
"An, kamu suka, ya, sama Hasan?" tanya Bella sambil mentap Anha dengan saksama. Anha hanya mampu terdiam sejenak ketika Bella menanyakan hal tersebut kepadanya. Anha menimang nimang sejenak hendak menjawab apa pertanyaan Bella barusan.
Sesekali Anha tampak menelan ludahnya. Itu pertanyaan yang teramat sulit bagi Anha. Anha dilema. Karena pada dasarnya menjawab jujur pertanyaan tersebut pun salah, berbohong pun salah juga.
Suka dengan Hasan? Anha tidak munafik, Hasan adalah pria yang baik, kariernya juga sudah mapan, dia juga sangat dewasa. Bohong sekali jika Anha tidak menyukainya. Semua perempuan pasti menginginkan lelaki yang seperti itu, bukan?
Tetapi melihat jiwa persainga Bella yang tinggi itu. Nyali Anha seolah menjadi ciut. Dia tidak ingin berkonflik dengan siapapun. Lebih baik menyukai pria yang 'single' tanpa ada persaingan dengan wanita yang menyukainya daripada bersikeras menyukai lelaki yang sudah disukai wanita lain seperti itu.
Dan, pada akhirnya pun Anha hanya mampu menggelengkan kepala dan berbohong. Dia mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki perasaan apa pun kepada Hasan. Anha juga menyakinkan kepada Bella jika hubungan mereka berdua hanyalah sebatas teman saja. Tidak lebih.
Dengan begitu Anha tidak akan menghadapi masalah baru.
“Kamu nggak perlu khawatir, Bell. Aku nggak ada hubungan apa-apa, kok, sama Hasan selain cuma sekadar temenan, doang,” perkataan Anha menggantung sejenak. Ia memejamkan mata untuk beberapa detik lamanya. Kemudian Anha menghirup udara dalam dalam hingga memenuhi isi rongga pernapasannya sebelum menyambung ucapannya kembali.
“Aku juga nggak punya perasaan apa pun, kok, sama Hasan.”
Mendengar hal tersebut langsung dari mulut Anha membuat Bella tersenyum senang. Kemudian Bella menegak sejenak pepsi di tangan kanannya, mengabaikan Anha yang saat ini sedang menampilkan raut murung pada wajahnya yang tidak dapat ia sembunyikan sama sekali di hadapan Bella, sambil sesekali Anha meremasi jemarinya yang berada di atas pangkuannya—namun untungnya Bella tidak menyadari hal tersebut.
“Kamu tahu nggak, An? Aku itu udah suka sama Hasan sejak dulu,” kata Bella mulai menceritakan hubungannya dengan Hasan kepada Anha—yang sebenarnya membuat Anha merasa agak sedikit kesal juga.
Ingin rasanya dia keluar dari ruangan yang terasa pengap itu. Namun Anha tidak memiliki alasan yang kuat untuk keluar dari ruangan tersebut. Tidak sopan sekali bukan apabila Anha mengatakan jika ia ingin pulang padahal Bella saat ini sedang semangat semangatnya dalam bercerita.
“Aku dulu kerja jadi public relationship di perusahaan media yang besar, An. Gaji aku waktu itu udah banyak. Tapi itu semua aku tingalin demi Hasan, dan aku juga lebih milih kerja di sini asal bisa sama sama Hasan,” tambah Bella lagi.
Anha hanya meringis kecil ketika mendengar hal tersebut, sebegitu cintanyakah Bella dengan Hasan sampai ia mengorbankan kariernya demi Hasan?
Terpikir satu hal di benak Anha, bisa-bisa Bella menjadi gila apabila dia tahu jika Hasan sebenarnya menyukai Anha. Apalagi tadi Hasan sempat mengutarakan perasaanya kepada Anha. Memperlakukan Anha dengan sangat lembut. Apalagi mengingat ciuman yang tertunda di lift tadi siang.
Anha menggelengkan kepalanya, mencoba melupakan kenangan memalukan tadi siang. Pipinya terasa menghangat setiap kali mengingat hal tersebut.
Tetapi… jika dilihat dari sifat Bella yang terlalu terobsesi ingin memiliki Hasan seutuhnya, bisa jadi mugkin nantinya Bella melakukan hal-hal di luar nalar jika Anha sampai merebut Hasan darinya.
“Aku nggak tahu kenapa sampai sekarang Hasan nggak membuka hatinya buat aku, An. Apa aku kurang cantik, ya? Kurang menarik, ya, di matanya? Habisnya kamu aja yang baru kenal sama dia seminggu udah bisa narik perhatiannya. Sedangkan aku yang udah kenal sama dia tahunan aja nggak pernah dia lirik sama sekali. Irinya,” kata Bella sambil diakhiri tawa renyah, tetapi hal tersebut membuat Anha menjadi salah tingkah.
Masalahnya, sekarang Anha harus menjawab apa?
Anha menggaruk kepalanya yang terasa tidak gatal sama sekali. Bingung hedak menjawab apa.
Bella tersenyum. Namun kalimat yang keluar dari mulutnya terasa tidak enak untuk didengar oleh Anha.
“Iya, aku percaya, kok. Tapi jangan sampai, ya, An, kamu sekarang bilangnya nggak suka sama Hasan terus nanti tiba-tiba kamu pacaran sama dia. Kan, jadinya nggak lucu banget gitu, An,” kata Bella seolah sedang memperingatinya secara tidak langsung.
Bella tertawa sampai sudut matanya mengerut. Tetapi entah mengapa rasanya terlihat aneh ketika Anha menatapnya. Bisa jadi Bella saat ini tertawa. Sedangkan di belakang tawanya Bella menampilkan ekspresi yang lainnya. Memangnya, hati orang siapa yang tahu?
“Nggak mungkin, kok, Bell. Aku bisa pastiin itu.”
Anha beranjak dari tempat duduknya. Dia sudah tidak kuat meladeni Bella lagi. Di tambah malam terasa semakin larut, jam semakin bertambah, Anha juga belum berpamitan pulang kepada Hasan. Atau mungkin alangkah baiknya Anha tidak usah berpamitan dengan Hasan dan ia tinggal mengirim pesan teks kepada Hasan bahwa ia pulang sehabis ke kamar mandi.
“Udah malem, aku pulang dulu, ya, Bell,” kata Anha sambil mengambil tasnya yang tadi ia letakkan di kursi sebelah tempatnya duduk.
Bella tersenyum kepada Anha dan mengatakan, “Hati-hati, ya, An.”
Anha terdiam sejenak, kemudian ia menganggukkan kepala. Entah mengapa, ucapan hati-hati yang terlotar dari mulut Bella tidak terdengar seperti kalimat perpisahan pada umumnya. Nada bicaranya seperti seseorang yang sedang memperingatkan orang lain… untuk hati-hati.
Anha menelan ludah, kemudian ia memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut.
Dan benar saja,
Setelah Anha keluar dari ruangan tersebut. Kini ekspresi Bella berubah menjadi datar, tidak ada lagi senyum palsu yang tadi terus menerus tersungging pada bibir merah meronanya seperti tadi ketika Anha masih berada di ruangan ini.
Bella menggenggam dengan erat kaleng pepsi yang tadi sempat di minumnya tersebut. Genggamannya sangat erat sekali. Emosi yang sedari tadi ia tahan kini sudah terasa seakan meluap.
“Sialan!”
Kemudian tanpa terduga Bella dengan kesal melemparkan kaleng pepsi tersebut sampai membentur pintu dan menimbulkan suara keras.
“Aku…”
***
Follow juga instagramku: @Mayangsu_ di sana aku lebih aktif dan post banyak info tentang novelku + jadwal update + visual tokoh. Makasih.