Iya. Yang kamu lihat ini bener. Aku emang sengaja ngunci ruangan ini dan nggak ngebolehin siapapun buat masuk karena ada foto Anha di sini.”


Dewi tidak percaya dengan apa yang baru saja suaminya itu katakan. Bahkan Ikram mengatakannya dengan fasih sekali seolah tidak memiliki dosa sama sekali.


“Kamu gila, ya, Mas.”


Dengan mata yang memerah dan terasa perih, Dewi menatap suaminya dengan perasaan yang hancur bukan main dari dalam.


“Iya. Udah nggak ada lagi yang perlu aku sembunyiin dari kamu,” kata Ikram sambil membungkuk untuk mengambil foto Anha yang di simpannya di meja kerjanya.


Foto yang biasanya dipandanginya ketika ia selesai mengerjakan tugas kantornya.


Bukan hanya itu yang membuat perasaan Dewi semakin sakit dan hancur berkeping keping.


Kalimat penjelasan lanjutan yang keluar dari bibir suaminya itu seolah berubah menjadi belati yang tak kasat mata yang menusuk hati Dewi paling dalam.


“Aku masih cinta sama Anha. Aku nggak bisa ngelupain dia.”


Tangis Dewi kini semakin terisak. Bagaimana mungkin suaminya mengatakan hal tersebut kepadanya? Mengatakan jika dia mencintai wanita lain terang terangan secara langsung seperti ini.


Bahkan rasanya lebih baik tadi Dewi tidak memasuki ruangan ini saja. Maka dia pasti tidak akan sakit hati.


Ikram tidak memedulikan Dewi yang menangis dan berteriak tidak terima di depannya itu.


Dia malahan lebih memedulikan ruangannya yang kini berantakan bukan main ini.


Soal perasaan dan ketidak terimaannya Dewi karena dia masih menyukai Anha, itu bukan urusannya. Ikram tidak peduli.


Ikram menggaruk kepalanya. Menatap ke arah sekitar.


Sial. Habis ini dia harus meminta Siti untuk membereskan kekacauan yang istrinya itu perbuat.


“Aku lagi ngomong sama kamu, Mas!” teriak Dewi memekikkan telinga Ikram. wanita ini benar benar berisik sekali.


“Kenapa, sih?” kata Ikram dengan lelah. Satu masalah belum selesai, kenapa juga hadir masalah yang lainnya.


“Aku istri kamu, Mas. Kenapa kamu ngelakuin ini sama aku? Aku nggak terima, Mas, kamu giniin aku?”


Dewi memegangi dadanya yang terasa amat sakit dan sesak sekali.


Padahal dia berharap Ikram tidak akan setidak peduli itu terhadapnya. Dewi berharap Ikram memeluknya atau mengatakan maaf dan memohon kepadanya.


Tapi kenyataannya Dewi terlalu muluk muluk sekali.


Alih alih meminta maaf ataupun memeluk Dewi. Ikram malahan mengatakan kalimat yang bukannya menjadi pereda atas rasa sakit hatinya tetapi malahan mengucapkan kalimat yang semakin menyakitinya saja.


“Terus gimana? Kamu nggak terima?”


“Ya, jelas aku nggak terima, Mas! Mana ada istri yang terima kalau suaminya suka sama jalang kayak dia!”


Ikram menatap Dewi yang masih menangis tersebut dengan tatapan tajam dan rahangnya mengeras. Seolah tidak terima jika Dewi mengatai Anha dengan kalimat kasar seperti itu.


“Terus kalau kamu nggak terima, kamu mau apa? Mau cerai, gitu?”


Akan sangat bersyukur bagi Ikram apabila Dewi mengiyakan perkataannya itu.


***