
"Anha, jadi jadi ikut njemput Shiren, nggak?" kata Mai dari luar kamar sambil mengetuk pintu. Aku yang tadinya sedang tiduran dan sedang asyik bermain HP langsung bangun dari posisi tersebut dan mencoba berjalan untuk membukakan pintu kamar.
"Mau," kataku dengan antusias seperti anak kecil yang ditawari permen. Kini aku sudah tidak bersedih lagi. Marwa yang tadi sempat tidur kini sudah bangun dan sedang digendong oleh Mai.
"Malwa cayangg," kataku sambil menyentuh pelan jari-jari kecilnya.
Imut.
"Yuk, buruan. Takutnya kalau Shiren udah nungguin lama di depan sekolah."
Aku mengangguk, setelah membawa tas kecilku aku berjalan mengekori Mai. Kupikir kami akan naik mobil atau naik taksi online tetapi ternyata kata Mai kami cukup hanya jalan kaki saja karena jarak rumah dengan jarak TK BUNDA PELITA dekat dengan kompelks ini, hanya perlu berjalan kaki beberapa ratus meter saja.
Mai membawa Marwa dengan menggunakan stroller bayi. Jalan pun tidak terlalu panas karena di sekeliling jalan ditumbuhi oleh banyaknya pepohonan yang rindang.
Sepanjang perjalanan aku juga mengobrol hangat dengan Mai sehingga tanpa terasa perjalan kami terasa begitu singkat.
"Umi!" teriak Shiren kemudian anak manis itu berlari ke arah kami. Kemudian Shiren memeluk Uminya, lalu mencium punggung tangannya.
"Tante juga ikut?" tanya Shiren kemudian anak manis itu gantian mencium punggung tanganku. Aku mengangguk.
Mai berjalan sambil masih fokus mendorong stroller bayinya sedangkan aku berjalan sambil menggandeng tangan Shiren. Mai mengatakan supermarketnya berada tidak jauh dari TK tempat sekolah Shiren.
"Tadi pelajarannya tentang apa?" tanyaku kepada Shiren dengan lembut. Shiren menceritakan hari ini anak-anak sedang sibuk pakaria, ada yng membuat rumah-rumahan dari stik ice cream, ada yang membuat asbak dari bungkus rokok, ada yang membuat rumah-rumahan dari karton, dan masih banyak lagi.
Setelah sampai di super market Mai memberiku dafar belanjaan yang akan kami beli nanti.
Mai kesusahan jika membawa Marwa dan membawa trolli wadah barang belanjaan secara bersamaan karena biasanya dia tidak pernah membawa Marwa ketika dirinya sedang pergi berbelanja di super maket maupun di pasar.
Biasanya Marwa ia titipkan terlebih dahulu di rumah Eyangnya, setelah itu Mai baru bisa berbelanja tanpa rasa khawatir sama sekali karena Marwa sudah ada yang menjaga.
Aku mengngguk dan membawa troli belanja model jinjing yang berwarna merah di tangan kiriku sedangkan tangan kananku masih menggandeng tangan Shiren.
Mai dan aku berpisah dan janjian akan bertemu kembali nanti di dekat kasir jika sudah selesai berbelanja. Mai bilang dia ingin naik ke lantai dua untuk mencari barang bayi yang memang sedang diskon besar-besaran.
Uh, dasar emak-emak jika melihat diskonan!
Aku kini berkeliling dengan Shiren. Aku mulai memsukkan barang belanjan ke dalam teroli walaupun agak kesusahan karena bolak balik melepaskan tangan Shiren untuk mengambil sesaat barang yang berada di rak kemudian memegang tangan Shiren kembali.
Kenapa juga tempat ini tidak tersedia troli dengan model yang di dorong, sih. Aku tidak mau membiakan Shiren berjalan sendirian mengingat tempat ini luas dan agak ramai juga.
Aku takut jika nantinya Shiren hilang dan lari meskipun kalau dilihat-lihat hal itu tidak mungkin terjadi mengingat anak ini begitu kalem.
Aku berinisiatif untuk menggendong Shiren saja. Tangan kananku yang menahan gendongan Shiren sekalian bisa multifungsi juga untuk membawa troli ini dan aku juga menyuruh Shiren untuk membacakan barang yang hendak dibeli.
Semua daftar barang tersebut sudah kuambil dan kumasukkan kedalam troli. Kurang satu lagi yang belum.
"Susu bayi 1," kata Shiren dengan nada patah-patah mencoba mengeja tulisan pada kertas yang berisi daftar belanjaan itu.
Tangan kiriku mencoba meraih kaleng susu bubuk yang berada di rak paling atas sendiri. Kakiku menjijit, tangan kiriku mencoba menggapai-gapai namun ternyata masih juga tidak sampai.
Apa aku harus menurunkan Shiren terlebih dahulu, ya?
Tanpa kusadari sebuah tangan terulur untuk mengambilkan susu tersebut untukku.
Tangan seorang lelaki. Aku menatapnya, hendak mengucapkan terima kasih kepadanya karena dia sudah mengambilkan susu tersebut untukku. Namun pipiku memerah ketika mengetahui dia ternyata masih anak sekolahan.
"Nih," katanya sambil memberikan susu kalengan tersebut ke tangan kiriku.
Gesture anak itu tinggi, tingginya sekitar seratus tujuh puluhan mungkin--atau bisa lebih. Seragamnya tidak ia masukan, wajahnya sebenarnya tampan dan manis, rambutnya sedikit acak-acakan dan dasinya tidak rapi sama sekali.
Aku meringis melihatnya, pasti dia ini termasuk anak badung sekali di sekolahnya. Tampilannya sebelas dua belas mirip sekali dengan Angga--mantan pertamaku ketika aku masih SMA dulu.
Dia sedang menghisap permen milkita.
Astaga bocah!
Wajah badboy tetapi hobinya makan permen. Walaupun begitu tetap saja tidak mengurangi ketampanannya.
"Ih lucunya," katanya sambil mengusap rambut hitam Shiren. Shiren hanya terdiam saja sambil beberapa kali matanya mengerjab dengan polos.
"Ini buat kamu," katanya sambil memberikan permen milkita dengan bungkus berwarna hijau.
"Kata Umi, Shiren gaboyeh nerima permen atau cokelat dali olang asing, Kakak."
Shiren menenggelamkan wajahnya di dadaku karena memang Shiren anaknya pemalu. Aku tertawa geli melihat kelucuan Shiren. Bocah lelaki itu menaikkan sebelah alisnya dan tangannya masih terulur kaku memberikan permen tersebut ke Shiren.
"Ayo Sayang, nggak papa, kok. Tadi, kan, Kakak baik hati itu udah nolong kita," kataku dengan lembut karena tidak tega juga dengan anak itu. Akhirnya Shiren mau mengambil permen tersebut sambil mengucapkan terima kasih kemudian menenggelemkan wajahnya lagi di dadaku.
"Ini anak Mbak, ya? Kok, nggak mirip, sih? Meski gitu tetep sama-sama cantik, sih," katanya menilai. Aku hanya meringis saja. Ya, jelas saja tidak mirip, orang aku bukan ibunya!
"Anha, udah apa belum? Yuk, buruan kalau udah. Keburu siang nanti panas!" teriak Mai dari arah belakang yang ternyata dia sudah berdiri di dekat kasir. Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada anak laki-laki tersebut.
"Ya, elah Bro, dicariin ke mana-mana ternyata ada di sini, lu," kata teman anak lelaki tersebut.
Sayup-sayup aku masih bisa mendengar perkataan mereka berdua tanpa perlu menoleh ke arah belakang. Aku melihat Mai yang sudah membawa satu box yang berisi dot bayi yang sedang diskon. Ya ampun orang ini benar-benar memburu diskon di atas ternyata.
Karyawan kasir mulai menghitung harga barang belanjaan kami. Sedangkan aku sudah menurunkan Shiren yang menikmati permen pemberian anak lelaki tadi.
"Woi! Diajak ngomong malahan bengong aja! Ngapain juga pipi lu merah kayak gitu?" kata temannya karena merasa terabaikan.
"Ah, sial. Cakep-cakep masak udah punya anak, sih."
Kini tinggallah diriku, dengan pipi yang bersemu merah.
***
Pukul empat sore hari. Badanku sudah terasa begitu lengket sekali. Aku yang sudah membawa handuk di pundakku hendak mandi namun urung ketika mengetahui ternyata keran air pada kamar mandi ini tidak dapat menyala.
Memang di kamar mandi kecil ini hanya ada satu ember berwarna merah dengan ukuran yang cukup besar serta satu gayung. Tidak ada yang namanya shower-showeran.
Ya, maklum saja, lah. Namanya juga kamar untuk tamu menginap dan kamar ini jarang pula dipakai kecuali ketika sedang ada sanak saudara Mai yang kebetulan menginap di rumah ini.
Jadi tidak mungkin juga Mai membuat kamar tamu ini mewah dan penuh fasilitas seperti kamar utama. Aku tidak banyak protes. Diizinkan untuk menumpang menginap di sini saja aku sudah sangat beryukur, kok. Maka dari itu aku juga enjoy-enjoy saja, sih.
Air dari ember yang tadi pagi semula terisi penuh memang sore ini hanya tersisa sedikit sekali karena tadi pagi sudah kugunakan untuk mandi dan untuk mencuci baju juga.
Dan bodohnya juga aku tadi siang tidak sempat mengisi ulang air yang berada di dalam ember.
Lalu, setelah itu, apa yang harus aku lakukan sekarang ini?
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Kemudian aku memutuskan untuk pergi keluar kamar sejenak hendak meminta bantuan dari Mai namun ketika aku mengecek keberadaan Mai entah itu di dalam dapur dan di ruang keluarga ternyata Mai tidak ada sama sekali.
Aku yang hedak berjalan kembali ke kamarku kini hanya melihat Mas Doni yang sedang memasuki rumah sambil melepas helmnya dan melepaskan sepatunya di dekat pintu masuk.
Aku menggigit bibir dalamku dan mulai berpikir sejeak. Menimbang nimbang keputusan yang hendak kuambil saat ini.
Aku hendak mandi. Air di dalam kamar mandiku tidak menyala. Kemudian ternyata Mai tidak ada di rumah. Lalu… Apa tidak apa, ya, jika aku meminta bantuan kepada Mas Doni? Apa iya aku tidak usah mandi saja sampai besok pagi? Tapi tubuhku sudah lengket dan bau kecut sekali. Rasanya benar-benar tidak nyaman dan lengket.
Tetapi apa lebih baiknya menganggu saja mengingat Mas Doni saat ini baru saja pulang dari tempat kerjaannya?
Ah. Tidak apalah, aku coba saja.
"Mas Doni. Um… anu," aku menggantung ucapanku. Ragu. Mas doni mengeryit melihatiku yang aneh seperti ini.
"Ya?"
"Mas boleh nggak minta tolong sebentar?" kataku kemudian. Mas Doni terdiam sejenak. Kemudian dia mengernyitkan keningnya lebih dalam lagi. Dia tidak mengerti dengan apa yang sedang aku katakan barusan.
"Um… anu… Mas. Air di dalam kamar mandiku nggak bisa keluar. Aku nggak ngerti juga kenapa tiba tiba kok bisa kayak gitu. Maaf, ya, Mas ngerepotin padahal Mas Doni, kan, baru aja pulang dari kantor tapi…"
Aku menelan ludahku, bingung bagaimana caranya untuk mengatakannya kepada Mas Doni.
Aku meremas ujung bajuku. Duh, seharusnya aku menunggu saja sampai Mas Doni sudah beristirahat dulu. Pasti dia sedang lelah juga, kan?
"Owalah. Airnya nggak keluar? Ngomong atuh, Dek, jangan muter-muter kayak gitu," katanya sambil berjalan masuk ke dalam dan meletakkkan tasnya di sofa ruang keluarga sebelum melangkah lagi ke arah kamar yang kutempati dari sejak kemarin malam.
"Eh, tapi nanti aja juga nggak apa apa, kok, Mas. Kan, Mas Doni juga barusan pulang. Nggak enak akunya, Mas."
Mas Doni hanya tersenyum dengan ramah kepadaku.
"Nggak papa, kok. Lagian ngeberinnya nggak ada lima menitan paling. Emang kadang pipa keran airnya suka nggak kenceng makanya bocor salurannya. Santay aja, Dek."
Kemudian Mas Doni berjalan ke arah kamarku. Setelah itu memasuki kamar mandi dan menggelung kedua lengan kemejanya kemudian Mas Doni menekuk lututnya dan mulai mengutak atik saluran pipa dan keran air.
Aku tidak paham denagan apa yang sedang ia lakukan. Aku hanya berdiri di depan pintu kamar mandi yang masih terbuka sambil menunggu Mas Doni selesai berkutat dengan keran air tersebut.
"Udah selesai. Tadi emang kerannya yang bagian saluran bawah itu agak kendor. Emang biasa, sih, suka kayak gitu makanya nggak bisa ngalir. Nanti kalau masih nggak bisa lagi kamu cek yang bagian pipa bawah. Dan jangan lupa nanti matin kerannya kalau udah penuh embernya, ya," kata Mas Doni sambil menggerakkan tangannya ketika menjelaskan hal tersebut kepadaku.
Aku mengangguk paham dan mengucapkan terima kasih sekali kepadanya meskipun aku masih merasa sungkan karena memina tolong kepadanya.
Mas Doni mengusap bagian depan kemejanya yang agak basah karena tadi sempat terkena air juga ketika membetulkan keran air.
Ketika kami berdua sedang berjalan keluar dari dalam kamar bersamaan. Tanpa kami sadari ternyata Mai yang sedang menggendong Marwa dengan plastik keresek merah di tangan kirinya--yang sepertinya Mai baru saja habis selesai berbelanja dari luar.
Kini Mai menatapku dalam diam kemudian menatap Mas Doni juga secara bergantian dengan kening yang mengerut penuh tanda tanya dalam hati.
Aku menelan ludah.
Tidak-tidak, pasti saat ini Mai sedang berpikir macam-macam tentangku karena suaminya keluar bersamaan dengan diriku dari dalam kamar ini.
"Ma-Mai. Nggak gitu maksud ak--"
Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku Mai sudah berbalik badan dan pergi meninggalkanku dengan Mas Doni tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Aku menelan ludah, pasti Mai saat ini sedeang marah sekali kepadaku dan pasti dia juga sedang berpikir yang macam-macam tentangku. Aku harus bagaimana? Aku harus menjelaskannya kepada Mai mengenai situasi ini semua.
"Dia kenapa, ya, kok, cemberut gitu, Dek?" kata Mas Doni dengan wajah polosnya sambil menggaruk ujung hidung mancungnya.
Aku melotot tidak percaya dengan sifat tidak peka Mas Doni barusan. Jelas-jelas istrinya sedang cemburu juga tetapi Mas Doni ini tidak sadar sama sekali!
Dasar kaum Adam! Memang tidak pernah mengerti perasaan seorang wanita sama sekali! Benar-benar tidak peka sama sekali! Aku yang kesal langsung buru-buru mendorong pelan tubuh Mas Doni kemudian sesegera mungkin aku menutup pintu kamar ini.
Mas Doni semakin terheran heran dengan apa yang baru saja aku lakukan. Sesudah pintu kamar ini tertutup dengan sempurna aku mendengar Mas Doni bergumam sendiri yang sejujurnya memang mengundang gelak tawaku ketika aku mendengarnya.
"Apa mereka berdua lagi pada Mens barengan, ya, kok pada sensian semuanya?"
***
Follow juga instagramku: @Mayangsu_ di sana aku lebih aktif dan post banyak info tentang novelku + jadwal update + visual tokoh. Makasih.