
Rahangku terjatuh dan aku menanga.
Iyuh!
Aku menggosok pelipisku yang meninggalkan bekas ciuman si Ibu Mertua jahat barusan dengan kencang ketika beliau sudah berbalik badan dan berjalan melenggang keluar dari dalam kamarku dengan 'wajah bahagia seperti menang lotre'-nya. Untung saja tidak keluar jinnya Aladdin dari bekas ciuman Mama Erin.
Setelah itu aku turun dari atas ranjangku dan berjalan menghampiri suamiku yang masih saja berdiri di sana sejak tadi. Aku memeluknya dari belakang dan menyandarkan daguku pada bahunya.
"Kamu nggak papa?" tanyaku.
Ikram hanya bergumam kecil sebagai jawaban.
"Hmm..."
"Berarti kamu kenapa-napa."
Ikram berbalik badan dan mengusap pipiku dengan lembut. Tanganku menyentuh tangannya yang mengusap lembut pipiku barusan, menikmati sensasi hangat yang menjalar pada pipiku.
"Tidur, yuk. Aku udah ngantuk," ajakku sambil memegang lengannya dan kami berdua naik ke atas ranjang. Aku mengambil selimutku dan memposisikan diri tidur telentang. Di susul Ikram yang tidur di sebelahku dengan memelukku dari samping seolah aku ini seperti guling saja.
Sebenarnya hal tersebut membuat napasku sedikit sesak. Tapi tak apalah, aku suka keintiman kami ini. Hehe.
"Maaf, ya, aku belum siap. Habis dari Bandung InsyaAllah kita coba, ya," bisik Ikram di telingaku membuat pipiku memanas. Aku hanya mampu mengangguk kecil namun dia tidak mengetahuinya karena saat ini Ikram sedang memejamkan matanya.
Dan malam ini...
Kami sudah tidak tidur pisah ranjang lagi. Meskipun tidak ada adegan panas suami istri, sih.
Pagi harinya aku bangun kesiangan. Aku mengusap mataku yang masih terasa pandanganku agak buram. Terlihat jam di dinding kamarku sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Ah, bodo amatlah. Tuan putri ini sedang malas memasak makanan. AHahahaha . Biar Siti saja yang memasak. Toh, ini weekend juga.
"Morning sweet heart," sapa Ikram di pagi hari yang sedang hendak mengenakan baju *casual-*nya. Mataku yang semula mengantuk langsung terbuka lebar ketika melihat suamiku yang tampan saat ini terlihat menggairahkan. Tampak perut *six pack-*nya yang terkena beberapa cahaya matahari pagi membuatku ingin melakukan morning sek--
Aku buru-buru menampar pipiku sendiri, kenapa juga aku semesum itu di pagi hari. Mungkin karena efek sudah enam bulan lebih tidak diberi jatah oleh Ikram.
Aku mendesah kecewa ketika Ikram sudah mengenakan bajunya kembali. Sirna sudah pemandangan menggairahkan di pagi hari barusan.
Aku turun dari ranjang kemudian mandi, berganti baju, lalu turun ke bawah untuk bergabung makan dengan Ikram. Tetapi Ikram ternyata sedang duduk di sofa ruang keluarga sambil tersenyum melihat ponselnya. Aku meringis, agak lucu karena aku saat ini sedikit cemburu dengan ponsel tersebut yang mampu membuat Ikram tersenyum semanis tadi.
Buru-buru Ikram memasukkan ponselnya ke saku ketika dia melihat kedatanganku membuatku mengernyit.
"Oh, Hai. A-aku nggak tahu kalau kamu udah turun," ucapnya agak terbata kemudian menggaruk ujung hidungnya.
"Kamu, sih, sibuk main HP sampe senyum-senyum sendiri."
Aku bersedekap dan pura-pura cemberut. Ikram memelukku dari samping kemudian mencium pipiku dengan lembut.
"Kamu cantik," pujinya membuatku tersenyum dan pipiku merona.
"Makasih."
Namun Ikram melepaskan pelukan kami ketika Mama Erin tiba-tiba menyelonong masuk tanpa permisi ataupun mengetuk pintu rumah terlebih dahulu. Aku mengembuskan napas kesal.
DASAR TIDAK SOPAN SAMA SEKALI! MENGANGGU KEMESRAAN KAMI SAJA! Teriakku dalam hati.
Mama Erin mengampiriku dan memegang lenganku.
"Ayo, An, buruan kita ke dokter kandungan buat meriksain kehamilan kamu," kata Mama Erin dengan girang. Aku dan Ikram hanya mampu terdiam tidak percaya dengan keseriusan Mama Erin yang hendak membawaku untukku mengecekkan kehamilan... palsuku.
Aku menatap Ikram seolah mengkodenya, "Apa yang harus aku lakukan?"
"Ma, sebentar... A-anha belum makan," kataku mengeles. Tetapi Mama Erin tetap keukeh dan menarik tanganku.
"Nggak usah, kita makan di luar aja setelah periksa. Dokter panggilan Mama udah ready di sana."
YA TUHAN! MERTUA GILA!!!!
Dan di sinilah diriku, sedang duduk bersebelahan dengan Mama Erin di dalam mobil yang menuju ke rumah sakit Hermina untuk mengecekkan kehamilan sialanku.
Memangnya siapa yang hamil, sih! Aku, kan, cuma muntah-muntah karena udang buatan Siti terlalu amis.
Aku tidak bisa membayangkan seberapa murkanya mertuaku jika nanti menghetahui kenyataan jika diriku tidak hamil. Senyum ala Ibu Peri di sebelahku ini nantinya pasti akan berubah menjadi makian ala Nenek Lampir khas dirinya.
Sampailah kami di rumah sakit ini. Aku menatap horor ruang pemeriksaan di depanku seperti menatap ruang eksekusi mati saja.
Mama Erin terlebih dahulu memasuki ruangan tersebut. Entah membahas apa dengan dokter yang berada di dalam.
Aku menelan ludahku. Bagaimana jika nanti akan ada perang dunia ke tiga jika Mama Erin tahu bahwa kenyataannya aku tidak hamil?
Padahal sejak kemarin malam Mama Erin sudah terlihat bahagia luar biasa.
"Nggak papa, kok. Aku janji nanti bakalan bantuin kamu ngomong. Aku bakalan selalu ada dibelakang kamu," kata Ikram sambil menggenggam jemariku, dia tersenyum lembut menenangkanku. Aku tersenyum dan mengangguk.
"Makasih, Ikram."
Ikram mengangguk. Setelah itu terlihat Mama Erin keluar dari dalam ruangan dengan senyum bahagia sekali.
"Ayo masuk," katanya sambil menggandeng tanganku. Dengan ragu aku memasuki ruang tersebut di susul Ikram yang mengekor dibelakangku.
"Ini mantu kesayangan, saya," kata Mama Erin memuji-mujiku di depan Ibu Dokter ini.
Hoek!
Ingin rasanya aku muntah betulan dengan sikap sok manis dari Mama Erin barusan.
Aku tidak paham dengan apa yang dokter tersebut lakukan, aku hanya diam menurut saja ketika di suruh ini itu. Di suruh memasuki kamar untuk menguji test pack juga.
Kenapa juga mertuaku kurang kerjaan melakukan pemeriksaan ini? Buang-buang waktu saja.
Entah berapa menit dokter tersebut berada di ruang sebelah sepertinya sedang menganalisa hasilnya.
Ketika dokter tersebut keluar dari ruanganya. Aku bisa membaca raut wajahnya jika hasil tersebut memang negatif.
"Gimana, Dok?" tanya Mama Erin dengan semangat menanyakan hasil tersebut.
Aku menatap Ikram saling melemparkan kode. Tetapi tatapannya seolah mengatakan 'tidak-apa-apa' membuatku sedikit tenang.
"Um... mohon maaf, Bu. Hasil dari pemeriksaan Ibu Anha masih negatif," kata dokter tersebut dengan ramah.
Aku melihat Mama Erin mengeratkan giginya. Senyumnya yang dari tadi mengembang sudah tidak ada lagi. Aku melihat kilatan amarah bercampur kebencian nampak nyata di kedua mata Mama Erin.
"Jadi kamu nggak hamil?"
Aku menutup mata. Tamatlah riwayatku.