After Marriage

After Marriage
Aku Janda



“Sya-syarat apa?”


“Emang kamu janji bakalan menuhi syarat aku?” tanya Anha lagi.


“Apapun itu, selama aku bisa, maka aku bakalan penuhi, kok, Sayang.”


Anha tidak muluk muluk, dia hanya akan mengajukan tiga syarat saja kepada Hasan.


“Syarat yang pertama, kamu harus janji sama aku kalau kamu bakalan ngejauhin Bella atau cewek lain dari diri kamu. Aku paling nggak suka, ya, kalau kamu deket deket sama cewek lain. Aku cemburu.”


Hasan tersenyum dan mengangguk patuh. Itu hanya syarat yang sangat mudah. Bagi seorang pria, ketika dia sudah mememukan tambatan hatinya untuk berlabuh. Maka mereka tidak akan menengok lagi ke wanita lain selain pasangannya.


“Iya, aku janji, kok,” kata Hasan sambil menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Anha.


“Terus syarat yang kedua…” Anha menjeda sejenak ucapanya.


“Aku mau, besok kalau kita nikah. Kita tinggalnya di rumah sendiri ataupun di apartement kamu. Aku nggak mau tinggal satu rumah bareng orang tua kamu, San.”


Hasan terdiam sejenak mendengar kata-kata itu. Dia mencoba berpikir dan menimbang nimbang. Anha hanya tersenyum datar, belajar dari pengalaman pahit perilaku mantan Mama mertuanya dulu yang memperlakukan Anha dengan tidak baik membuat Anha sedikit trauma dan takut tinggal satu atap dengan mama mertua.


Hasan menatap lamat lamat manik cokelat indah milik Anha. Baiklah, tak masalah. Toh, Hasan tidak dekat dengan kedua orang tuanya--lebih tepatnya tidak akur.


Kemudian mengangguk menyetujui syarat ke dua yang dibebankan Anha kepadanya.


“Syarat yang ketiga?” tanya Hasan sambil menaikkan sebelah alisnya.


Anha tersenyum. “Syarat ketiga…” dia menggantung sejenak ucapannya.


“Syarat ketiga bakalan aku kasih tahu belakangan. Oke?” kata Anha sambil mengedipkan sebelah matanya. Hasan mengangguk. Apapun keingina Anha, dia akan mencoba menurutinya. Karena Anhalah ratunya.


Anha melepaskan tangannya yang tadi merangkul Hasan pada belakang tengkuknya.


Misi pertama mengatakan jika Anha menerima lamaran Hasan sudah berhasil. Sekarang tinggal misi yang kedua yaitu mengatakan kepada Hasan tentang semuanya jika Anha adalah seorang Janda.


Mau tidak mau, berani tidak berani. Anha harus mengatakan kenyataan tersebut kepada Hasan. Semakin cepat Anha mengatakannya, maka semakin bagus.


“Hasan. Aku boleh ngomong sesuatu nggak sama kamu?” tanya Anah sambil menarik pelan lengan kemeja Hasan.


Hasan mengeryitkan dahinya, entah mengapa sekarang atmosfernya yang semula bahagia kini berubah menjadi tegang. Seolah Anha akan mengatakn sesuatu yang amat serius saja sampai membuatnya mati penasaran.


“Boleh, kok. Kenapa juga kamu harus izin ke aku?”


Anha menggigit bibir bawahnya. Bingung hendak mengatakannya atau tidak padahal dia sudah mengumpulka keberaniannya sejak kemarin di rumah.


Dan sialannya kenapa sekarang jantungnya berdetak sangat kencang padahal tadi Anha merasa biasa biasa saja.


“Hasan…” kata Anha lirih karena agak takut juga.


“Ya?”


“Ka-kalau seumpamanya aku ngomong  ke kamu kalau sebenernya aku itu seorang Janda. Ka-kamu masih mau nggak nerima aku?” kata Anha sambil menundukkan kepalanya ke bawah dan memaikan jemarinya yang basah karena keringat dingin.


Hasan mengeryit masih tidak mengerti dengan semua ini.


“Ma-maksudnya?”


Anha memberanikan diri untuk mengangkat pandangannya yang semula tertunduk.


Sudahlah. Kalau Hasan benar benar mencintainya, pasti Hasan mau menerima statusnya tersebut.


“I-iya. Sebenernya aku udah pernah nikah dan aku juga seorang janda. Apa kamu masih mau nerima aku?” kata Anha dengan lirih sambil menatap netra hitam milik Hasan.


Hasan terdiam. Matanya membulat. Dia mengerjab beberapa kali. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


“Apa?!”


“Iya, aku janda,” ulang Anha. Bodo amatlah.


Sungguh. Hasan benar benar kaget akan semua ini.


“A-aku…”


***


Instagram penulis: Mayangsu_