After Marriage

After Marriage
Kunci



Seseorang yang berada dalam mobil itu kini masih mencengkeram erat stir mobilnya ketika melihat Hasan dan Anha berjalan sangat mesra sambil bergandengan tangan dari kejauhan.


Berbeda dengan Anha dan Hasan yang saat ini sedang tertawa bahagia. Melihat pemandangan tersebut  tampak orang itu tidak merasa senang sama sekali. Bahkan aura dari wajahnya tampak menggelap tidak bersahabat dan wajahnya muram.


“Anha. Kalau aku nggak bisa ngedapetin kamu. Maka cowok lain pun juga nggak boleh ngedapetin kamu, An,” gumam Ikram dengan suara pelan. Apapun yang terjadi, Anha harus kembali lagi kepelukannya. Meskipun segala cara ditempuhnya.


Entah apa yang menggerakkan Ikram sampai dia kali ini tidak meminta jasa mata matanya si Frans untuk menyelidiki Anha.


Ikram sengaja turun langsung karena ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri apakah benar informasi yang ia peroleh dari Frans  falid.


Ketika kemarin Ikram masih sibuk berkutat dengan dokumen dan pekerjaannya. Tiba tiba Frans mengirimi pesan kepadanya jika Anha--perempuan yang diselidikinya--akan menikah dengan calon suaminya tersebut.


Waktu itu Ikram hanya memutar bola matanya santai. Karena memang Ikram sendiri sudah tahu kalau Anha memang akan menikah, tetapi yang membuatnya terkejut adalah Frans juga menuliskan pesan jika ternyata pernikahan keduanya dipercepat dari tanggal sebelumnya.


Dan ternyata benar, ketika Ikram menyelidikinya sendiri, kini terlihat mereka keluar dari toko perhiasan tersebut sudah menjadi bukti nyata jika pernikahan mereka diam diam diajukan.


Ikram juga harus bertindak cepat. Karena akan sangat sulit memisahkan Anha dari lelaki itu jika mereka nanti sudah nikah.


Tapi terlepas dari itu semua, Ikram senang karena pergerakan Frans begitu cepatnya dalam mencari informasi.


Ikram tersenyum miring sambil menatap ke arah luar kaca mobilnya. Menatap Anha yang saat ini masuk ke dalam mobil pacarnya tersebut.


“Memangnya dengan cara kamu ngajuin hari pernikahanmu maka kamu bisa ngehindari aku gitu, An? Nggak, kamu salah. Apapun yang terjadi aku bakalan tetap ngehancurin hubunganmu sama dia, An.”


Ketika mobil Hasan sudah bergerak meninggalkan area depan toko perhiasan tersebut dan kini akan menuju ke tempat penyewaan kebaya. Ikram hanya mampu terdiam dan memilih sampai sini saja. Tidak perlu mengikuti.


Dia mereemas rambutnya ke belakang dan mengembuskan napas frustasi.


“Maafin aku, An. Aku emang jahat sama kamu. Tapi itu semua aku lakuin karena aku sayang sama kamu, An. Aku nggak rela kalau kamu nikah sama dia.”


***


Dewi melangkah masuk ke dalam rumah. Tampak dia saat ini sedang membawa tas pinggangnya yang mahal itu dan satu tote bag di tangannya seolah selesai dari suatu tempat.


Kini Dewi berjalan dengan terburu buru menaiki anak tangga utama di rumah mereka yang menghubungkan ruang tengah dengan kamar tidur utama.


Dan berdirilah dia di depan ruang kerja Ikram dengan perasaan yang berdebar debar dan peluh yang menetes di pelipisnya.


Dewi bergerak cepat memasukkan tangannya ke dalam tote bag berwarna cokelat yang dibawanya tersebut dan masih saja sibuk mencari suatu benda yang dicarinya sejak tadi.


‘Ayolah! Mumpung Ikram sedang tidak ada di rumah. Dia harus cepat menyelesaikan ini semua!’ gerutu gadis batinnya malahan membuat Dewi semakin tergesa gesa.


Karena tidak sabaran Dewi sampai mengeluarkan semua isi di tote bag-nya dan mengacak barang barangnya.


Dan ketemu!


Benda logam berawarna perak ini adalah kunci untuk membuka ruang kerja Ikram yang selalu ditutup rapat olehnya.


Dewi memang sengaja menyuruh tukang untuk membuatkan kunci duplikat ketika seminggu yang lalu Ikram keluar kota dengan alasan kunci utama dari ruang ini hilang dan menyebabkan ruangan tersebut tidak bisa dibuka sama sekali.


Dan barulah hari ini kunci tersebut jadi.


Tanpa banyak basa basi lagi karena minimnya waktu. Dewi buru buru memasukkan kunci tersebut pada lubang kunci di pintu ruang kerja Ikram.


Hari ini, rasa penasarannya akan terbayar sudah.