After Marriage

After Marriage
Alasanmu Bercerai Dulu



“Ngagetin, ih, kamu!” kata Anha sambil melotot karena Hasan tiba tiba memeluknya dari belakang. Untung saja dia tidak berteriak, hanya sedikit terperanjat.


Hasan tersenyum dan menyenderkan dagunya pada pudak Anha.


“Kayaknya enak, deh, masakanmu,” kata Hasan karena masakan Anha memang terlihat sangat menggoda, apalagi kini perutnya sudah terasa meronta ronta ingin segera makan.


“Kamu tunggu aja di sana aja sambil nonton TV dulu. Masih kurang lauknya tahu.”


Hasan menggelengkan kepala tidak mau.


“Nggak mau, aku pengin mesra mesraan sama kamu,” kata Hasan sambil menciumi pundak Anha membuatnya kegelian.


Anha cemberut. Merasa agak kesal juga karena Hasan memeluknya agak erat dan menganggunya membuat Anha kesusahan dalam bergerak.


“Nanti nggak selesai selesai, lho.”


Anha mematikan kompornya setelah tumis kacang campur potongan tempe dadu dan sedikit udangnya sudah selesai. Namun lelaki tampan ini masih memeluknya dari belakang dengan erat.


“Nikah, yuk, sama aku,” bisik Hasan pada telinganya membuat Anha merona seketika.


Benar, ya, kata orang. Pria itu bisa berubah menjadi sangat manja sekali kepada pasangannya jika dia sudah cinta dan merasa sangat nyaman. Ya, contohnya seperti bayi besar bernama Hasan ini.


“Minggir, ih. Katanya laper, nanti malahan lebih lama lagi lho masaknya.”


Hasan akhirnya mengalah dan kembali duduk lagi di tempatnya semula.


Setelah itu Anha baru bebas melanjutkan kembali masakannya.


Tinggal lauk dan nasinya saja untuk bagian yang terakhir.


Setelah semuanya sudah matang, Anha menyiapkan dua piring makanan dan duduk di sofa sebelah Hasan berada.


Hasan tersenyum dan mengucapkan terima kasih ketika menerima makanan tersebut.


Mereka menikmati makanan tersebut bersama sambil menonton televisi bersama.


“Halah cuma tumis sama ayam, doang, kok, enak dari mananya coba,” kata Anha seolah biasa saja padahal dia sangat senang dipuji oleh Hasan.


“Besok kalau nikah kamu wajib, ya, masakin aku yang banyak. Aku ketagihan sama masakan kamu.”


Anha mengangguk sambil mengunyah makanan dalam mulutnya.


Setelah selesai makan Anha dan Hasan bergantian mecuci tangannya di washtafel yang berada di dekat dapur mininya itu.


Kini Anha dan Hasan menikmati menonton televisi bersama dan Anha menyenderkan kepalanya pada bahu Hasan dan dia melipat kakinya di atas sofa.


Sesekali Hasan mencium pucuk kepala Anha dengan penuh kasih sayang. Suasana sudah rileks. Hasan tersenyum simpul, kini saatnya sudah tepat menanyai banyak hal yang sudah dipendam Hasan sejak kemarin kepada Anha.


“Anha…”


“Hmmm?” gumam Anha sambil mengganti chanel televisi karena sudah tidak seru tayangannya.


“Omong omong, kenapa dulu kamu bisa cerai sama suami kamu? Nggak ada salahnya, kan, kalau aku juga pengin tahu?” kata Hasan dengan hati-hati kepada Anha.


Anha diam sejenak untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan yang Hasan berikan tersebut.


“Kami cerai karena nggak cocok aja. Kami sering cekcok dan berantem terus,” ucap Anha singkat kepada Hasan. Dia menjawab sebisanya. Tidak usah detail detail amat. Yang bagian Anha diselingkuhi Ikram tidak usah diceritakan kepada Hasan, bukannya tidak mau jujur dan terbuka. Hanya saja itu termasuk aib dari Ikram.


Barang siapa yang menyembunyikan aib orang lain maka kelak aib mereka juga akan Tuhan sembunyikan, bukan?


Hasan tersenyum dan membelai dengan lembut rambut hitam panjang Anha.


“Kok, bisa, sih, cewek kayak kamu disia siain kayak gitu, An, sama dia?”


Ya, mau bagaimana lagi. Buktinya juga seperti itu, kan?