
"Kalian udah pulang?" sambut Mama dengan hangat. Anha dan Hasan bergantian mencium punggung tangan mama.
Hasan melirik sejenak jam dinding di ruang tamu Anha yang terlihat dari pintu masuk ini. Jam di dinding sudah menunjukan pukul sembilan kurang lima belas menit.
"Maaf, ya, Tante kami pulangnya kemalaman," kata Hasan sambil meringis agak canggung karena tahu diri dia melewati jam malam yang diterapkan 'calon mama mertua'-nya tadi.
"Ah, nggak papa. Tante juga pernah muda kayak kalian. Tante bilang pulangnya jangan lebih dari jam delapan malam biar kalian pulangnya nggak kemaleman banget. Nggak enak kalau dilihat tetangga malah nanti takutnya jadi bahan omongan."
Hasan mengembuskan napas lega medengarnya. Untunglah calon mama mertua orang yang toleran.
"Duh. Ta—tapi Hasan lupa nggak bawain jajan buat Tante. Maaf, ya, Tante, soalnya tadi buru buru dan nggak mampir beli makanan," kata Hasan dengan tidak enak hati karena biasanya lelaki yang main ke rumah wanitanya pasti membawa jajanan untuk orang tuanya.
Mama dan Anha yang mendengar hal tersebut menahan tawa geli. Untuk apa juga Hasan merasa bersalah akan hal itu, ditambah lagi tadi wajah Hasan sangat serius sekali ketika mengatakan hal tersebut.
"Kamu nggak usah sungkan sungkan kayak gitu. Kamu main ke sini aja Tante udah seneng banget."
'Apalagi karena anak tunggal Tante ini udah jomblo lama makanya Tante seneng kalau ada cowok yang berani main ke rumah,' tambah mama Anha dalam hati.
"Yuk, masuk dulu Nak Hasan," Mama memperilakan Hasan untuk masuk ke ruang tamu. Namun Hasan menolak dengan sopan dengan alasan malam semakin bertambah larut. Tidak enak bertamu di jam istirahat seperti ini. Toh, masih ada hari besok.
"Kalau gitu Hasan pamit dulu, ya, Tante. Assalamualaikum."
"Iya, hati-hati di jalan, ya, Nak Hasan."
Hasan mengangguk.
"Pulang dulu, ya, An. Jangan lupa pikirin jawaban yang tadi," kata Hasan dengan senyuman yang memesona penuh kode membuat Anha hanya mampu tersenyum malu malu dan mengangguk pelan.
Mama masih bertanya tanya dalam hati apa maksud dari ucapan Hasan kepad Anha yang terakhir itu? Apa yang mereka bahas ketika tadi keluar bersama? Makan apa saja mereka tadi? Mengunjungi tempat mana saja mereka?
Sangat wajar orang tua begitu penasaran dengan kisah cinta anaknya. Pokoknya habis ini Mama akan mengintrogasi Anha sampai ke akar akarnya.
"An, tadi kamu…"
Tetapi, ketika Mama hendak menanyakan semua hal tersebut ke pada Anha. Dahinya mengeryit ketika mendapati bercak warna merah di leher Anha. Seperti tanda cu…
"ITU LEHER KAMU KENAPA MERAH MERAH?!!!"
Mama mulai naik phitam. Anha terdiam mendengar hal tersebut, mulutnya terbuka sedikit karena kaget ketahuan, dan otomatis Anha menutupi lehernya dengan tangan kanannya.
Anha menelan ludah. Dia hanya mampu meringis takut.
Mati dia!
***
Cie ke gep.
Besok part jawaban final apakah Anha nerima lamaran Hasan. Terus apakah Anha jujur atau engga. Dan ada bahas IKRA-- hehehe.
Cuma ngingetin, jangan lupa tinggalkan votes/likes/komen, ya. Siapa tahu kalian keasyikan baca jadinya lupa. Hehe. Mwah. #ciumsatusatu