
Tubuh Anha semakin memanas.
Tapi ketika tangan Hasan menyentuh dada Anha. Ketika tangan itu hendak melakukan gerakan meremas, tiba tiba Anha menepis dengan kuat tangan tersebut membuat Hasan agak kaget dan setelah itu Anha menutup tubuhnya dengan tangan kanannya.
Wajah Anha merah padam. Jarak yang awalnya sangat dekat itu kini menjadi renggang karena Anha menjauh.
Anha menunduk dan wajahnya pucat pasi.
Bu—bukannya Anha tidak mau melakukan hal itu dengan Hasan. Ta--tapi dia merasa belum siap saja. Sejak hubungan membaik dengan Mamanya, sejak dia ketahuan berhubungan suami istri di luar nikah dengan Adi di rumah dulu sampai berhasil membuat Mamanya naik pitam. Sejak itulah Anha sudah berjanji kepada dirinya sendiri jika dia tidak akan melakukan **** sebelum menikah lagi.
Kini Hasan juga ikutan bingung, malu, jantungnya berdetak kencang sekali seperti habis berlari ratusan meter. Semua rasa berkecamuk dihatinya tidak karuan.
Kenapa juga tadi dia bisa melakukan hal seperti itu kepada Anha. Sungguh, tadi dia hilang kendali atas dirinya sendiri.
Memang benar tidak sepantasnya dua orang berdua duaan di tempat sepi seperti ini. Setebal apapun imanmu, orang ketiganya pastilah setan.
Tidak mungkin dua orang berdua duaan di tempat sepi tidak terjadi apa apa karena fitrah manusia memang dibekali dengan nafsu dan akal. Baik itu perempuan maupun laki laki.
“A—Anha. Maafin aku,” ucap Hasan karena takut jika Anha marah dan tidak mau bertemu dengannya lagi karena sikap kurang ajarnya itu. Ditambah sekarang Anha semakin menundukkan kepalanya membuat Hasan merasa semakin bersalah saja.
Demi Tuhan, tadi dia khilaf.
Hasan meremas rambutnya ke belakang. Menyesal sekali dengan apa yang tadi ia lakukan.
Kini Hasan merubah posisi duduknya yang semula menghadap ke arah Anha menjadi menghadap ke arah depan.
Lengang sejenak di antara mereka. Mungkin sekitar lima menitan membisu tanpa suara. Hasan menyangga kepalalanya. Merutuki semuanya dalam diri.
Setelah keadaan mulai agak normal. Anha menyentuh paha Hasan membuat Hasan menatapnya. Hasan otomatis memalingkan wajahnya ke wanita yang sangat dicintainya itu.
“Ka—kamu marah?” tanya Hasan dengan hati hati kepada Anha.
Anha menggelengkan kepalanya.
“Ma—maaf, ya. Aku cuma nggak mau ngelakuin ‘hal’ itu sebelum kita nikah,” kata Anha dengan lirih.
Hasan mengembuskan napas lega. Syukurlah dia tidak marah, Hasan takut kalau Anha menjauh karena Hasan tidak sopan seperti tadi.
“Aku yang minta maaf karena udah kayak gitu ke kamu. A—aku tadi khilaf, An.”
Kini mereka yang semula dekat menjadi agak canggung antar satu dengan yang lain. Tetapi ada perasaan senenang dihati Hasan, tadi Anha menolak, jadi dapat Hasan simpulkan Anha adalah wanita baik baik yang menjaga dirinya sebelum menikah. Kenapa wanita ini sebegitu sempurna tanpa cela ketika Hasan mencoba mengenal Anha lebih jauh?
Anha bingung hendak bagaimana. Dia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah Sembilan malam. Itu artinya sudah lebih dari tiga puluh menit dari jam malam yang tadi diterapkan Mama. Setidaknya, Anha bisa menjadikan alasan tersebut sebagai alasan agar kecanggungan ini berakhir.
***
Cuma mau ngingetin. Jangan lupa votes+komen+likes, ya. Siapa tahu kalian keasyikan baca jadi lupa, hehe. :)
Visual ANHA/SEAN/HASAN ada di Instagramku:@Mayangsu_
Aku males post di sini karena sistem Mangatoon bakalan lama kalau update ada gambarnya.