After Marriage

After Marriage
Hancur Berkeping Keping



Dengan diselimuti rasa cemas aku sampai menyuruh supirku untuk mempercepat laju mobil kami.


Aku menggelengkan kepala. Tidak mungkin itu Ikram! Dan tidak mungkin juga Ikram selingkuh!


Dia itu pria baik. Aku mengusap wajahku gusar.


Ketika kami sudah sampai di depan Hotel Patra aku langsung keluar dari mobil dan berjalan cepat ke arah lobi. Mataku menangkap Lidya yang sedang berada di depan resepsionis hotel.


"Apa maksud kamu? Kamu pasti salah lihat! Mas Ikram nggak mungkin ada di sini, Lid! Dia itu lagi kerja di luar kota!" kataku sambil terengah ketika baru sampai di depan Lidya.


Lidya menggigit bibirnya sebelum angkat suara.


"Kamu boleh, An, benci sama aku karena masalah kita dulu. Tapi aku nggak pernah bohong! Itu beneran Pak Ikram sama cewek lain! Aku lihat pakai mata kepalaku sendiri."


Lidya kemudian menatap si resepsionis tersebut.


"Mbak coba cariin nama Ikram Pramudya, apa dia pernah nginep di sini? Cepetan!" perintah Lidya sambil melotot tajam, resepsionis tersebut mengangguk kemudian mengetikkan sesuatu dan mengamati layar monitor di depannya.


"Penginap yang bernama Ikram Pramudya memang memesan kamar dan baru saja cek in sejak Selasa pagi, Bu. Beberapa kali juga sempat menginap di hotel kami."


Bagai tersambar petir, kata resepsionis tersebut membuat tubuhku lemas seketika.


Tapi... yang bernama Ikram Pramudya bukan hanya suamiku, bukan? Banyak orang yang bernama Ikram di dunia ini, bukan?


Aku menggelengkan kepala, menolak semua kemungkinan buruk yang mulai muncul di kepalaku.


Apa Ikram nggak pernah nyentuh aku karena udah dapet jatah dari cewek lain?


Lidya mengusap lenganku lembut. "Mbak saya mau ketemu suami saya? Dia di room nomor berapa? Dan boleh nggak saya pinjem acces card cadangannya?" kataku dengan nada lirih. Bahkan rasanya mataku sudah berkaca saat ini.


Resepsionis itu mengerjab beberapa kali, tampak ragu dan akhirnya menolak halus permintaanku barusan. Aku paham memang meminta acess card tidak semudah itu. Tidak boleh semua orang seenaknya meminta Acess Card dan keluar masuk ke dalam room orang lain kecuali petugas service room.


"Maaf sekali, Ibu. Kami benar-benar tidak bisa memberikan Acess card tersebut. Ini menyangkut peraturan dan privacy yang di tetapkan oleh Hotel kami," kata resepsionis tersebut menolak dengan halus, menyatukan kedua telapak tangannya, dan membungkuk sedikit.


Lidya berdecak. Lebih geram daripada aku.


"Pelit banget, sih, Mbak, suami dia itu lagi ada di dalem! Mbak cewek, kan? Gimana perasaan Mbaknya kalau seumpama suami Mbak ke hotel sama cewek lain? Temen saya cuma mau mastiin, doang, Mbak. Kalau pun kami salah orang, nanti kami bakalan pulang!"


Resepsionis tersebut melirik teman di sebelah kanannya seolah meminta pendapat.


"Maaf, Ibu. Tap—" kemudian Lidya merogoh dompetnya di saku kanannyha dan menyerahkan lima lembar uang sertaus ribuan.


"Ini, Mbak uang tutup mulut."


Resepsionis tersebut menggeleng dan hendak mengembalikan uang yang tadi diberikan Lidya.


"Mbak saya mohon, suami saya dia ada di atas, kita cuma mau mastiin aja. Please, Mbak."


Aku mulai menangis, kali ini semua perasaan berkecamuk di hatiku.


Lidya berkacak pinggang dan menatap resepsionis tersebut dengan amat jengkel.


"Mbak kenal Pak Liem? Atasan di hotel ini? Jangan sampai, ya, saya nelpon dia dan nyuruh mecat Mbaknya kalau saya udah jengkel!"


Aku tidak mengerti apa yang baru saja Lidya katakan. Seolah tahu keherananku Lidya berbisik pelan di telingaku.


"Pelanggan aku, salah satu orang dalem. Manager di hotel ini. Bandot tua umur enam puluh limaan. Mitranya Rudi juga, hehe," bisik Lidya diakhiri dengan kerlingan matanya.


"Maaf Ibu, tidak bisa!" tolak resepsionis itu lagi tetapi kali ini dengan nada jengkel.


Lidya merogoh ponselnya dari dalam tasnya kemudian menelepon seseorang dengan angkuhnya.


"Halo," kata seorang pria di seberang sana.


"Halo, Liem Sayang."


"Iya, gimana?"


Mata resepsionis tersebut terbuka lebar kemudian segera menarik tangan Lidya dengan ketakutan. Resepsionis tersebut langsung mencari tumpukan acess card dari dalam laci dan mengulurkannya kepada Lidya.


"Nomor D213, Mbak. Lantai empat," katanya dengan pelan dan ketakutan. Lidya tersenyum bangga sekali karena berhasil.


Aku langsung mengambil acess card tersebut kemudian langsung berjalan memasuki lift yang membawaku ke lantai empat.


Ketika aku sudah sampai di depan pintu kamar D213, tanganku gemetar ketika menempelkan kartu acces card tersebut ke kunci pintu.


Aku berharap, aku yang salah, dan Ikram tidak ada di dalam. Apabila yang berada di dalam adalah orang lain maka aku akan meminta maaf kepada orang tersebut.


Aku menelan ludah ketika warna pada lampu pintu menjadi biru yang artinya kunci pintu ini sudah terbuka. Dengan gemetar aku menggerakan gagang pintu ke bawah kemudian mendorong pintu tersebut sampai terbuka.


Napasku tercekat, tubuhku kaku seolah tidak dapat kugerakan sama sekali, jantungku rasanya berhenti bergerak sangat sakit ketika mengetahui Ikram memang sedang berada di dalam sana.


Ikram, saat ini sedang telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menempel pada tubuhnya, dan saat ini dia terlihat sedang berhubungan intim dengan seorang wanita yang dipangkunya dan nampak mereka sedang memasuki satu sama lain.


Aku menutup mulutku tidak percaya dengan ini semua. Bibirku bergetar, air mataku tumpah, dadaku seolah terasa begitu sesak.


"Mas Ikram..."


***


Napasku tercekat, tubuhku kaku seolah tidak dapat kugerakan sama sekali, jantungku rasanya berhenti berdetak, begitu sakit rasanya ketika mengetahui Ikram memang sedang berada di dalam sana.


Ikram, saat ini sedang telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menempel pada tubuhnya, dan saat ini dia terlihat sedang berhubungan intim dengan seorang wanita yang dipangkunya dan nampak mereka sedang memasuki satu sama lain.


"Mas Ikram..."


Suaraku terdengar begitu pilu dan menyayat hati. Aku memegangi dadaku yang terasa begitu sesak.


Ikram dan wanita tersebut nampak begitu kaget melihat keberadaaanku di sini. Sedangkan wanita yang tadinya sedang berhubungan intim dengan suamiku langsung menjerit kecil, dia juga kaget ketika pintu kamar ini terbuka. Buru-buru wanita itu tersebut meraih selimut dan menutupi tubuh telanjangnya sampai di atas dada. Ikram yang juga nampak tak kalah paniknya langsung mengambil piyama yang tergantung di dinding.


Aku menangis terisak, untuk kesekian kalinya tidak percaya dengan ini semua. Aku berharap ini semua mimpi. Tapi sialnya tidak.


Ikram menyelingkuhiku.


Aku berjalan dengan langkah berat memasuki ruangan ini, kemudian aku mengunci pintu kamar agar orang lain tidak tahu jika suamiku sedang ada di dalam dengan wanita lain.


Mungkin aku gila karena sesakit ini pun aku masih berusaha menyembunyikan aib suamiku sendiri yang tidur dengan wanita lain di hotel ini.


Jika saat ini aku langsung marah besar kepadanya dan orang lain yang lewat mengetahui pertengkaran kami, maka itu sama saja mempermalukan Ikram di depan umum. Terlebih lorong hotel ini pasti memiliki CCTV.


Setelah pintu tertutup, mungkin kini aku bisa marah atau berteriak karena kamar ini pasti kedap suara.


"An... dengerin aku, Sayang. Ini nggak seperti yang kamu pikirkan," kata Ikram setelah dia sudah mengenakan piyamanya dan memegang erat kedua bahuku.


Aku merasa mulutku tidak dapat lagi berkata apa pun dan hanya mampu mengeluarkan isakan yang terdengar menyedihkan.


Ini semua begitu sakit sekali, hatiku remuk redam. Air mataku sudah tidak dapat ku bendung lagi.


Jadi... selama enam bulan dia tidak mau menyentuhku tetapi ternyata dia mendapatkan kebutuhan biologisnya dengan orang lain?


"Aku bisa jelasin semuanya ke kamu, An. An, please dengerin aku dulu!" Ikram nampak panik dan wajahnya begitu pias, bersalah.


Aku menggeleng, apapun alasannya perselingkuhan tetaplah suatu hal yang salah. Dia mengatakan jijik kepadaku dan tidak mau menyentuhku sedangkan dia sendiri berselingkuh dan menyentuh tubuh wanita lain yang bukan istrinya. Hal itu lebih menjijikan daripada kelakuanku dulu.


"Jelasin apa lagi? Semuanya udah jelas, Mas," suaraku melemah bercampur dengan isakan kesedihan.


"Ini nggak seperti yang kamu bayangin, An."


Aku menatap tidak percaya dengan laki-laki di depanku ini. Kenapa dia memperlakukanku sejahat ini? Kenapa dia harus bersikap manis kepadaku dan membuatku jatuh cinta jika nyatanya dia sejahat ini kepadaku dan selingkuh di belakangku? Seolah dia mengajakku terbang ke atas awan kemudian dia menjatuhkanku sampai semua tulang-tulangku remuk.


"Aku emang punya salah, Mas. Tapi nggak kayak gini juga kamu bales aku. Kamu jahat banget sama aku, Mas."


Aku menutup wajahku yang bersimbah air mata.


...Nanti sehabis dari Bandung, kita liburan ke Maldives, ya? Aku pengin manjain kamu...


...I Love you, An. Aku cinta banget sama kamu, aku nggak mau pisah sama kamu. Aku cinta sama kamu...


...Makasih, ya, An, karena udah jadi istri terbaik buat aku. Makasih udah nyiapin kebutuhanku selama ini. Makasih udah ngelayani aku, masakin buat aku. Aku bersyukur punya istri sebaik kamu...


...Kamu tetep cantik, kok, meskipun pakai baju casual kayak gitu. Kamu selalu cantik setiap hari di mataku...


Semua perkataan manis Ikram seolah muncul kembali di ingatanku, dan hal tersebut begitu terasa menyakitkan sekali.


Kenapa? Kenapa dia melakukan ini semua kepadaku? Rasanya aku ingin mati saja saat ini. Ini semua begitu sakit.


"Nggak, An. Maafin aku . Please dengerin aku dulu."


Ikram mencoba memelukku namun aku bergerak tidak mau. Aku menolak pelukannya dan menatapnya penuh luka.


"Aku cinta, An, sama kamu," katanya dengan getir. Aku melihat matanya memerah...


Dan dia menangis...


Aku menggelengkan kepalaku. Ini semua sudah jelas. Dan jika dia mencintaiku seharusnya dia tidak menyelingkuhiku dan memperlakukanku seperti ini.


"Kamu bilang kamu ke Bandung tetapi kamu ternyata pergi ke hotel dan tidur sama cewek lain! Dan kamu bilang kamu cuti ngajakin aku liburan keluar negeri? Gila, kamu, ya, Mas!"


Aku memukul dadanya dan masih menangis terisak. Ikram benar-benar bajingan.


Sekarang benang merah itu sudah menjadi bentuk yang semakin jelas. Sekarang aku sudah paham semua ini. Tentang dia yang tiba-tiba berubah menjadi baik dan perhatian kepadaku yang hanya untuk menutupi kesalahannya yang ia perbuat di belakangku.


Tentang dia yang tiba-tiba meminta maaf kepadaku ketika kami duduk di sofa berdua.


Tentang kebohongannya mengenai padatnya jadwal pekerjaannya dengan alasan lembur sampai larut malam dan bodohnya aku menunggu kepulangannya di sofa ruang keluarga sampai ketiduran sedangkan mungkin di waktu yang bersamaan dia sedang tidur dan bercumbu dengan selingkuhannya.


Tentang nomor yang selalu menghubunginya.


Tentang Ibu-ibu yang mengatakan Ikram sering datang ke Villa, yang mungkin datang dan menginap satu selimut dengan selingkuhannya tersebut.


Tentang senyuman Ikram ketika menatap ponselnya.


Lututku lemas, tubuhku merongsot ke bawah dan aku menangis pilu sesenggukan. Rasanya begitu menyakitkan. Kenapa aku telat menyadari semua ini?


Perhatiannya, kata-kata manisnya, ciuman hangat di keningku dan di bibirku. Semuanya palsu!


Aku seperti wanita bodoh yang menyemir sepatunya di jam sepuluh malam dan menahan kantukku hanya agar suamiku tampil terbaik dan aku juga mengantarkan keberangkatannya ke Bandung padahal aku mengantarkan keberangkatannya kepada selingkuhannya.


Kenapa Ikram sejahat ini denganku.


"Maafin aku, Anha. Maafin, Aku."


Ikram memelukku, aku tidak dapat berkata apa-apa lagi karena ini semua begitu sakit.


Aku menatap wanita selingkuhannya itu. Hanya ingin memastikan seberapa hebatnya dirinya daripada aku sampai mampu membuat suamiku berpaling dariku.


Aku bangun dari posisiku dan hendak melangkah ingin menjambak ataupun mencakar wajahnya sampai mati sekalian tetapi Ikram menghadangku dan memegang lenganku dengan erat.


Aku menatap wanita tersebut yang saat ini sedang menunduk ketakutan sambil menangis.


Tidak ada yang sepesial dari selingkuhan Ikram tersebut. Kulitnya sawo matang seperti kebanyakan orang Jawa pada umumnya, rambutnya hitam sebahu, wajahnya juga biasa-biasa saja. Bahkan sekali lihat pun semua orang juga bisa tahu kalau aku ini lebih cantik daripada wanita tersebut.


Dia bukan tandinganku sama sekali. Seharusnya jika Ikram selingkuh, dia harusnya mencari wanita yang lebih cantik dan levelnya harus di atasku.


Apa yang sepesial dari wanita itu?


Tidak! Wanita itu biasa saja. Dia tidak terlihat seperti jalang murahan, bahkan aku berani bertaruh tidak mungkin dia yang menggoda suamiku duluan.


Ditambah lagi jika dia yang menggoda suamiku, saat ini seharusnya dia tersenyum miring kepadaku karena merasa dia menang. Tetapi kenapa wanita tersebut malahan menangis dan menggigit bibirnya ketakutan?


Tetapi hal tersebut malahan semakin membuat jantungku terasa semakin berdenyut ngilu, pisau tak kasat mata yang sejak tadi menghunus jantungku kini terasa semakin menusuk semakin dalam lagi.


Itu artinya Ikramlah yang mendekati wanita tersebut...


"Apa dia masih perawan waktu pertama kali kalian tidur?" kataku kepada Ikram sambil menatapnya pilu. Aku mengusap air mataku dengan kasar.


Ikram hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaanku sama sekali.


"Jawab aku! Mas!" teriakku dengan masih saja menangis. Aku benci air mata sialan ini yang tidak dapat kuhentikan dan terus saja mengalir di pipiku.


Ikram mengangguk pelan, matanya Ikram benar-benar merah dan dia menangis.


Aku menatap wanita itu lagi...


Tiba-tiba tubuhku terasa kaku seperti tidak dapat kugerakkan sama sekali dan jantungku seolah berhenti berdenyut.


Aku menutup mulutku tidak percaya dengan apa yang saat ini sedang kulihat...