
“Kalau kamu mau. Aku bakalan cerein Dewi, An. Demi kamu aku bakalan ngelakuin itu.”
Mendengar hal tersebut Anha hanya mampu tercengang. Dia diam saja karena kehabisan kata kata.
Demi kembali pada dirinya Ikram sampai berani menceraikan istrinya? Yang benar saja!
Anha membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu, namun urung, kata kata yang hendak diucapkannya ditelan mentah mentah lagi.
Kemudian Anha mengatupkan kembali mulutnya. Daripada dia emosi dan memaki Ikram dengan kata kata kasar. Alangkah baiknya apabila Anha diam diam mencari banyak infromasi dari Ikram saja. Tapi nanti keputusan finalnya nanti Anha tetap tidak akan mau kembali dengan Ikram. Titik.
“Kenapa kamu sampai berani nyeraiin Dewi demi aku? Dulu aja waktu aku masih jadi istrimu, kamu nggak berani nyerain dan ninggalin Dewi demi aku,” kata Anha to the point. Anha paham, semua hal pasti memiliki alasan. Ada asap pasti ada api.
Dan kiranya Anha sangat ingin mengetahui alasan Ikram tersebut.
Ikram menelan ludah, bingung hendak menjawab perkataan Anha barusan. Matanya menatap ke arah kanan atas.
“Emm… aku nggak bahagia, An, nikah sama dia.”
Anha benar benar tidak habis pikir dengan Ikram. Dia tidak bahagia dengan pernikahannya bersama Dewi lalu Ikram mencarinya untuk rujuk kembali?
Egois sekali lelaki ini.
“Ikram. Kalau alasan kamu kayak gitu. Sampai mati pun kamu nggak akan pernah bahagia nikah sama siapa aja. Kamu nggak inget gimana dulu kamu merlakuin aku? Dengan segala hal yang pernah kamu lakuin ke aku. Apa kamu pikir aku bakalan mau gitu balik lagi ke kamu?”
Ikram terdiam. Dia merasa kesusahan sekali ketika menelan ludahnya. Ada benarnya kata kata Anha barusan. Dulu Ikram sangat keterlaluan memperlakukan Anha.
Padahal Anha istri yang baik, dia mempersiapkan semua kebutuhan Ikram. Dia istri yang patuh dan tidak banyak menuntut. Tetapi Ikram membalasnya dengan pengkianatan.
Ya, begitulah adanya. Penyesalan memang selalu datang di bagian terakhir. Kalau awalan namanya pendaftaran.
Dia membuang Anha yang berkilau seperti permata, hanya untuk mendapatkan Dewi yang biasa biasa saja demi kesenangan duniawi karena harus bertanggung jawab pada keluarga Dewi.
Tanpa terduga kini cengkraman Ikram pada bahunya mengendur. Bahkan kini Ikram menyandarkan kepalanya pada bahu Anha. Anha terdiam, dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Kenapa Ikram melakukan hal ini?
Anha terdiam, jemarinya kaku ketika hendak dia gerakan. Tidak mungkin juga, kan, Anha mengusap punggung Ikram apalagi sampai termakan oleh ucapannya barusan itu!
Anha menengok ke arah sekitar, takut apabila tiba tiba Hasan muncul seketika. Pasti nanti Hasan akan salah paham apalagi posisi mereka sangat absurd seperti ini.
Anha bergerak untuk mendorong tubuh Ikram dengan perlahan.
“Aku nggak bisa Ikram. Aku udah bahagia sama kehidupan aku yang sekarang. Lagi pula aku juga mau nikah dua bulan lagi.”
Sial, kenapa hanya sekadar mendorong Ikram yang sedang bersedih ini cukup berat juga, sih.
Ketika Ikram sudah berdiri dengan normal, dia hanya menatap ke arah Anha dengan tatapan kosong.
“Aku nggak mau An kamu nikah sama dia.”
Anha tidak habis pikir dengan apa yang baru saja Ikram katakan.
Sudahlah, sudah terlalu lama dia meladeni lelaki menjengkelkan ini. Tidak Anha tampar saja sebenarnya sudah beruntung sekali dia ini.
“Udahlah. Terserah kamu. Bukan urusanmu!” kata Anha sambil berjalan hendak meninggalkan Ikram.
Namun baru berjalan dua Langkah Ikram tiba tiba menarik lengan Anha dengan kasar dan menghimpit Anha pada dinding koridor.
Bahkan tanpa aba aba tiba tiba Ikram mencium Anha dengan kasar!
Anha mencoba meronta dan memukul Ikram. Anha menggelengkan kepalanya agar ciuman itu terlepas.
“Lepasin berengsek!”