After Marriage

After Marriage
Menyelesaikan Kesalahpahaman



Hasan agak kaget dengan ucapan Anha barusan. Saat ini Anha seperti meluapkan semua hal yang dia pendam sejak dulu kepadanya. Benarkah Hasan sedekat itu dengan Bella? Hasan menggaruk kepalanya yang terasa tidak gatal. Benar juga kata orang, ketika seseorang marah kebanyakan yang keluar dari mulutnya adalah kejujuran.


“Masak, sih, kakak adik ciuman, An?” tanya Hasan santai mencoba mengalihkan topik yang berkaitan dengan nama Bella sambil melipat kaki kirinya di atas sova dan menopang kepalanya di senderan sofa, sambil sesekali mengamati cantiknya wanita di depannya ini.


Mata Anha membulat, agak kaget juga dengan apa yang barusan Hasan ucapkan. Anha mengigit kuku ibu jarinya.  Kenapa Hasan tahu jika dia pernah beciuman dengan Sean?!


Mau menyanggah pun tetapi, kan, hal itu benar terjadi kalau Sean dan dirinya pernah berciuman.


Tapi… tapi… itu, kan, kecelakaan! Sean hanya bercanda dan tidak sengaja melakukan hal tersebut kepadanya! Iya, benar sekali! Itu tidak dihitung berciuman sama sekali karena bukan atas kehendak dua belah pihak!


“Nggak! Nggak usah ngarang kamu!” kata Anha berbohong.


Hasan mengangguk percaya percaya saja. Lagian mana mungkin dia percaya dengan bocah tengil itu, tidak mungkin juga Anha dan bocah itu berciuman. Jelas itu akal akalan bocah itu saja—padahal kenyataannya mereka berciuman.


Dalam hatinya, Anha mengembuskan napas lega dan mengusap dadanya karena beryukur Hasan percaya begitu saja.


“Tapi aku nggak suka, An kamu deket deket sama dia.”


Eh? Apa maksudnya?


Anha menatap Hasan yang sedang menatapnya dengan wajah datar, tetapi mata itu masih berfokus kepadanya.


“Apa urusan kamu ngatur ngatur mau aku deket sama siapa aja? Eman kamu siapaku? Kamu aja deket sama Bella aku cuma diem aja, kok!” kata Anha dengan menaikkan dagunya dan bersedekap dada.


Glek! Hasan merasa tersindir akan hal itu.


Hening beberapa saat setelah Anha mengatakan hal tersebut. Hanya suara dentuman dari jam dinding yang terdengar. Anha merasa bersalah karena terbawa emosi sampai seperti itu. Anha menggigit bibir bawahnya. Apa barusan dia keterlaluan, ya, kepada Hasan?


“Tapi aku cemburu, An,” kata Hasan dengan nada lirih.


Anha yang semula menunduk dan menatap cangkir kopinya yang sudah kosong kini menaikan pandangannya dan menatap Hasan dengan saksama.


Mereka hanya saling tatap dalam diam.


“A—aku ju—juga cemburu kamu deket sama Bella,” kata Anha dengan lirih sambil menggigit bibirnya karena agak takut—dan merasa agak malu juga.


Kini mereka paham. Sebenarnya mereka saling tidak suka jika baik Hasan ataupun Anha dekat dengan orang lain. Tidak ada niatan sama sekali di hati mereka untuk balas dendam atau membuat satu dan lainnya cemburu.


Anha meremas dress bagian bawahnya.


Benar kata orang, di dalam suatu hubungan yang paling penting adalah komunikasi. Jika dua insan saling diam, maka akan menimbulkan kesalah pahaman antar satu dan lainnya.


Bukannya everything have a reason?


Jika seperti ini jatuhnya pihak wanita berpikir ini, dan pihak laki laki berpikiran ini itu. Bukan hanya ketika pacaran, ketika nanti menikah pun komunikasi tetaplah harusnya menjadi nomor satu agar tidak menimbulkan kesalah pahaman.


Tangan Hasan bergerak menggenggam  tangan Anha.


“Maaf, ya, An, karena aku udah buat kamu cemburu. Aku salah,” kata Hasan dengan nada lembut membuat hati Anha meleh.


***


Cuma mau ngingetin. Jangan lupa votes+komen+likes, ya. Siapa tahu kalian keasyikan baca jadi lupa, hehe. :)


Visual ANHA/SEAN/HASAN ada di Instagramku:@Mayangsu_


Aku males post di sini karena sistem Mangatoon bakalan lama kalau update ada gambarnya.