After Marriage

After Marriage
Toko Kue



Kalau dilihat-lihat dengan sekilas, anak itu tinggi juga. Padahal selama ini aku merasa aku ini termasuk orang yang cukup tinggi daripada perempuan lain mengingat tinggiku seratus enam puluh tujuh senti.


Tetapi perawakan anak ini ternyata lebih tinggi dari pada aku.


Aku tersenyum kecut. Anak sekarang memang cepat sekali pertumbuhannya. Mungkin mereka makan tiang bendera.


Menurutku, anak SMA itu tampan, tatapannya terasa agak dingin dan memang pembawaanya terkesan cuek, sih.


Bajunya tidak ia masukan sama sekali dan dasinya terkesan asal asalan lebih ia alih fungsikan menjadi kalung. Aku jamin di sekolahnya dia ini tipe cowok bad boy incaran siswi perempuan seperti di novel-novel remaja yang pernah kubaca.


"Tante manis, aku mau beli kue, dong," katanya sambil mencondongkan wajahnya agak ke depan sehingga kini jarak antara wajah kami berdua cukup dekat sampai rasanya aku dapat merasakan deru embusan napasnya yang menerpa wajahku.


Aku yang tersadar langsung bergerak mundur ke belakang. Tetapi bocah itu malahan tertawa geli melihat tingkahku barusan.


Aku berdecak, anak ini benar benar tengil sekali! Bahakan dia tidak tahu situasi kalau saat ini di sini bukan hanya ada aku saja tapi juga ada Tyas dan karyawan lainnya.


Dan sialnya saat ini Tyas malahan sedang mengabaikan kami berdua dan saat ini Tyas malahan sedang berpura-pura berkutat dengan buku batik berwarna kuning entah sedang mencatat apa sambil pipinya merona, merah sekali.


"Makanya jangan ngalamun, dong, Tante. Buruan, dong, cariin aku kue. Mau pulang, nih, akunya," katanya kepadaku. Aku mengangguk kemudian aku menanyainya tentang kue apa yang hendak dibelinya.


Dia mengatakan jika dirinya ingin membeli kue ulang tahun untuk seseorang. Yang Berawarna soft pink, dengan hiasan bunga dan buah cerry yang manis di atasnya, dan intinya kue tersebut harus ada banyak cerrynya.


Aku mengangguk, kemudian aku mulai berjalan ke arah tempat etalase yang berisi beberapa kue replika yang dipajang di sana.


Aku membantunya untuk memilah- milah apa yang dia sukai.


Kemudian aku mulai merekomendasikan beberapa kue dengan aneka ragam tersebut kepada si anak SMA tersebut yang kini sudah kuketahui namanya ternyata adalah Sean dari bordiran pada seragam OSIS-nya.


Sean sesekali mengangguk, kemudian pada akhirnya dia menggelengkan kepalanya dan mengatakan jika dia tidak suka dengan semua kue tersebut.


Aku mengembuskan napas lelah.


Sean seolah sedang mengerjaiku saja saat ini.


Dia sepertinya memang tidak berniat untuk membeli kue sama sekali. Bahakan saat ini dapat aku pastikan mungkin saja dia tidak punya uang untuk membelinya.


Ya, maklum saja kue ini, kan, terbilang cukup mahal juga untuk anak sekoalahan yang uang sakunya pasti sedikit.


"Ya, hanya ini saja, Kak, kue yang ada di sini!" kataku dengan nada kesal.


Memang kami di suruh oleh atasan kami untuk sopan dan tidak marah ke pada para pelanggan meskipun pelanggan tersebut sangat menjengkelkan.


Dan aturan yang ke dua adalah kami disuruh memanggil para pelanggan dengan sebutan 'kakak' entah pelanggan tersebut masih muda ataupun sudah tua. Etika pada bab sopan santun dan pelayanan katanya.


"Kalau menurut Tante bagusan yang mana? Aku bingung milihnya, nih," katanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Aku mengeratkan gigiku. Mataku melotot galak. Tetapi dia malahan hanya terdian sambil menahan senyuman.


Dasar bocah tengil!


Kan, dari tadi aku sudah menerocos merekomendasikan kepadanya!


Beginilah tidak enaknya orang yang bekerja. Haram sekali kalau kami marah marah kepada para pelanggan.


"Yang itu aja, yang paling mahal," kataku dengan asal sambil menunjuk kue tersebut dengan daguku.


Tetapi mulutku terbuka ketika dia dengan entengnya mengatakan 'oke'


Aku berbalik badan dan berjalan ke belakang dengan mengentak-entakkan kakiku dengan kesal hanya untuk mengambilkan kue yang asli untuk si bocah tengil ini.


Aku membawa kue tersebut dengan hati-hati ke arah depan. Kali ini Tyas yang bertugas memasukkannya ke dalam kardus kecil wadah untuk kue.


"Um... Tolong sekalian dikasih memo, ya, Kak. Buat seseorang soalnya," pintanya. Aku mengangguk dan mengambil kertas kecil sebagai memo sedangkan Tyas yang bergantian mengurusi bagian pembayaran.


"Buat pacarnya, ya Kak?" tanya Tyas kepada bocah tersebut sambil menahan tawa.


Bocah yang bernama Sean itu--yang namanya kubaca ulang pada seragam putih abu abunya tersebut supaya aku tidak salah ketika menulis memo pesananannya-- hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban Tyas.


"Aku nggak punya pacar. Repot. Buang buang waktu aja. Apa lagi aku ini kan orangnya super sibuk sekali."


Kini gantian aku yang menahan senyumanku. Sok sekali dia ini pakai mengatakan tidak mau pacaran segala.


Pasti banyak siswa perempuan yang mundur teratur ketika hendak mendekatinya mengingat dia ini benar- benar dingin dan tidak bisa beramah tamah sama sekali.


"Tulisannya bagaimana, Kak?" tanyaku dengan ramah kepada nya.


"HBD. Udah. gitu aja."


Aku mengeryitkan keningku.


Hah. Sesimple itu? Padahal kebanyakan para pelanggan kami menuliskan memo panjang lebar seperti 'selamat ulang tahun, ya. semoga panjang umur, sehat selalu, dimudahkan urusan dan rezekinya' serta ucapan ucapan lainnya.


Tetapi kenapa bocah ini hanya menyuruhku untuk menuliskan HBD saja. Aneh.


"Memangnya kue ini untuk siapa?" tanyaku kepadanya.