After Marriage

After Marriage
Menjelang Pernikahan



Namun aku merasa kehilangan ketika ia bergerak mundur untuk memberi jarak antara tubuh kami. Kemudian dia menempelkan keningnya di keningku, hidung kami bergesekan, dia menatap mataku dalam-dalam. Aku bisa merasakan embusan napasnya yang hangat mengenai pori-pori wajahku, dan yang paling menggairahkan adalah bibir basahnya karena ciuman kami barusan membuat pipiku memanas.


"Sisanya nanti, ya, kalau kita udah nikah," kata Ikram dengan napas terengah sama seperti deru napasku saat ini.


Aku memeluk Ikram, menenggelamkan wajahku di dadanya karena malu sudah seagresif tadi. Ikram terkekeh dan mengusap rambutku pelan.


"Kayaknya kita telat, deh."


Aku mundur melepaskan pelukan kami dan menatap jam di dinding. Benar saja, kami telat lima belas menit, tentunya itu semua karena ciuman panas tadi.


Aku dan Ikram tertawa mengingat kejadian panas tadi. Ikram terus saja menggandeng tanganku sejak dari rumahku sampai di rumah Mai. Seolah agar orang lain tahu bahwa aku ini adalah miliknya, terlebih lagi tatapan tidak suka yang selalu Ikram tampilkan ketika beberapa pria di acara tasyakuran Mai menatapku.


"Aku nggak suka mereka lihat-lihat kamu," katanya pelan. Aku tertawa melihatnya cemburu seperti itu.


"Dulu waktu kuliah malahan banyak banget yang godain aku, loh. Ya, gitu sampai siul-siul kayak waktu aku lagi di jalan."


Ikram semakin menunjukkan ekspresi kesalnya.


"Kamu, sih, cantiknya kebangetan. Pokoknya nanti kalau kita udah nikah kamu nggak boleh pakai baju-baju seksi di luar rumah. Bolehnya kalau lagi sama kau, doang. Nggak boleh dandan cantik juga."


Aku memutar bola mataku kemudian mencubit pinggangnya pelan. Selain pencemburu, ternyata Ikram orangnya sangat posessive, berbeda dengan sikap cueknya saat kami baru pertama kali bertemu.


Kami memasuki ruang utama.


Di bangku panjang beludru berwarna merah, aku melihat Mai yang menggunakan gamis berwarna putih dengan hijab yang warnanya senada, Mai terlihat sedang duduk memegangi perutnya yang memang terlihat mulai membesar. Tetapi mataku juga menangkap anak kecil seumuran dengan Diego yang sedang duduk di sebelah Mai. Dan di sebelah kiri Mai terlihat seorang yang memakai baju koko berwarna putih, satu motif dengan baju yang dikenakan oleh Mai—yang kutebak pasti itu adalah suaminya.


Mai berdiri dan menghampiriku ketika melihatku mencoba berjalan melewati kumpulan para tamu yang lainnya.


"Anha!"


Mai langsung berjalan mendekatiku kemudian memelukku. Aku membalas pelukannya.


"Aku kangen banget sama kamu, An."


Aku terkekeh mendengar perkataan Mai. Tetapi selang tiga detik kemudian aku berpura-pura memutar bola mataku lalu menyilangkan tanganku.


"Aku nggak, tuh!" kataku sewot membuat Mai tertawa lepas.


"Kamu, tuh, ya, dari dulu judesnya nggak ilang-ilang."


"Apaan, sih. Salah sendiri nikah nggak udang-undang aku! Teman macem apa itu!"


Mai tertawa, kemudian menyuruhku duduk di kursi dekat tempatnya duduk, aku menyalami suaminya, disusul dengan Ikram yang mengekoriku dan menyalami suami Mai juga. Aku mencubit pipi tembam anak kecil di sebelah Mai, dia itu sangat lucu sekali. Suatu saat nanti pasti aku akan mengenalkannya dengan Diego supaya mereka bisa bermain bersama.


"Eh, Mas ganteng itu siapa kamu, An?"


Mai menyenggol lenganku dan menaik turunkan alisnya setengah mengejekku.


"Calon. Doain, ya, moga cepet nyusul kamu."


"Aamiin."


Aku dan Mai sibuk bercerita mengenai kehidupan kami setelah lulus.


"Rencananya aku sama Mas Doni bakalan pindak dan menetap di Semarang, An. Tapi rumah kami yang di Semarang masih tahap pembangunan. Dua bulan lagi bakalan selesai kayaknya."


"Serius? Kukira kamu sama suamimu bakalan terus netap di Bandung."


"Ciyin, Cayang," kataku dengan gemas kepadanya, tanganku bergerak memanggilnya agar dia mau mendekat.


"Ayo salim sama Tante Anha," kata Mai menyuruh anak itu untuk mendekat kepadaku. Putri Mai tersebut membenamkan wajahnya di samping perut Mai karena malu. Aku semakin gemas melihatnya, rasanya aku juga ingin cepat-cepat menikah dan ingin segera memiliki anak selucu Shiren.


Sesekali aku melirik Ikram yang sedang ngobrol santai dengan Doni sambil menggerakkan tangannya entah membahas soal apa. Ikram memang mudah bersosialisai dengan orang lain, mungkin karena pekerjaannya yang menuntutnya bertemu dan mengahadapi banyak klien sehingga membuat dirinya supel.


Ketika tatapan kami bertemu, Ikram memberikan senyuman kepadaku. Aku juga otomatis tersenyum balik kepadanya.


Tiga puluh menit lebih aku ngobrol dan mencicipi makanan di acara Mai. Ketika hendak pulang Mai memeluk erat diriku.


"Kamu sering-sering main, ya, An. Kan, aku udah tinggal di Semarang. Aku masih kangen sama kamu," kata Mai.


"Pasti, kok. Dan Ciyin cayang, Tante pulang dulu, ya."


Aku menciumi pipi tembam anak itu, rasanya ingin kukarungi dan kubawa pulang putri lucu Mai.


"Ciyin ucapin dada ke Tante. Ayo, Sayang."


Mai membujuk Shiren. Aku melambaikan tangan dan anak kecil itu membalas lambaiannku.


"Hati-hati, Tante," katanya dengan suara imut. Lucunya.


"Kamu suka banget, ya, sama anak kecil?" kata Ikram ketika kami sedang berada di perjalaan pulang menuju ke rumahnya.


Aku mengangguk.


"Aku itu anak tunggal, dari dulu Mama sibuk kerja dan aku sejak kecil aku ditinggal di rumah sendirian bareng pembantuku. Jadi aku sering kesepian gitu."


Ikram megusap pucuk kepalaku sambil tersenyum hangat.


"Nanti aku buatin, deh. Kamu mau pre order anak cewek atau cowok kalau udah nikah?"


"Ih, apaan, sih."


Satu tinjuan kecil mendarat di bahunya membuatnya tertawa terbahak.


"Aku, sih, cewek atau cowok nggak masalah."


Ikram mengangguk kemudian kembali memfokuskan pandangannya ke jalan. Hening beberapa saat di antara kami berdua, hanya terdengar suara klakson dari pengendara lain.


"Kalau aku malahan punya adik, tapi rasanya kayak nggak punya adik."


"Maksudnya?"


Ikram terdiam sejenak seolah terselip rasa sedih diraut wajahnya.


"Nanti kalau di rumah, ya, baru aku certain ke kamu."


Aku mengangguk. Perjalanan untuk sampai ke rumahnya membutuhkan waktu lebih dari satu jam mengingat jarak kami dari rumah Mai begitu jauh.


Setibanya di rumah Ikram mataku membulat karena cukup kaget ketika melihat ternyata rumahnya sangat besar dengan dua pilar ukiran di bagian depan. Dia ini sangat kaya. Ya, wajar, sih, mengingat dia seorang owner yang memiliki banyak outlet alat optik.


Ikram menggandeng tanganku, mengajakku untuk masuk ke dalam rumahnya. Pembantu Ikam buru-buru membukakan pintu ketika tuannya ternyata sudah sampai di rumah.