
Rencana liburan kami sebagai hadiah ulang tahunku ditunda sejenak.
Hari ini Ikram akan melakukan penerbangannya ke Bandung pukul delapan pagi, tetapi sudah sejak pukul setengah tujuh pagi aku sudah cekatan mempersiapkan apa saja yang hendak dibawanya selama dua Minggu di Bandung nanti.
Jariku sibuk mencentang apa saja barang yang sudah kumasukan ke dalam koper, terkadang aku memilah-milah lagi apa saja barang yang sebenarnya tidak di perlukan agar barang bawaannya tidak kebayakan.
Ikram muncul dari arah belakangku kemudian ia memelukku dari belakang. Aku mencium aroma shampo strowberry yang tadi ia gunakan untuk keramas membuatku tersenyum sendiri.
Setelah itu Ikram duduk di pinggiran ranjang dan mulai mengenakan kemeja putihnya.
Aku meliriknya dari samping.
Uh, dia ini tampan sekali, apalagi rambutnya masih acak-acakan karena habis ia keringkan dengan handuk tadi kini terlihat begitu seksi dan fresh secara bersamaan.
Dua minggu lagi...
Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Mengusir pikiran mesumku yang barusan hadir.
"Masak, sih, aku nggak boleh ikut? Biasanya, kan, kalau para suami lagi keluar kota karena bisnis. Istri mereka juga diajak, kok," rengekku dengan manja kepadanya. Ikram hanya tersenyum manis menanggapi perkataanku barusan. Kemudian dia menarik tangan kiriku dan mencium lembut punggung tanganku membuat pipiku memanas.
"Habis ke Bandung kamu mau kita liburan ke mana? Aku bakalan bilang ke Aami buat ngosongin jadwalku biar kita bisa liburan bareng."
Senyumku mengembang lebar sekali mendengar hal barusan. Ikram pun juga senang melihatku sebagaia ini.
"Aku... Aku pengin ke Maldives, atau kalau nggak, ya, ke Hawaii. Aku suka pantainya," kataku mengkode Ikram. Maldives dan Hawaii adalah surga yang ingin aku kunjungi. Tempat di mana kami gagal melakukan honeymoon waktu itu. Aku berharap Ikram mau mengajakku ke sana.
Mimpi yang belum terwujud selama kami menikah. Maldives.
Ikram seolah mengerti makna tersirat dari perkataanku barusan, kemudian dia mengangguk menyanggupi permintaanku.
"Aku janji nanti habis pulang dari Bandung kita bakal liburan ke Maldives, Sayang."
Ikram memejamkan mata kemudian menciumi tanganku berulang kali. Kenapa dia bisa semanis ini. Tangan kananku yang bebas kemudian menangkup pipiku sendiri yang kuyakini saat ini sudah berwarna semerah tomat yang sudah matang.
Setelah itu aku berjalan mengambilkan sepatu Ikram yang tadi subuh sudah kusemir. Semua barang keperluannya sudah kumasukkan ke dalam koper. Kami berjalan beriringan menuruni anak tangga sampai menuju pintu depan.
Entah mengapa terbesit rasa tidak rela jika dia harus pergi meninggalkanku selama dua Minggu kedepan. Pasti aku begitu merindukan suamiku ini.
Ikram tersenyum kemudian mencium keningku dengan lembut.
"Hati-hati, ya. Jaga diri juga," kataku sambil melambai di saat Ikram mulai berjalan sambil menyeret koper hitamnya hendak menuju mobil. Ikram tersenyum sambil membalas lambaianku.
"Ikram!"
Aku berteriak kemudian berlari dan memeluknya erat. Ah, perpisahan dengan suami memang hal yang begitu menjengkelkan. Pasti aku akan begitu merindukan dirinya.
"Cepet pulang, ya. Aku bakalan nungguin kamu, Mas," kataku tertahan di dada bidangnya. Ikram mengusap sudut mataku yang basah, aku tidak rela akan kepergiannya.
"Aku janji bakalan cepet pulang. Dan aku pasti bakalan ngerinduin kamu, Sayang."
"Janji?" kataku sambil menaikkan jari kelingkingku. Ikram tersenyum dan mengangguk kemudian dia mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingkingku.
Tangan kanannya melepaskan pegangan koper lalu menyentuh daguku, lalu kemudian Ikram mencium bibirku lembut. Aku memejamkan mata menikmati ciuman kami berdua.
Tetapi tak ayal kami tetap harus menyudahi ciuman hangat ini, aku tidak bisa menahannya lama-lama atau dia akan ketinggalan pesawat.
Aku, yang saat ini hanya mampu berdiri di teras rumah menatap kepergiannya sampai dia kembali dua Minggu lagi.
Entah mengapa hari ini aku merasakan kesepian dan kekosongan secara bersamaan. Padahal, kan, tiap hari Ikram juga jarang di rumah dan lebih sering menghabiskan waktunya di kantor.
Dia selalu berangkat pukul setengah delapan pagi dan pulang pukul tujuh malam karena harus lembur. Lalu kenapa aku bisa merasa serindu ini?
Seharian penuh aku hanya santai-santai saja.
Mau memasak pun juga malas karena tidak ada Ikram juga.
Hari ini tugas memasak aku serahkan kepada siti. Ah, biarlah aku bersantai sejenak. Toh, selama ini aku juga sudah sering melakukan tugas rumah. Apa salahnya jika aku mengambil waktu dua minggu ini untuk bersantai ria.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Kini aku hanya tiduran saja di sofa sambil mengganti chanel televisi seperti saat biasanya aku menunggu suamiku pulang dari kantor.
Ketika aku sedang serius menyaksikan film di TV, ponselku berbunyi, awalnya kupikir itu pesan masuk dari Ikram, ternyata buka, pesan masuk tersebut berasal dari nomor tak kukenal.
Aku mengeryit dan mulai menekuri ponselku.
089928839121: An, ini aku Lidya.
Aku mengembuskan napas lega. Kupikir tadi pesan dari si Rudi gila yang dulu pernah menerorku. Maklumlah, sejak kejadian mengerikan itu aku jadi mudah paranoid jika mendapatkan pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.
Aku menyimpan nomor Lidya di kontakku.
Anha: Ya, ada apa?
Balasku mengiriminya pesan balik.
Lidya: Anu, sebelumnya aku mau tanya ke kamu. Kamu udah cerai, ya, sama suamimu? Atau kalian lagi berantem gitu?
Keningku mengernyit. Apa maksudnya dia bertanya seperti itu kepadaku?! Aku dan suamiku baik-baik saja, kok! Bahkan akhir-akhir hubungan kami malah semakin membaik.
Napasku berembus cepat, tanpa basa-basi aku langsung menelepon nomor Lidya. Bahkan aku tidak mengucapkan basa basi seperti kebanyakan orang lain ketika menelepon seperti kata 'Halo' ataupun kalimat salam lainnya. Mungkin efek karena aku sedang diselimuti emosi.
"Maksudmu apa?"
Kataku to the point kepada Lidya melalui telepon.
"Duh! Bu-bukan gitu maksudku..."
Lidya tampak gagap dari seberang sana.
"Um... Barusan a-akuku lihat suamimu di hotel Patra, An."
Mataku membulat penuh mendengar ucapan Lidya. Seolah baru saja ada gada besar yang menghantam kepalaku membuatku syok seketika.
***
Tapi tunggu dulu! Bisa jadi Lidya saat ini sedang mengecohku dan mengarang-ngarang cerita tersebut, bukan? Dia, kan, orang jahat! Pasti dia iri kepadaku karena hidupku lebih beruntung daripada dirinya dan aku mendapatkan suami yang menyayangiku! Bukan seperti suaminya yang menelantarkannya.
Iya! Aku yakin dia pasti sedang ingin merusak hubunganku dengan Ikram yang sedang baik-baiknya saat ini.
Mana mungkin juga Ikram bisa ada di hotel Patra! Orang dia sedang perjalanan bisnis ke Bandung, kok!
Pasti Lidya salah lihat! Dia, kan, gadis picik!
"Mungkin kamu salah lihat, Lid. Suami aku lagi perjalanan bisnis ke Bandung. Jadi nggak mungkin banget kalau dia lagi hotel Patra!"
Telingaku mendengar suara decakan kesal dari seberang sana.
"Nggak mungkin banget aku salah lihat! Soalnya bukan cuma sekali ini aku lihat Pak Ikram ada di sini, An! Tapi aku sering lihat Pak Ikram bolak-balik nginep di sini. Makanya itu aku tanya ke kamu apa kamu udah pisah sama dia atau lagi ada masalah sama dia?"
Jantungku seolah copot mendengar hal barusan. Dengan refleks aku berdiri dari posisiku yang semula tiduran di sofa.
Tubuhku kaku membeku. Tidak mungkin! Pasti Lidya berbohong! Tidak mungkin suamiku sering menginap di hotel Patra! Suamiku adalah orang yang baik dan selalu mencintaiku begitu tulus. Lidya pasti salah lihat! Lidya pasti sedang mengarang-ngarang cerita!
Dengan kesal aku mematikan panggilan telepon dari Lidya. Ponselku berbunyi lagi dan terlihat Lidya mencoba menghubungiku kembali.
Aku menggeleng. Aku lebih mempercayai suamiku daripada temanku yang dulu pernah memiliki niat jahat mengenalkanku kepada orang yang hampir memperkosaku.
Dia pasti hanya ingin merusak rumah tanggaku yang saat ini sedang harmonis-harmonisnya.
Aku berjalan modar mandir dan menggigit kuku ibu jariku, risau. Tetapi bagaimanapun tetap saja terbesit rasa curiga di sisi hatiku yang lainnya.
...Nggak mungkin banget aku salah lihat! Soalnya bukan cuma sekali ini aku lihat dia di sini, An. Tapi aku sering lihat Pak Ikram bolak-balik nginep di sini. Makanya itu aku tanya ke kamu apa kamu udah pisah sama dia atau lagi ada masalah sama dia?...
Aku memejamkan mata mengingat kata-kata dari Lidya barusan yang saat ini menginang di semua rongga otakku.
...Soalnya bukan cuma sekali ini aku lihat dia di sini, An. Tapi aku sering lihat Pak Ikram bolak-balik nginep di sini...
Aku menelan ludahku. Ba-bagaimana jika itu semua benar adanya?
Aku menatap kembali layar ponsel yang penuh dengan lima panggilan tidak terjawab dari Lidya dan tiga pesan masuk darinya.
Aku mengabaikan sejenak notifikasi tersebut dan buru-buru mencari satu nama di kontakku dengan teliti.
Aami!
Aku men-dial nomor Aami--sekretaris pribadi Ikram di kantor yang sudah berumur empat puluh lima tahun dan sudah memiliki dua anak, satu SMA dan Satunya lagi SMP. Aku tahu Aami tidak mungkin akan berbohong.
Aku tidak boleh gegabah dan suuzon terlebih dahulu kepada suamiku. Kepalaku harus tetap dingin. Aku harus memastikan kabar burung itu dari Aami. Pasti dia tahu semua jadwal Ikam dengan detail. Sehingga kini posisiku harus netral--tidak menyalahkan Ikram terlebih dahulu, dan tidak langsung percaya dengan ucapan Lidya barusan.
Aku menggigir kukuku panik berharap Aami untuk sesegera mungkin mengangkat panggilanku. Aku mengembuskan napas lega ketika suara dari seberang sana menjawab panggilan teleponku.
"Halo. Selamat siang, Ibu Anha. Ada yang bisa saya bantu?" kata Aami dengan sura ramah seperti suara customer service.
"Um.. A-Aami," kataku terbata. Aku mencoba menetralkan napasku terlebih dahulu.
"Iya, Ibu. Ada perlu apa, ya, kalau boleh saya tahu?"
Aku memejamkan mata, setelah itu aku mengembuskan napas melalui mulutku. Aku tidak ingin Aami mengetahui kepanikanku ataupun mengetahui ada nada sumbang di antara suaraku agar dia tidak curiga.
"Aami. Pak Ikramnya ada? Saya mau bicara sebentar sama Bapak. Ada hal penting dan Hpnya lagi tidak aktif," kataku berbohong untuk mengujinya.
"Eh?" Aami menggantung ucapannya sejenak. Nampak sedang mempersiapkan untuk menyambung kata-katanya lagi. "Um... bukannya Bapak hari ini tidak berangkat, ya, Bu? Jadwalnya juga kosong karena Bapak memang sedang mengambil cuti panjang. Bukannya Ibu istrinya? Masak Ibu tidak tahu kalau suaminya tidak berangka--" suara Aami menghilang di ujung ucapannya. Mungkin karena Aami baru saja keceplosan mengatakan keanehan kenapa aku yang statusnya sebagai Istri sahnya saja tidak tahu jika suamiku hari ini tidak berangkat kerja.
"Halo, Bu," kata Aami dari seberang karena aku tidak menjawab ucapannya.
"A-Aami. Kalau boleh tahu, bisa tidak bantu saya untuk mengecekkan jadwal Bapak? Perjalanan Bapak ke Bandung hari apa, ya? Saya pengin ngasih surprise ke suami saya buat ngajak dia ke rumah Mama saya secara diam-diam, tapi takutnya nanti kalau malahan bentrok sama jadwalnya ke Bandung, Aami," kataku dengan hati-hati.
Aku menelan ludahku. Salah ucap sedikit saja aku bisa membuka aib suamiku atau memercikan api yang bisa menimbulkan kebakaran hebat. Aku tidak ingin Aami sampai curiga sedikit pun kepadaku.
Bagaimanapun aib suamiku aibku juga, sekecil apapun kekurangannya harus aku tutupi dengan rapat dan jangan sampai orang lain tahu.
Karena aku ini istrinya.
"Baik. Tunggu sebentar, ya, Bu. Akan saya cekkan jadwalnya."
Hening sesaat di seberang sana. Mungkin saat ini Aami sedang membuka buku jadwal kegiatan Ikram dan mencari kegiatannya.
"Halo, Ibu. Jadwal keberangkatan Bapak Ikram ke Bandung masih bulan depan, Bu. Tepatnya pada pertengahan bulan September nanti."
Mataku membulat penuh mendengar hal tersebut, aku menutup mulutku tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Jantungku seolah berhenti berdetak, aku benar-benar tidak percaya dengan ini semua.
Ikram membohongiku...
Perjalanannya ke Bandung bukan hari ini, tetapi masih bulan depan.
Lalu tadi pagi...
"Halo," kata Aami di seberang sana.
"I-iya. Te-terima kasih, Aami," kataku menjawab perkataan Aami sambil terbata.
"Sama-sama Ibu. Bapak Ikram bilang... Bapak mengambil cuti dua minggu ini untuk berlibur dengan Ibu ke luar negeri. Selamat menikmati liburannya, Bu Anha," kata Aami dengan nada lemah lembut sebelum mengakhiri panggilan teleponku.
Aku mematung mendengarnya.
Liburan keluar negeri?
Dua minggu?
Denganku?
Kenapa... Ikram berbohong?
Apa jangan-jangan dia benar-benar selingkuh dariku? Aku hendak menelepon nomor Ikram untuk menghubunginya namun jariku terhenti sesaat untuk membuka pesan dari Lidya terlebih dahulu.
Pesan pertama dari Lidya:
Lidya : Aku ngomong kayak gini karena gimanapun kamu itu temen aku, An. Soalnya nggak sekali dua kali aku berpapasan sama Pak Ikram di hotel Ini. Mending kamu ke sini aja, deh. Takutnya mungkin emang akunya yang salah paham dan salah lihat.
Pesan ke dua:
Lidya mengirimiku sebuah pesan gambar. Aku menekan dan memperbesar gambar tersebut yang sepertinya Lidya ambil secara diam-diam karena hasil jepretannya agak buram.
Tetapi meskipun begitu aku bisa melihat seorang pria mengenakan setelan jas kerja dan menggandeng pinggang seorang perempuan dengan mesra. Walaupun dari belakang aku tetap bisa melihat gesture lelaki tersebut memang mirip sekali seperti Ikram. Tidak mungkin!
Pesan ketiga:
Lidya : Aku ngambil foto itu diem-diem. Maaf, ya, An. Aku nggak ada niatan apa-apa. Kamu itu temen aku. Mending kamu cepetan ke sini, deh.
Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, aku menuruti perkataan Lidya dan langsung segera menyuruh supir pribadiku untuk mengantarkanku ke hotel Patra saat ini juga.