
"Kamu akhir akhir ini sering makan, ya?" kata Hasan berbasa basi disela kegiatan makannya sambil tersenyum hangat melihat pacarnya yang sedang makan dengan lahap itu.
Anha menganggukkan kepala, memang sejak pacaran dengan Hasan dia jadi sering makan karena Hasan sering membelikannya jajanan. Bisa bisa Anha gendutan karena makmur.
Namun setelah itu Anha terdiam karena teringat akan suatu hal...
Anha memasang wajah sedih ala puppy eyes andalannya, matanya seolah olah dibuat memelas mungkin. Lalu dia mengucapkan…
"Kenapa kalau aku sering makan? Jangan jangan nanti kalau aku nanti gendut kamu bakalan nggak suka lagi, ya, sama aku?" kata Anha sambil cemberut dan memanyunkan bibirnya, dengan bermanja dengan Hasan.
Hasan terkekeh dan mengusap pucuk rambut Anha yang lucu ini—untung saja di sini sedang sepi.
"Mana ada, aku bakalan tetep cinta, kok sama kamu. Mau kamu gendut atau engga itu nggak masalah banget buat aku. Kalau kamu gendutan, kan, malahan lucu. Pipinya pasti temban dan enak banget buat dicubit. Terus juga anget kalau dipeluk," kata Hasan sambil mencubit dengan gemas pipi Anha yang masih mengunyah makanan itu.
Anha menepuk tangan Hasan yang jahil itu sambil tertawa dan meraup wajah Hasan.
"Gombal, ih, Pak Managerku ini. Siapa yang ngajarin coba?"
Mereka tertawa bersamaan. Rasa cinta Hasan kepada Anha semakin hari semakin bertambah besar saja.
Hasan sangat menikmati sekali moment moment romantic seperti ini. Pun sama, Anha juga sangat menikmati romantisme yang sederhana namun terasa manis dengan Hasan tersebut.
Jarang sekali Anha dan Hasan mengobrol bersama ketika sedang berada di tempat kerja seperti ini.
Lantaran nanti sore Hasan ada janji bertemu kliennya, maka Hasan ingin menyampaikan hal tersebut kepada Anha saat ini juga.
"Anha…"
"Boleh nggak aku ngomong sesuatu sama kamu?” tanya Hasan dengan saksama.
“Boleh, dong. Kenapa juga kamu pakek izin ke aku segala. Emangnya kamu mau ngomong apa?” kata Anha sambil berganti menyeruput minumannya.
“Um… Maaf, ya, kalau timmingnya agak nggak pas. Tapi aku boleh nggak nanya sesutu sama kamu?" tanya Hasan sambil menatap Anha yang mengangguk anggukan kepalanya itu.
"Anha… Sebentar lagi, kan, kita bakalan nikah. Jadi salah satu dari kita harus keluar dari perusahaan ini karena aturan kantor, kan, emang seperti itu. Jadi gimana kalau nanti kamu aja yang resign dari kerjaan ini?"
Anha yang mendengar hal tersebut seketika terdiam, gerakan mengunyahnya terehenti, dan matanya mengerjab beberapa kali.
Berhenti dari kerjaannya?
Um… memang, sih, peraturan yang berlaku di perusahaan ini antar karyawan tidak boleh sepasang suami istri atau menikah karena cinta lokasi.
Kalau masih hanya sekadar pacaran, sih, boleh boleh saja. Asal bisa professional dengan pekerjaan masing masing dan dapat menempatkan diri dengan baik.
Perusahaan menerapkan hal tersebut tentunya ada alasan tersendiri. Dan alasan yang Anha ketahui adalah di kantor ini tidak boleh ada pasangan yang sudah menikah dan mau tidak mau harus keluar salah satu karena takutnya nanti akan mengganggu pekerjaan dan tidak dapat bersikap professional. Apalagi jika cuti karena urusan keluarga, pastinya akan ada dua orang yang libur secara bersamaan.
Anha menatap Hasan dalam diam. Anha sadar, posisi Hasan diperusahaan ini lebih tinggi dan lebih menguntungkan perusahaan ini daripada dirinya yang hanya sekadar staff biasa.
Tapi…
***
Follow juga instagramku: @Mayangsu_ di sana aku lebih aktif dan post banyak info tentang novelku + jadwal update + visual tokoh. Makasih.