After Marriage

After Marriage
Lamaran 1



Memang ada, ya, teman yang cemburu kepada temannya yang lain jika tidak ada rasa sama sekali? Ikram menggandeng lenganku ketika kami selesai makan.


"Kita mau kemana?" tanyaku.


"Ke rumah kamu."


"Hah, ngapain?"


Keningku mengerut mendengarnya.


"Ngelamar kamu, lah," katanya sambil tersenyum jahil. Aku memukul pelan bahunya, apa dia tidak tahu ucapannya barusan itu tidak baik bagi kesehatan jantungku?


Ini hari week end, yang artinya Mama juga sedang berada di rumah karena sedang libur. Mama marah tidak, ya, jika aku membawa pulang seorang laki-laki?


Ah, tidak apa, lah. Lagian aku bukan Anak SMA yang harus sembunyi-sembunyi ketika dekat dengan lelaki, kan?


Ketika sampai di rumah, Ikram mencium tangan Mama. Mama nampak sangat bahagia menyambut kedatangan Ikram. Wajar, sih, karena selama ini aku memang jarang dekat dengan laki-laki.


Mama menyuruh Ikram masuk ke dalam,, mengajaknya mengobrol sebentar—dibandingkan mengobrol, Mama lebih mirip sedang mengintrogasi Ikram.


Tanpa basa basi Mama langsung bertanya siapa namanya, berapa umurnya, apa pekerjaannya, apa statusnya, dan bagaimana keluarganya? Aku menggaruk kepalaku, seharusnya aku memberi peringatan terlebih dahulu kepada Ikram sebelum dia main ke sini agar dia tidak kaget dengan sikap protektif Mama. Ikram menjawabnya dengan ramah dan sesekali bergurau dengan Mama.


"Jadi kamu pacar Anha?" tanya Mama dengan antusias sambil menyajikan teh hangat dan biskuit kepada kami. Aku memberi kode kepada Mama dengan menggelengkan kepalaku, tetapi ekspresi Mama malahan semakin menyengir bahagia dan menaik turunkan alisnya menggodaku. Ikram tidak menjawab dan hanya tersenyum ramah. Astaga malunya aku.


"Apaan, sih, Ma. Dia ini cuma temen aku, kok."


Mama menyilangkan tangannya.


"Kalau kalian pacaran Mama juga izinin, kok. Lagian kayaknya Nak Ikram ini orangnya baik dan kalem. Awal lihat aja Mama langsung suka."


Ya, Tuhan, ampuni hambamu ini.


Apa tadi katanya?


Mataku melotot—sama persis dengan ekpresi Mama saat ini. Apa tadi artinya Ikram baru saja melamarku? Setelah hening beberapa saat, akhirnya Mama pun angkat bicara.


"Maksudnya?" tanya Mama.


"Ikram suka sama Anha. Bukan sebagai teman ataupun sebagai pacar. Tapi Ikram pengin ngejalin hubungan yang serius sama Anha. Kami udah kenal selama empat bulan dan Ikram rasa Ikram cocok sama anak Tante. Dia baik, cantik, manis. Ikram pengin Anha jadi teman hidup Ikram," kata-kata panjang tersebut membuat suasana hening sesaat. Jantungku masih deg-degan karena ini semua rasanya seperti mimpi. Orang yang kusukai datang kerumahku dan langsung mengatakan kepada orang tuaku jika dia ingin menikahiku.


Maksudku... mantan-mantanku saja tidak ada yang seperti itu. Sedangkan dia...


Mama tersenyum bahagia, memandangiku dan Ikram secara bergantian.


"Tante nurut sama keputusan Anha. Karena Anha, kan, yang bakalan ngejalaninya. Selama anak Tante seneng, Tante juga ikut seneng."


Aku menggigit bibirku, jantungku masih berdegub sangat kencang rasanya. Apakah ini mimpi?


"Gimana, Anha?" tanya Mama sambil tersenyum, Mama meremas jemariku bahagia luar biasa.


"A-Aku..."


***


Senyumku dari tadi masih saja awet kutarik melengkung menghiasi sudut bibirku. Kini rasanya hatiku seperti dipenuhi hujan bunga-bunga yang sedang bermekaran indah.


Astaga, apakah jatuh cinta itu semanis ini?


Aku mengarahkan tangan kananku ke atas. Benda perak dengan batu permata indah di tengahnya yang saat ini sedang melingkar di jari manisku sebelah kanan membuatku teringat tentang potongan memori manis yang selalu berhasil membuatku tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila.


Mungkin benar kata orang, jatuh cinta bisa membuatmu jadi gila seketika.