After Marriage

After Marriage
Pilih Hasan atau Sean?



Ketika aku hendak memasuki mobil tiba tiba seseorang datang mendekat.


Kemudian orang tersebut mengatakan kepadaku bahwa aku tidak boleh pergi dengan Hasan membuatku dengan Hasan mengeryitkan dahi bersamaan. Apa maksudnya coba?


"Kakak. Pokoknya jangan pergi sama dia," kata Sean sambil memegang pergelangan tanganku ketika aku hendak memasuki mobil. Mataku mengerjab beberapa kali untuk menatapnya dengan saksama.


Sontak hal tersebut memicu respons yang kurang mengenakkan oleh Hasan.


"An, buruan kita masuk. Keburu jam makan siang habis," kata Hasan mengingatkanku dengan tegas bahwa secara tidak langsung dan secara tidak kami sadar saat ini Sean mengulur waktu kami juga.


"Maaf, Sean. Kakak harus pergi karena sebelumnya kakak udah janjian sama Kak Hasan buat makan siang bareng. Kamu kalau ada keperluan sama Kakak. Kita bisa ngobrol setelah jam kerja selesai, oke?" kataku panjang lebar mencoba menjelaskan kepada Sean agar dia mengerti dan agar dia mau melepaskan tangaku yang masih digengamnya ini.


"Sean mohon. Sean lagi butuk kakak banget," kata Sean dengan wajah memelas membuatku jadi luluh dan merasa tidak tega.


Ditambah lagi jika aku mengingat hari ini dia terlihat murung, tidak seperti hari hari biasanya malahan membuatku semakin simpati saja kepadanya.


Hasan yang merasa bahwa diriku mulai terpengaruh oleh Sean langsung otomatis mendekati kami dan mengenggam pergelangan tanganku-- lebih tepatnya tangan Hasan saat ini berada di atas tangan Sean yang masih juga memegangi tanganku.


Kedua lelaki berbeda umur ini memengang pergelangan tanganku secara bersamaan.


Aku menatap ke arah Sean. Kemudian menatap ke arah Hasan juga. Mereka saling bertukar pandangan dengan sengitnya seolah mereka berdua adalah musuh bebuyutan.


Dan... Apakah ini semua karena aku?


Kenapa, sih, mereka berdua tidak pernah akur sekali saja?


"Lepasin tangan Anha," kata Hasan dengan dingin kepada Sean.


"Om yang lepasin dia. Aku nggak suka kalau Kak Anha pergi sama Om seenaknya," kata Sean balik.


"Emang kamu siapa dan apa hak kamu ngelarang Anha pergi sama aku? Kamu kan cuma bocah ingusan bagi Anha."


"San!" kataku memperingatinya karena mengingat saat ini Sean sedang bernapas kembang kempis menahan emosi.


Bisa jadi Sean benar benar akan menghajar Hasan saat ini juga jika aku tidak menyuruh Hasan berhenti berbicara. Menginga Sean masih muda dan emosinya masih labil-- dia tipe anak yang masih menggebu gebu dalam segala hal.


"Kenapa kita nggak nyuruh Kak Anha aja buat milih dia mau pergi sama siapa?" tanya Sean dengan nada dingin. Aku membulatkan mataku dan rahangku terjatuh ke bawah.


'Hah, maksudnya apa? Kenapa sekarang malahan aku yang disuruh memilih antara mereka berdua? Dasar sinting mereka ini!' kataku dalam hati.


"Fine. Kita lihat aja Anha lebih milih siapa?" kata Hasan sambil tersenyum miring karena merasa menang mengingat kami sudah janjian untuk makan siang bersama sebelumnya.


Aku menatap wajah Hasan. Kemudian aku menatap wajah Sean yang masih saja menampilkan ekpresi datar dan dinginnya itu. Bukan ekspresi tengil pada biasanya.


Tangan mereka berdua masih saja betah memegangi pergelangan tanganku dari tadi.


Aduh! Cinta segitiga memang serumit ini dan hampir membuat kepalaku berasa mau pecah saja!


Kenapa juga aku harus memilih satu antara mereka? Memangnya jika aku memilih salah satu dari dua di antara mereka maka aku akan mendapatkan uang seratus juta begitu?


Tapi mau tidak mau aku memang haru memilih satu di antara mereka.


Aku menatap wajah Sean.


"Sean. Maafin kakakk, ya, karena kakak harus pergi sama kak Hasan karena kakak sebelumnya udah janji bakalan makan siang sama kak Hasan. Kakak janji besok gantian kak Anha makan sama kamu, ya, ya, ya?" kataku mencoba membujuknya.


Aku sengaja menjanjikannya untuk makan siang besok karena aku tidak ingin sean marah dan malahan merusah hubungan baik kami juga.


Hasan tersenyum karena merasa menang.


Sean menatapku dengan tajam. Aku tidak dapat membaca apa yang saat ini sedang ia rasakan.


"Sekarang udah denger sendiri, kan, keputusan dari Anha. Maka sekarang lepasin tangan dia. Kami mau makan siang bersama," kata Hasan mengingatkan kembali Sean yang masih memegang tanganku.


Aku menatap Sean. Sejujurnya aku tidak tega juga kepadanya.


"Oke. Aku lepasin. Ternyata Tante nggak ada bedanya sama orang lain. Emang seharusnya aku nggak berharap lebih kalau Tante bakalan peduli sama orang yang memang pada kenyataanya nggak Tante kenal sama sekali. Maaf duah ganggu waktu Tante," kata Sean dengan dingin--dan terdengar sedih-- kemudian dia melepaskan tangannya dari tanganku.


Aku menelan ludahku. Dia bergerak pergi. Apa maksudnya tadi mengenai sama seperti yang lainnya dan tidak peduli terhadapnya?


Aku menatap Hasan yang hanya menatapku dalam diam dan sepertinya Hasan juga merasa kalimat Sean tersebut terasa terdengar begitu ganjil.


Hasan...


Tetapi bukannya Hasan sudah ada yang punya? Si gadis cantik dengan hidung mancung dan rambut yang tergurai sampai sepinggang itu.


Aku mengukir ekpresi sedih pada wajahku.


Memang seharusnya aku pergi dengan Sean saja.


Aku melepaskan tangan Hasan yang masih memegang tanganku kemudian aku berlari mengejar Sean yang berjalan beberapa langkah dariku.


"Sean!" teriakku sambil mengejarnya.


Aku tahu ada yang tidak beres dengan anak itu! Pasti ada sesuatu terhadapnya yang ia sembunyikan. Suatu beban hebat yang dia pikul sendiri sehingga dia membutuhkanku saat ini.


"Anha!" teriak Hasan namun aku mengabaikannya.


Hasan bisa makan siang dengan Bella. Bisa berlibur bersama di akhir bulan juga, kan?!


Sialan!


Sean lebih membutuhkanku saat ini.


Hasan memanggil manggil diriku dari arah belakang. Kemudian dia memukul body mobilnya karena aku mengabaikannya.


"Se-Sean... " kataku dengan napas terengah engah karena kecapaian mengejar dirinya yang berjalan cukup cepat itu. Dan untung saja dia dapat a


kususul sampai di sini.


"Kenapa Tante ngejar aku? Tante milih aku, ya? Aku tersentuh," kata Sean dengan mata berbinar.


Aku mengeratkan gigiku dan menjitak anak ini sampai dia mengaduh kesakitan.


Dasar anak tengil ini!


"Kamu sekali lagi manggil aku Tante. Aku jitak kepalamu pakai palu!" kataku dengan geram kepadanya sambil memelototkan mataku.


Namun tanpa terduga sama sekali saat ini Sean malahan menarikku dan memelukku dalam dekapanya.


Mataku membulat tidak percaya dengan apa yang saat ini dia lakukan.


"Makasih, ya, Tante. Seenggaknya ada satu orang lagi yang peduli sama aku di dunia ini. Makasih banget," katanya dengan lirih tepat di telingaku.


Kemudian aku mengusap punggungnya dan menepuk nepuk punggungnya seolah aku sedang menenangkan hatinya.


"Punya Tante gede juga. Hehe. Terasa kenyaaaaa... Aduh Tante.... sakit!" teriak Sean keskitan karena aku menjambak rambut anak ini dari belakang.


Kurang ajar sekali ini bocah! Mencari kesempatan dalam kesempitan!