After Marriage

After Marriage
Pulang ke Rumah Mama



Mai melenggang masuk sambil membawa kantung keresek hitam di tangan kanannya.


Aku tidak mampu berkata apa pun lagi dan hanya mampu menundukkan kepalaku ke bawah saking masih geroginya untuk bertatap muka dengan Mai.


Aku meremasi jemariku yang saling bertaut satu sama lainyang berada di pangkuanku.


Takut takut aku mencoba memberanikan diri untuk menatap wajah Mai.


“Apa, sih, An. Kayak lagi lihat setan aja, deh, kamu.”


Mai tersenyum dengan ramah ketika mengucapkan hal tersebut kepadaku, dia tahu dan sadar jika aku masih takut bertatap muka dengannya.


Kemudian setelah itu Mai duduk di sampingku yang malahan membuatku semakin canggung lagi kepadanya.


“Nih, nasih goreng buat kamu. Jangan lupa dimakan. Aku tahu kamu lagi kelaperan banget, hihi.” kata Mai sambil mengulurkan kantung keresek hitam yang berisi nasi goreng tersebut kepadaku.


Mai mengembuskan napas berat, dia kesal melihatku hanya diam saja seperti patung. Mai berinisiatif untuk langsung membukakan karet merah pembungkus dari nasi goreng itu kemudian Mai menyodorkannya kepadaku.


“Nih, dimakan atau aku bakalan ngambek lagi sama kamu, nih,” ancamnya sambil mendelik kesal kepadaku. Dengan gerakan kikuk aku mengucapkan terima kasih kepadanya dan mulai memakan nasi goreng itu. Enak juga. Lumayan, lah, dapat mengatasi perut keronconganku yang memang sudah kelaparan sejak tadi.


Mata Mai menatap ke arah tas ranselku yang sudah rapi terisi penuh di sudut kanan ranjang. Mai menatapnya dalam diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Mai seolah paham jika ternyata aku sudah mempersiapkan semuanya untuk hendak pergi dari rumahnya.


“Kok, kamu udah ngemasin barang-barang kamu, sih, An?” tanya Mai dengan wajah sedih seolah dia tidak rela jika aku harus pergi meninggalkan rumah ini.


Aku tersenyum dan mengangguk di sela mengunyah nasi goreng ini.


Bagaimanapun juga aku harus tetap pulang. Tidak enak juga jika aku harus menginap berhari-hari di rumah Mai. Takut menimbulakan fitnah dan menimbulkan kesalah pahaman lagi.


Menginap dua hari tiga malam di rumah Mai saja sudah menimbulkan fitnah sebegitu hebatnya apalagi jika aku terus menerus bertahan di sini sampai berminggu minggu? Malahan nantinya suasana akan menjadi semakin kacau lagi.


“Jangan pulang, dong, An. Maafin aku, An, karena tadi udah nuduh kamu yang enggak enggak. Aku nggak mau kalau kamu pulang,” kata Mai sambil memelukku dengan erat dari samping dan saat ini dia menangis di pundakku. Aku terkekeh melihat kelucuan Mai kemudian aku mengusap dengan lembut lengannya.


“Aku emang harusnya pulang, Mai. Nggak enak juga kalau aku kelamaan di sini. Entar malahan aku jadi di gosipin mulu sama ibu ibu kompleks gimana hayo?”


Aku tersenyum kepada Mai. Mai saat ini sedang menyeka air matanya.


“Kamu marah, ya, sama aku?” kata Mai membuatku mengeryitkan dahi.


Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Kenapa juga aku harus marah dengan Mai? Seharusnya Mailah yang sewajarnya marah kepadaku.


“Aku nggak marah, kok, Mai sama kamu. Memang rencananya malam ini atau besok pagi aku emang bakalan udah mau pulang. Aku juga udah nge- WA Mamaku juga. Kamu nggak salah apa apa Mai dan kamu jangan minta maaf sama aku. Malahan seharusnya aku yang minta maaf sama kamu karena udah bikin kamu salah paham dan bikin kamu sama Mas Doni berantem gara gara aku.”


Mai menggelengkan kepala.


“Nggak, aku yang salah,” kata Mai.


“Aku,” bantah Mai.


Aku tertawa kecil melihat tingkah kekanakan kami yang saling menyalahkan diri sendiri ini.


“Iya, iya, kamu yang salah Mai,” kataku karena memang dari kami berdua tidak ada yang mau mengalah. Kini Mai malahan menangis kemudian kami malahan saling berpelukan dan saling menangis bersama.


Baiklah, bilang saja ini sangat absurd dan konyol. Tetapi memang pada kenyataaanya hanya sahabatlah yang dapat merasakan moment ke absurd an seperti ini.


Seperti menangis bersama tanpa perlu membenci satu sama lain dan bertengkar sejenak, kemudian berbalikan setelah itu dan saling melemparkan kata maaf untuk satu sama lain. Setelah itu kami damai dan seolah tadi tidak ada masalah sama sekali.


Tetapi aku bersyukur karena besok ketika aku pulang ke rumah Mama aku tidak harus bermusuhan dengan Mai dan tidak memiliki dosa lagi kepadanya.


Besok aku akan meninggalkan rumah Mai tanpa harus menggoreskan rasa sakit hati pada hati sahabat baikku ini.


“Nah, gitu, kan, enak lihat kalian pelukan dan akur kayak teletubis gitu,” kata Mas Doni yang ternyata sedang bersedekap dada dan sedang menyandarkan punggungnya di pinggian kusen pintu menyadarkan kami berdua.


Ternayta Mas Doni sedari tadi masih mengamati aku dan Mai dari luar sana. Mai dan aku serempak langsung mengembuskan napas kesal setelah pelukan hangat kami berdua tersudahi.


“Jangan, lah, kalian beruda musuh musuhan kayak tadi, nggak baik. Padahal tadi sore kukira kalian mens barengan tau. Bisa galaknya barengan kayak singa lagi ngelahirin aja.”


Aku tertawa lepas kemudian Mai melemparkan bantal ke arah suaminya dan ternyata kena sasaran di wajah Mas Doni yang malahan menimbulkan gelak tawa dari kami bertiga.


Aku senang karena masalah ini sudah selesai.


Sehabis shalat subuh Mai mengantarkanku pulang ke rumah Mama dengan mengendarai motor maticnya.


Awalnya memang Mai ingin menyuruh Mas Doni untuk mengantarkanku pulang. Namun aku menolak tawaran dan ide Mai itu. Takut apabila nantinya terjadi salah paham lagi. Dan takut juga Ibu ibu di kompek ini akan suudzon dan akan memfitnahku lagi.


Hubungan kami sudah membaik meskipun sebelumnya Mai marah besar kepada suaminya tersebut karena gosip ibu ibu kurang kerjaan kemarin. Jangan sampailah terjadi kesalah pahaman lagi.


Jadilah Mai yang mengantarkanku pulang. Rumah Mai dan rumahku memang cukup jauh sekali. Mai berada di daerah atas sedangkan rumahku berada di daerah bawah sehingga perjalanan memakan waktu begitu lama.


Selama hampir satu jam perjalanan ada perasaan dag dig dug di hatiku Aku menggigit bibirku karena terlalu gugup.


Dan ketika motor Mai sudah memausuki halaman depan rumahku kini jantungku berdetak tak karuan lagi. Ada waswas yang menyelimuti hatiku.


Jujur saja aku masih takut beremu dengan Mama meski pun presentase ketakutan yang aku alami hanya empat puluh lima persen saja, sih.


Nanti… apa yang harus aku jelaskan kepada Mama?


Mai mengantarkanku sampai ke dalam rumahku seolah dia ingin memberikan kode kapada Mama jika selama hampir tiga hari ini aku benar-benar tinggal dan menginap di rumahnya dan aku di sana memang dalam keadaan yang baik baik saja. Mai hanya ingin supaya Mama tidak terlalu khawatir kepadaku.