
“Inget pacar, Sil!” kata Anha sambil menjentikkan jemarinya dan menjitak dahi Sisil dengan pelan, membuat Sisil memanyunkan bibirnya sambil mengusap bekas jitakan Anha di dahinya
“Tapi ganteng bingit tahu, An. Lakikku nggak seganteng itu,” jawab Sisil sambil memanyunkan bibirnya.
Anha terkekeh. Ada ada saja si Sisil ini.
“Udah ah, aku duluan, ya, Sil. Mumpung masih ada waktu buat makan siang di luar.”
“Ah, tapi An nomornya…”
Anha mencoba melepaskan dirinya dari gelayutan Sisil pada lenganya.
“Udah ah, Kasihan Hasan udah nungguin.”
“Ah Anha nggak seru, mah.”
Anha mengembuskan napas lelah. Sisil itu sudah punya pacar, lho. Masih saja cari cari lagi.
“Dua pacar itu lebih baik, An,” kata Sisil sambil menyengir senang seolah dapat menebak apa yang ada di pikiran Anha.
“Iya-iya. Nanti aku maintain nomornya ke Hasan, deh,” kata Anha dengan cemberut karena ditahan tahan melulu oleh Sisil. Sisil senang bukan main. Dia menganggukan kepalanya dengan cepat dan mempersilakan Anha untuk berjalan.
Ketika Anha hendak melewati pintu keluar ruangan. Sisil memanggilnya dari belakang.
“Eh, An. Besok jadi, ya, hang out sama Lidya. Jangan lupa lho!” teriak Sisil dari kubikelnya. Anha menganggukan kepala. Tentu saja ia tidak akan lupa kalau besok adalah jadwal hang out mereka bertiga setelah bertahun tahun tidak bertemu.
“Tambahan, An. Jangan lupa, ya, ajak si Hasan juga!”
Ketika Anha sudah berlalu. Sisil buru buru mengambil ponselnya dan mengirimi pesan kepada Lidya.
Sisil: Berhasil, Lid. Semoga aja besok berjalan dengan baik! ketik Sisil pada ponselnya.
Sisil menatap ke arah pintu ruangan. Menatap bekas bayangan Anha tadi sambil bergumam pelan sendiri dengan wajah yang semula ceria kini berubah cemberut.
“Sorry, ya, An. Ini semua demi kebaikan kamu.”
***
Anha mengibaskan tangannya mengusir rasa pengap di dalam lift ini. Ditambah banyak orang di dalamnya membuat ruang kotak ini terasa bagai open manusia yang sangat panas saja. Tetapi Anha mengembuskan napas lega ketika lift berdenting dan pintunya terbuka.
Hasan harus membayar makan siang yang mahal karena membuatnya harus menemuinya di ruangannya.
Ketika Anha berjalan ke ruangan Hasan. Anha mengeryit ketika melihat Hasan yang baru saja menutup ruangannya. Dan kebetulan sekali Bella ada di sini.
Uh, rasanya berasap kepala Anha karena kesal bukan main!
“Hasan Hasan… Kamu udah makan belum? Kebetulan, nih, aku bawain bekal buat kamu. Makan bareng, yuk, San” kata Bella dengan sok imutnya sambil membelakangkan anak rambutnya ke belakang telinganya.
Awas saja, ya, kalau Hasan bilang iya! Anha akan marah dan tidak mau bertemu lagi dengan dirinya apabila sampai Hasan kepincut dengan rayuan Bella yang recehan itu.
Anha mengepalkan tangannya erat erat karena tampak Hasan terdiam sejenak di depan sana. Apa jangan jangan Hasan sedang berpikir apakah dia mau menerima bekal Bella atau tidak?! Huh jangan sampai, ya!
Tidak boleh! Anha, kan, tidak kalah cantiknya daripada si Bella itu! Anha memiliki hak penuh untuk mempertahankan calon suaminya itu dari wanita lain agar tidak direbutnya. Kalau mau bersaing, mari bersaing. Anha kali ini tidak akan takut lagi kepada Bella.