After Marriage

After Marriage
Curiga



Anha terdiam ketika mengetahui Bella yang kini sedang berdiri dalam diam di depannya tersebut. Anha yakin, sebenarnya Bella datang hendak menemui Hasan yang masih berada di dalam untuk makan malam bersama—terlihat dari satu box pizza dan dua kaleng minuman pepsi yang Bella bawa pada tangan kirinya.


Kini dahi Bella mengerut, tatapannya terlihat seperti tidak suka ketika ia mendapati keberadaan Anha yang kebetulan baru saja keluar dari ruangannya Hasan.


Anha merasakan agak kesusahan ketika ia menelan ludah. Seolah olah tenggorokannya terasa kering saja. Pasti saat ini Bella sedang berpikiran yang tidak-tidak mengenai dirinya dan Hasan.


Bagaimana tidak? Seorang wanita tertangkap basah sedang keluar dari dalam ruangan lelaki yang disukainya. Apalagi hal tersebut ketika di jam pulang kantor selarut ini.


Meskipun pada kenyataannya mereka tidak melakukan apa apa, tetapi tetap saja tidak dapat dipungkiri pasti Bella ataupun orang lain akan berpikir macam macam mengenai mereka berdua.


Kini Anha mencoba berdehem dan membetulkan rokknya yang agak kusut untuk menghilangkan suasana yang terasa amat kikuk ini. Kemudian setelah itu Bella yang semula menampilkan ekspresi terkejut dan mengeryitkan dahi kini ia menampilkan ekspresi datarnya kembali. Seolah tidak terjadi apa-apa.


“Hai Bella,” sapa Anha dengan hangat, tetapi yang di sapa hanya terdiam saja. Seolah malas untuk menjawab sapaan ramah dari Anha.


“Hai juga, belum pulang?” balas Bella dengan mencoba untuk berbasa basi sejenak membalas sapaan Anha barusan. Padahal kata yang saat ini sedang ia tahan dalam benak adalah Bella sangat ingin mengatakan:


“Kenapa kamu bisa ada di ruangannya Hasan?!”


“Kenapa kamu bisa bisanya masuk ke dalam?!”


“Apa yang kalian lakuin di dalem?!”


Namun pertanyaan tersebut hanya mampu Bella telan dalam diam.


“Be-belum Bel, tadi Pak Hasan baru aja minta laporan data customer sama aku, akhirnya aku harus ngasih ke Pak Hasan dulu sebelum pulang,” kata Anha dengan terbata mencoba sedikit berbohong kepada Bella agar Bella tidak berpikiran macam macam.


Tidak mungkin juga bukan Anha mengatakan tadi Hasan menggendongnya dan menyuruhnya duduk di atas meja kerjanya. Bisa-bisa hal tersebut mematik api kecemburuan pada Bella karena Anha mengetahui dengan betul Bella sangat menyukai Hasan.


Bella hanya tersenyum saja. Entahlah jenis senyuman dengan tipe yang seperti apa. Anha sama sekali tidak dapat mendefinisikan makna dari senyuman tersebut.


Anha berpamit kepada Bella bahwa ia hendak pergi ke kamar mandi, namun ketika Anha hendak melangkahkan kaki ke depan. Bella bergerak memegang lengan Anha dan mengatakan jika ia hendak ada perlu sebentar dengannya.


“Anha, bisa nggak kita ngobrol sebentar di ruanganku?” tanya Bella kepada Anha.


Anha terdiam, entah mengapa jantungnya berdetak agak takut juga. Ma-mau apa sampai Bella memanggajaknya untuk pergi sejenak ke ruangannya?


Tapi entah mengapa, feeling Anha kali ini terasa buruk.


“A-Anu, Bel. Bukannya aku nggak mau. Tapi aku mau ke kamar mandi dulu, Bel.”


“Bentar, doang, kok, An. Nggak ada sepuluh menitan. Lagian di ruanganku ada kamar mandinya juga,” potong Bella dengan di akhiri oleh senyumanan pada bibirnya. Bella tersenyum ramah sampai sudut matanya menyipit. Dan tersebut membuat Anha susah untuk menolak hal tersebut.


Pada akhirnya Anha menganggukkan kepala dan mau menerima ajakan Bella untuk pergi ke ruangannya sejenak. Sepanjang langkah kaki ketika Anha berjalan untuk menuju ruangannya Bella. Jantung Anha seolah berdetak begitu cepatnya. Seperti hendak memasuki ruangan eksekusi mati saja.


“Jadi ke kamar mandi? Itu kamar mandinya ada di sudut sana,” kata Bella sambil menunjuk ruang yang di maksud tersebut.


Anha menggeleng, berpura pura sudah tidak kebelet lagi—kan, pada awalnya Anha memang izin ke kamar mandi hanya sekadar untuk menghindar dari Hasan. Tapi sialnya sekarang Anha harus berhadapan dengan Bella.


“Ah, kalau gitu duduk dulu, An,” kata Bella mempersilakan Anha untuk duduk di kursi yang tersedia di ruangan ini.


Ia paham dengan betul. Pasti jika tadi Anha tidak datang ke ruangannya Hasan pasti rencananya Bella hendak menyantap pizza tersebut berdua dengan Hasan—terlihat dari dua kaleng pepsi berwarna biru yang menemani pizza yang dibawa Bella itu. Lalu mungkin saja jika tadi Anha tidak keluar dalam ruanganya Hasan, mungkin Bella akan menggantikan posisi Anha yang seharusnya Bella lah yang harusnya berada di dalam sana dan menemani Hasan menyelesaikan tugas lemburnya.


Anha bingung, dia meremas rok spannya untuk mengusir rasa gerogi yang saat ini sedang melandanya. Seharusnya dia tidak perlu merasa geroggi seperti ini, bukan? Toh, tadi Hasan juga mengatakan kala dia sendiri tidak memiliki hubungan apa apa dengan Bella, kok.


“Mau?” kata Bella menawari potongan pizza tersebut kepada Anha. Anha hanya meringis, kemudian Anha menggelengkan kepala menolak uluran pizza dari Bella karena memang saat ini Anha sedang tidak lapar sama sekali.


“Bell, sebenernya ada apa, ya, kok, kamu manggil aku ke sini?” tanya Anha pada akhirnya, dia ingin pulang secepatnya ke rumah karena malam terasa semakin larut. Jam di dinding ruangan ini sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ditambah lagi tadi Anha izin kepada Hasan bahwa ia hanya akan pergi ke kamar mandi sebentar saja untuk buang air kecil. Bagaimana jika nanti Hasan mencarinya karena tak kunjung datang kembali ke ruangannya?


Bella menatap Anha sejenak, pun sebaliknya Anha juga menatap wanita di depannya itu dalam diam. Meskipun tidak ada kilatan emosi atau amarah pada kedua mata cokelat milik Bella, namun entah mengapa, satu ruangan dengannya membuat Anha merasa tidak nyaman.


Ekspresi Bella susah di tebak, Anha tidak dapat mengetahui apakah saat ini Bella sedang cemburu kepadanya, atau saat ini Bella sedang marah karena ekspresinya benar-benar datar.


Bella hanya menampilkan ekspresi senyum ramah dari tadi, sudut matanya selalu mengerut ketika tersenyum, yang malahan hal tersebut membuat Anha semakin ngeri saja.


Bisa saja luarnya Bella tersenyum, tapi dalamnya cemburu. Memangnya hati orang siapa yang tahu?


“Kamu deket, ya, sama Hansa?” tanya Bella kepada Anha mencoba mengulik banyak informasi darinya. Anha menggaruk tengkuk belakangnya yang terasa tidak gatal sama sekali.


Kemudian Anha tersenyum dengan canggung ketika menjawab pertanyaan Bella dengan kata-kata;


“Ah, nggak, kok, Bell. Kami baru aja kenal, bahkan kayaknya kami belum genap seminggu kenalnya. Hehe. Kami nggak dekat banget, kok, Bell. Mungkin cuma perasaanmu aja kali, Bel,” kata Anha mencoba menjelaskan, dia tidak ingin Bella beranggapan bahwa Anha memiliki hubungan special dengan Hasan, maka dari itu Anha memilih jawaban tadi supaya Bella tidak cemburu kepadanya.


Mendengar jawaban tersebut membuat Bella menghentikan gerakan mengunyahnya. Alis kirinya terlihat terangkat ke atas.


“Serius kamu kenal sama Hasan baru semingguan, An?”


Anha hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.


“Hebat, ya,” kata Bella sambil menatap Anha sejenak, kemudian Bella memalingkan wajahnya lalu ia tersenyum miring, masih tidak percaya ketika mengetahui hal tersebut dari Anha.


“Maksudnya?” tanya Anha tidak paham.


“Ya… hebat aja gitu. Baru kenal sama Hasan satu minggu aja tapi udah diperlakuin sespesial itu sama dia. Irinya. Aku aja yang kenal tahunan sama dia malahan kayak nggak dia anggap sama sekali, lho.”


Bella tertawa renyah ketika mengakhiri kalimat tersebut seolah sedang melucu. Namun Anha tidak. Anha tidak mungkin tidak mengerti akan kalimat yang tadi Bella ucapkan itu.


Kemudian setelah itu Bella menopang kepalanya dengan tangan kanannya sambil menatap lamat-lamat Anha yang saat ini kesusahan menelan ludah.


“E-enggak, kok, Bel. Kami cuma temenan aja, sumpah. Kamu yang nganggepnya aja yang berlebih, Bel.”


Bella tidak menjawab perkataan Anha lagi. Dia kembali sibuk menikmati pizzanya lagi.


Tangan Anha bergerak mengambil pepsi yang berada di atas meja, kemudian ia membuka tutup kaleng pepsi tersebut kemudian menegaknya perlahan.


“An. Kamu, suka, ya sama Hasan?” kata Bella membuat gerakan meminum Anha terhenti seketika. Anha terdiam sejenak, matanya mengerjab seolah bingung hendak menjawab apa pertanyaan tersebut? Haruskah Anha mengatakan kalau sebenarnya dia juga memiliki perasaan kepada Hasan meskipun sedikit? Atau haruskah Anha…


***