
Anha berjalan gontai, kakinya perlahan melangkah melewati ruangan demi ruangan untuk menuju ke toilet yang letaknya berada di bagian sudut lantai lima ini.
Sesekali Anha menengok ke arah jam tangan yang berada di pergelangan tangan kirinya yang kini sudah menunjukkan pukul delapan lebih lima belas menit, malam.
Malam sudah beranjak semakin larut, tubuh Anha kini terasa amat begitu lelah. Ia ingin segera mungkin untuk pulang ke rumah. Kemudian setelah sampai di rumah, rencananya ia akan memasuki kamarnya, kemudian melangkah memasuki ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa amat lengket akan keringat.
Setelah semua selesai, dia akan beranjak ke tempat tidur untuk beristirahat dan menunggu sampai adzan subuh tiba untuk membangunkannya.
Namun rencana hanya tinggal rencana saja, karena pada kenyataanya sampai selarut ini pun Anha masih saja terjebak di kantor ini.
Ini semua karena Hasan yang dari tadi menahannya sejenak di ruangannya, begitu pula dengan Bella yang sama halnya menahan Anha sejenak di ruangannya untuk membahas tentang hal remeh temeh yaitu Anha disuruh untuk menjauhi Hasan.
Sebenarnya dalam hati Anha agak kesal juga terhadap Bella. Memangnya Bella itu siapanya Hasan? Pacar juga bukan, Istri juga bukan, lalu kenapa juga dia repot repot menyuruh Anha untuk menjauhi Hasan. Apa dia pikir selama ini Anhalah yang mengejar-ngejar Hasan begitu? Tidak ada Hasan pun masih banyak, kok, yang berlomba-lomba untuk mendekatinya.
Sesampainya di kamar mandi Anha membasuh wajahnya yang tampak kusut tersebut dengan air yang terasa dingin di permukaan kulit wajahnya.
Walaupun wajah Anha tidak sesegar tadi pagi, tetapi pantulan yang berada di dalam cermin tersebut tidak dapat berbohong dan tidak dapat menutupi kecantikan dari paras Anha.
Tidak peduli dengan beberapa surai anak rambutnya yang lolos dari ikatan dan terjatuh ke bawah, Anha masih tetap saja terlihat cantik.
Setelah selesai membasuh muka dan melakukan touch up makeup pada wajahnya agar tidak terlihat pucat. Kini Anha memasukkan make upnya ke dalam tas dan ia berjalan keluar.
Namun tanpa diduga sama sekali, seseorang menarik tangannya agak kencang membuat Anha sedikit mengaduh kesakitan.
Awalnya Anha pikir Bella-lah yang menarik tangannya. Namun dugaanya salah. Yang menarik tangan Anha adalah Hasan yang saat ini menatap Anha dalam diam dengan kening yang mengerut dan menampilkan ekspresi seperti tidak suka.
Tangan Anha yang bebas dari cengkeraman kini bergerak menyentuh dadanya yang terasa masih saja berdegub agak kencang, lega rasanya karena mngetahui ternyata orang tersebut adalah Hasan.
Tunggu dulu! Sejak kapan Hasan berada di sini?
“Ngagetin banget, ih, kamu. Kirain siapa tadi,” kata Anha sambil mencoba tertawa dan memukul kecil bahu Hasan dengan maksud agar mencairkan suasana. Namun Hasan masih saja diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun membuat nyali Anha menjadi menyiut seketika.
“Kamu dari mana aja?” tanya Hasan to the point membuat Anha menelan ludah.
Padahal itu, kan, pertanyaaan sepele. Tapi masalahnya tidak mungkin juga Anha mengatakan jika dia tadi harus ditahan sejenak di ruangannya Bella dan membahas tentang Bella yang tidak suka dengan kedekatannya dengan Hasan.
Anha mencoba menimbang-nimbang hal tersebut. Jika Anha mengatakan bahwa dia baru saja dari ruangan Bella, bisa saja Hasan malahan akan mengintrogasinya dengan banyak pertanyaan lagi.
“Um, tadi aku abis dari ruanganku sebentar buat ambil map yang ketinggalan,” kata Anha berusaha berbohong.
Hasan memejamkan mata sejenak, setelah itu dia mengambil napas dalam dalam seolah sedang meredam rasa marah dalam dirinya.
Bagaimana tidak? Jelas saja dia tahu kalua saat ini Anha sedang berbohong kepadanya. Hasan bahkan sudah mengecek ruangan Anha sampai empat kali karena khawatir kepadanya, mengingat Anha izin ke kamar mandi tetapi sudah lebih dari tiga puluh menit dia tidak kunjung kembali.
Dan memang faktanya ketika Hasan mengecek ruang kerja Anha, ruangan tersebut sudah kosong melompong, tidak ada sorang pun yang masih berada di sana.
Bukan hanya itu, Hasan juga sudah mengecek toilet beberapa kali, ia bersandar sejenak pada dinding dekat pintu toilet wanita hanya sekadar untuk menunggu sampai sosok wanita yang belakangan ini selalu mengisi relung hatinya keluar dari dalam sana.
Namun sampai lebih dari lima menit menunggu, wanita yang ia cari tidak kunjung keluar juga.
Akhirnya Hasan mengulangi lagi, yaitu kembali ke ruangannya kembali—hanya sekadar untuk memastikan apa jangan-jangan Anha sudah kembali ke sana. Setelah diyakini tidak ada, Hasan rela mengecek ulang ruangan Anha—dan masih pula tidak ada keberadaan sosok Anha di sana, kemudian Hasan menunggu kembali di luar tolilet perempuan.
Ia mengembuskan napas lega ketika dirinya melihat Anha dari celah pintu tolet yang kebetulan terbuka sedikit, memperlihatkan dengan sekilas wanita yang dicintainya itu sedang berdiri di depan cermin sambil membasuh wajah cantiknya dengan air.
Sebegitu khawatirnya ia terhadap Anha.