After Marriage

After Marriage
Menceritakan kepada Mama



“Ini Mai, Ma. Sahabat Anha yang kemarin jadi induk semang Anha waktu Anha kabur… yeah, kabur. Hehe,” kataku menyengir kepada Mama yang sialnya memang saat ini ekspresi mama hanya tersenyum lebar dan ekspresi aslinya tidak dapat kutebak sama sekali.


Kan, bisa saja Mama menahan amarahnya karena ada Mai di sini. Tetapi ketika Mai nanti sudah pulang ke rumah. Aku percaya Mama akan memarahiku habis habisan. Apa lagi kemarin Mama sudah mengatakan bahwa Mama akan menginterogasi diriku ketika aku sudah pulang nanti.


“Nak Mai nggak mau mampir dulu? Makan-makan dulu gitu atau nyemil dulu? Masak baru sampai tapi udah buru buru banget mau pulang, sih? Tante, kan, belum ngasih cemilan sebagai tanda terima kasih karena udah bantu dan jagain anak Tante ini,” tawar Mama dengan ramah tetapi Mama mendelik kepadaku membuatku meringis ketakutan. Nah, kan, benar apa yang kukatakan tadi.


Mai tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya. Mencoba menolak tawaran Mama dengan ramah karena memang Mai harus secepatnya pulang ke rumah untuk mengurus suaminya dan mengurus Shiren yang nanti masuk sekolah juga.


Aku memeluk Mai dan mengucapkan terima kasih banyak atas bantuannya selama terakhir ini.


“Mai. Kalau kamu ada apa apa jangan sungkan, ya, buat minta tolong sama aku. Pintu rumahku bakalan selalu terbuka dua puluh empat jam buat kamu. HPku balahan nyala terus buat kamu, Mai. Kamu, kan, sahabat terbaik aku,” kataku ketika melepaskan pelukan kami berdua. Mai tersenyum kemudian mengangguk anggukan kepala.


“Semoga masalah kamu cepet selesai, ya, An. Aku bakalan bantu doain yang terbaik buat kamu.”


Aku mengangguk. Setelah itu Mai pulang dengan mengendarai motor maticnya meninggalkan kediamanku.


Kini tersisalah aku dan Mama saja di ruang tamu ini.


Aku berbalik badan dan kini aku menatap Mama yang tersenyum penuh arti seolah akan menelanku mentah mentah.


Mama menggerakan tangan kananya yang mengepal dan sebelah tangan kirinya terbuka seperti pereman yang hendak akan mengajarku.


Aku hanya mampu tersenyum meringis dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


“Anak ini bener bener, ya. Paling hobi bikin orang tua khawatir setengah mati. Udah anak perempuan satu satunya, keluar rumah nggak ngabarin sampai bikin jantungan juga! Kalau kamu ilang gimana, hah! Seharusnya kamu pulang atau kalau enggak, ya, langsung telepon Mama biar Mama nggak khawatir banget sama kamu, Anha!” omel Mama menyemburku.


Aku hanya memanyunkan bibirku hendak protes namun tidak jadi mengingat wajah Mama yang tadinya hanya ketawa ketiwi ketika masih ada Mai di sini namun kini wajah Mama berubah menjadi sangat galak sekali.


“Mama, Anha mau masuk ke kamar dulu, ya, Ma. Hehe. Mau istirahat sambil naruh baju dulu di dalam, Ma. Hehe,” kataku mencoba mengelak dari Mama.


“Masuk!” perintah mama sambil menunjuk ke arah pintu rumah. Mata Mama melotot. Mama Menolak mentah mentah perkataanku barusan. Mama benar-benar sedang dalam mode marah besar kepadaku.


Aku mengangguk pasrah dan berjalan dengan gontai ke arah dalam rumah.


Matilah kau Anha, kau akan disidang Mama terlebih dahulu sebelum sidang perceraianmu dengan suamimu itu! Rutukku dalam hati.


Lalu setelah itu aku dan Mama duduk berdampingan di sofa ruang keluarga kami menunggu moment moment persidahan dan penginterogasian yang hendak Mama lakukan.


Sebelum di sidang Mama mengulurkan teh hangat kepadaku. Aku tersenyum meringis ketika menerima teh buatan Mama itu. Teh ini seolah berasa seperti sesajen saja bagiku.


Tetapi ternyata berbeda, kini raut muka Mama sudah berubah bukan marah lagi, namun kini raut wajah mama sudah berganti menjadi sedih.


Inilah mengapa aku belum siap bertemu dengan Mama. Bukannya aku tidak siap untuk menghadapi mama tetapi lebih tepatnya aku masih belum siap jika harus menghadapi mama yang bersedih karena aku ini.


Ya, contohnya seperti saat ini. Selama hidupku ini, aku tidak akan pernah kuat melihat mamaku menangis.


“Mama kangen sama kamu. Mama khawatir banget waktu suamimu itu malem malem datang ke sini dan nanyain apa kamu lagi ada di sini. Kamu nggak tahu apa kalau kamu itu anak semata wayangnya Mama? Ya, jelas Mama khawatir banget sama kamu, Anha,” kata Mama dengan suara bergetar menahan pilu yang amat sangat itu.  Kini Mama menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan Mama mulai menangis.


Aku tidak mampu berkata apa-apa lagi. Aku hanya bisa mengusap pelan bahu Mama dan mencoba memintanya agar tidak menangis lagi. Apalagi menangis karena aku.


“Maafin Anha, ya, Ma. Waktu itu Anha memang belum sanggup banget untuk ketemu sama Mama. Anha takut, Ma. Anha nggak mau bikin Mama sedih. Maka dari itu Anha mutusin buat nginep dulu di rumahnya Mai dan nenangin diri di sana sampai Anha mampu buat ketemu lagi sama Mama dan ngejelasin ini semua sama Mama.”


Setelah itu aku memberitahu dan menceritakan semuanya kepada Mama tanpa ada yang perlu kututup tutupi sama sekali.


Semuanya.


Mulai dari Mas Ikram yang menalakku ketika malam pertama kami.


Menceritakan juga tentang janji empat bulan itu. Tentang Mama Erin yang menagih cucu dan selalu memerlakukanku dengan tidak baik. Mama Erin yang menghina diriku karena perbedaan kasta diantara kami.


Semuanya tidak ada yang kututup tutupi sama sekali. Bahkan sampai ketika masalah Ikram yang tidur dengan Dewi di hotel pun aku juga menceritakannya kepada Mama walaupun konsekuensinya kini Mama menangis dan sedih mendengarkan kejujuran yang keluar dari mulutku.


Entah mengapa kini rasanya begitu lega sekali karena aku sudah berhasil menceritakan itu semua kepada Mama. Beban hidup di diriku yang tadinya begitu berat kupikul kini sudah terasa ringan.


“Mama jangan nangis, dong. Anha jadi ikutan nangis, kan, Ma,” kataku dengan suara sumbang karena menangis kemudian aku memeluk Mama dengan erat.


Aku sudah berdamai dengan masa laluku. Tetapi tetap saja rasanya janungku begitu ngilu ketika melihat Mama menangis seperti ini.


“Kenapa kamu selama ini nggak pernah cerita sama Mama, An?” kata Mama di sela tangisannya. Aku menggelengkan kepala.


“Anha cuma nggak mau ngebebani Mama makanya Anha milih diem aja dan nggak nyeritain ini semua ke Mama,” kataku sambil menyeka air mataku yang menetes di pipiku sambil menunduk ke bawah.


“Nggak ada orang tua di dunia ini yang merasa terbebani ketika mereka mendengar keluhan dari anak-anak mereka, Anha. Seharusnya kamu ngomong itu semua sama Mamamu ini. Seharusnya kamu cerita sama Mama, Anha.”