After Marriage

After Marriage
Salah Paham (2)



Anha memalingkan wajahnya ke arah luar jendela mobil. Dia tidak ingin Hasan mendapati wajahnya yang saat ini sedang bersedih.


Entahlah, kenapa juga hubungan mereka serumit itu. Saling salah paham satu sama lain dan lebih banyak menduga-duga dalam hati.


Hasan juga tidak tahu harus berkata apa. Anha sejak tadi hanya diam saja sambil menatap ke arah luar mobil seolah olah pemandangan di luar sana lebih bagus daripada menatap dirinya.


Keheningan ini tentu saja membuat Hasan semkin bingung, ia juga ingin mengajak Anha untuk mengobrol, namun Hasan tidak tahu mau mencaari topik apa.


Lengan di antara mereka berdua. Hanya suara dari radio dalam mobil dan kalkson yang besahut sahutan padahal lampu merah baru lima detik berganti menjadi lampu hijaulah pemisah antara mereka berdua.


Anha saat ini lebih memilih untuk memejamkan mata—pura pura tertidur.


'Coba Lo inget inget lagi. Lo buat salah kali. Cewek, kan, sifatnya kayak gitu, Bro. mereka kalau ngambek suka ngediemin kita dan nyuruh kita nebak nebak kayak dukun dengan alasan biar kita peka. Nggak mungkin juga kalau nggak ada apa apa tiba tiba si cantik itu ngejauhin lo tanpa alasan.'


Hasan semakin erat mencengkeram stir mobil ketika teringat sekilas perkataan Dimas waktu di kafe yang lalu.


Ah, sudahlah! Hasan sudah tidak tahan lagi berdiam diaman seperti ini.


“An… kamu tidur?” kata Hasan sambil menaruh jaketnya untuk menutupi tubuh Anha mumpung saat ini mobil mereka sedang berhenti karena lampu merah.


Inilah yang Anha benci dari Hasan. Hasan selalu memperlakukannya dengan lembut dan penuh kasih sayang membuatnya bingung apakah sebenarnya Hasan menyukainya atau tidak.


“Hmm…”


Anha hanya bergumam. Hasan tersenyum meskipun Anha tidak dapat melihat senyumnya karena sedang memejamkan mata. Syukurlah Anha tidak tertidur.


“Kok, kamu diem aja, sih, An? Aku ada salah, ya?” tanya Hasan dengan lembut sambil memalingkan pandangannya ke Anha sebentar sebelum fokus kembali menatap ke depan karena lampu jalan sudah berubah hijau.


Anha memanyunkan bibirnya dengan mata yang masih terpejam.


Tebak saja sendiri! Memang lelaki itu makhluk tidak peka di dunia ini!


Hasan mengembuskan napas lelah. Jika lelaki adalah makluk yang tidak peka sama sekali. Maka perempuan adalah makhluk yang susah di tebak.


“Bangun, yuk. Kita udah mau sampai,” kata Hasan sambil mengusap kepala Anha dengan lembut.


“Kamu nggak suka, ya, jalan sama aku? Padahal tadi kamu kelihatan happy banget waktu pergi sama anak itu.”


Hasan mecoba bersikap dewasa. Bagaimana pun ketika pasangannya marah, dia harus bisa menjadi air yang menyejukkan untuknya. Dan ajaibnya kata kata itu berhasil mebuat Anha membuka mata karena tidak tega dan sekarang ia mau memalingkan pandangannya ke arah Hasan yang tampan itu.


“Aku cuma…” ucapan Anha menggantung ketika Hasan memasuki area parkiran. Anha terdiam sejenak menatap ke arah sekeliling. Ternyata benar sudah sampai.


Hasan mengajaknya ke mana?


“Mampir dulu, ya, ketempat aku. Aku nggak suka keramaian,” jawab Hasan sambil membuka pintu mobil kemudian Hasan juga membukakan pintu mobil untuk Anha. Kali ini Anha mau menggenggam uluran tangan Hasan ketika keluar dari dalam mobil.


“Kita…”


“Iya, kita ke apartemenku dulu.”


Anha menelan ludah. Alarm di otakknya seolah mengatakan ini tidak benar. Seorang perempuan main ke apartemen laki laki?


Anha menggigit bibir bawahnya.


Jangan-jangan…


***


Apa yang akan Hasan lakukan:


A. Wik Wik


B. Gibah sama Anha. WKKWKWK