After Marriage

After Marriage
Hasan



"Ka-kamu!" kataku dengan terbata sambil menunjuk dirinya ketika aku melihatnya yang saat ini orang itu malahan sedang duduk di sebelahku sambil tersenyum lebar.


Tampan.


Ah, maksudku... Maksud ku... Kenapa aku bisa se-nerveous ini!


"Kenapa kamu bisa ada di sini? Kamu stalker, ya? Paparazi, ya? Nakutin banget, ih!" kata ku bergidik ngeri kepada sifatnya yang ternyata bisa muncul di mana mana.


Jelas saja ini semua tidak, lah, kebetulan semata. Pasti dia sengaja membututiku sejak tadi sampai sini!


Ya Tuhan! Aku tidak mengira ada lelaki yang lebih gila lagi dari pada lelaki ini.


"Iya. Aku sengaja ngikutin kamu. Maaf, ya, bikin kamu ketakutan. Nggak tahu kenapa, kamu menarik hatiku aja," kata nya dengan santai membuat pipiku memerah.


Senyumnya... Manis sekali.


Namun aku mencoba dengan sekuat tenaga untuk tidak merespons perkataan lekaki tersebut dan memilih untuk membuang muka.


"Nih, minum," katanya sambil menyodorkan botol air mineral kepadaku.


Aku menelan ludah. Suasana masih terasa panas karena masih pukul setengah tiga sore dan matahari belum tenggelam sepenuhnya.


Aku pun sejujurnya sedang dalam keadaan kehausan sekali.


Apalagi tadi  aku tidak sempat membeli teh yang dijual oleh pedagang asongan demi supaya aku bisa membayar ongkos naik bus untuk transit nanti.


Tanganku bergerak hendak mengambil minuman yang lelaki ber jas biru itu berikan kepadaku.


Tetapi aku berhenti sejenak. Kemudian aku menatapnya. Menyelidik. Otak warasku menganalisa sejenak.


Bagaimana jika minuman ini sudah di campur nya dengan obat obatan? Kan, siap tahu? Contohnya obat perangsang atau obat tidur begitu?


Lelaki itu mengeyit ketika aku hanya terdiam saja.


Ah iya! Pasti itu! Apa lagi botol air mineral ini masih utuh dan anehnya tidak ada segelnya.


Mencurigakan sekali.


Sekarang spekulasiku bertambah dan aku yakin seribu persen kalau lelaki ini bisa jadi memang bekerja sebagai orang yang menjual organ dalam manusia di pasar gelap dan saat ini dia sedang mengincar diriku yang polos ini.


Aku tidak mau dan aku mengarahkan air mineral tersebut kepadanya lagi.


Di tambah lagi kenapa dia repot repot mengikutiku sampai sini kalau memang tidak ada niatan terselubung sama sekali.


Mencurigakan! Aku tidak sebodoh itu.


Lelaki itu terkekeh melihat diriku yang masih betah sekali mengeryitkan keningku dengan tatapan menyelidik kepadanya.


Sepertinya dia mengerti tentang apa yang sedang aku pikirkan saat ini.


"Ini cuma air mineral biasa, kok. Sumpah," kata nya kemudian tangan kanannya bergerak memutar tutup botol tersebut untuk membukanya, kemudian dia meminumnya dalam beberapa tegak.


Aku mengamatinya dengan saksama.


Astaga! Kenapa minum saja dia sudah terlihat hot seperti itu.


Apalagi tadi ketika jakunnya yang bergerak ketika dia menelan air dalam mulutnya itu.


Dia meminum seperempat isi dari air mineral tersebut.


Sekarang aku tersenyum. Dan aku baru percaya kalau dia sebenarnya tidak ada niatan buruk sama sekali kepadaku-- bahkan aku merasa sedikit malu kepadanya karena sudah berpikir yang tidak tidak kepadanya.


Setelah dia selesai minum. Dia mengusap bibirnya dengan punggung tangannya dan menyodorkan kembali botol air mineral tersebut kepadaku. Kini aku mengangguk dan mau meminum air mineral tersebut.


"Makasi..." Aku menatapnya lamat lamat. Canggung. Bingung hendak memanggilnya apa.


"Hasan. Namaku Hasan. Nama kamu siapa kalau boleh tahu?" katanya kepadaku.


"A-Anha. Namaku Anha." kataku dengan singakat-- dan sialnya sedikit terbata ketika menjawab perkataannya tadi.


Setelah itu aku dan lelaki yang memperkenalkan diri sebagai Hasan itu menatap lurus ke arah depan.


"Aku... Sebenernya aku..."


Aku menengok ke arah samping. Melihat Hasan yang tampak gusar dan mengsap rambutnya pada sisi sebelah kanan.


"Ya?" kataku menunggu ucapan selanjut nya..


"Aku... Aku ngikutin kamu sampai sejauh ini nggak punya maksud apa apa kok. Aku cuma... Cuma..."


Aku mengeryitkan dahi dan mencoba menyimak ucapannya yang terputus itu.


"Cuma apa?" tanyaku lagi kepadanya.


Katanya sambil masih mentap lurus ke arah depan.


Aku mengerjabkan mataku. Pipiku terasa menghangat ketika mendengar hal tersrbut dari bibirnya.


Sudah ribuan lelaki yang meluncurkan kalimat gomabalannya kepadaku.


Sudah sering aku mendengar kalimat pujian cantik dari lawan jenis yang di tujukan kepadaku.


Tetapi entah mengapa. Rasanya  berbeda sekali ketika lelaki yang belum pernah kutemui ini yang mengucapkannya kepadaku.


Perkataannya terdengar tulus. Kebanyakan lelaki memuji diriku karena bentuk tubuhku atau pun karena parasku.


Tapi dia berbeda. Definisi cantik yang ia katakan tadi karena sikap tegas ku ketika menghadapi Pak Erwin.


'Nggak tahu kenapa, kamu terlihat semakin cantik waktu kamu bela agamamu itu.'


Entah mengapa. Kalimat itu terdengar sangat manis.


Aku memegang dadaku. Dan ternyata benar. Hati yang sudah lama mati ini seolah berdetak lagi.


Dan lucunya lagi hati ini berdetak karena orang baru yang belum pernah aku kenal sebelumnya.


Apakah ini cinta?


Aku memejamkan mataku. Tidak. Ini terlaku cepat. Mungkin perasaanku saja saat ini yang salah mendefinisikan ini semua.


Meski pun pada kenyataannya jantung ini masih saja berdetak tidak karuan dibuatnya.


"Mau makan sore bareng nggak?" tawarnya kepadaku.


Aku menatapnya sekilas. Dia juga sedang menatapku. Padangan kami berbenturan dan menyatu sejenak.


Bisakah aku percaya dengan orang ini? Tapi, kan, dia ini orang asing.


Aku tidak boleh langsung sok dekat dengannya. Bisa jadi dia betulan orang jahat. Bukannya aku suuzon. Aku hanya sedang berhati hati, tidak ada salahnya, bukan?


"Ini kartu nama saya. Kamu nggak perlu khawatir. Saya tahu kamu tipe cewek yang nggak mudah percaya sama seseorang. Kamu bisa nyari saya kalau sampai saya macam- macam sama kamu," katanya sambil mengulurkan kartu nama miliknya yang merah mengkilat.


Mulutku terbuka. Dia ternyata sarjana S2 terlihat dari nanya dengan gelar M.Kom di belakang namanya.


Bukan hanya itu. Dia manager di sebuah perusahaan Telekomnunikasi?


"Ah, nggak usah. Ini udah sore banget. Mungkin lain waktu aja," kataku ke padanya mencoba menolak dengan halus agar dia tidak tersinggung.


Aku menatapnya. Mencari-cari kebenaran dari wajahnya yang saat ini sedang tersenyum teduh sampai sudut matanya mengerut.


Bisakah orang ini aku percaya?


"Cuma makan sore aja, kok. Di deket deket sini. Saya cuma pengin deket sama kamu aja. Nanti pulangnya kamu bisa naik bus lagi atau saya anterin pulang juga boleh. Kalau nggak salah, di situ ada tempat makan yang enak. Kalau kamu masih curiga. Kita bisa jalan kaki sampai sana. Dan nggak mungkin juga saya ngapa ngapain kamu di rumah makan, kan?" katanya di akhiri dengan tawa candaan agar aku tidak terlalu tegang.


Aku ikut tertawa. Tetapi tetap saja masih belum bisa memutuskan apakah aku harus menerima tawaran untuk makan sore bersamanya atau tidak.


Bus berwarna kuning yang menuju jalur ke arah rumahku datang.


Beberapa orang yang hendak menaki bus tersebut sudah siap siap berdiri di pinggir jalan.


Aku menatap lagi lelaki ini untuk kedua kalinya. Kemudian aku mengembalikan kartu nama milik nya yang berwarna merah mengilat itu.


"Um, maaf. Mungkin lain waktu aja ya," kataku menolak denga halus.


Tampak lelaki itu terlihat sedikit sedih.


Bus semakin mendekat. Beberapa orang sudah siap-siap untuk masuk dan menjinjing barang bawaan mereka.


Ketika aku hendak memasuki bus kota. Aku menatap ke arah belakang dan melihat nya saat ini sedang menunduk sambil menatap kartu namanya yang berwarna merah itu.


Entah mengapa ada sesuatu hal yang menggerakan hatiku. Aku mengurungkan niatku.


Menurutku makan sore dengan seseorang yang baru tidak ada salahnya, sih.


"Hasan!" kataku setengah berteriak. Dia mengangkat pandangannya yang semula tertunduk hingga kini tertuju kepadaku.


"Boleh, deh. Yuk, makan sore bareng. Kayaknya aku masih punya waktu setengah jam an lagi," kataku sambil tersenyum lembut. Hasan pun tersenyum bahagia sekali.


"Serius?" katanya. Aku menganggukan kepala.


"Yuk."


"Yuk."