
Aku tidak percaya sikap tengilnya yang belum genap lima menit tadi hilang kini sudah kembali lagi ke semula.
Dia juga tadi memanggilku dengan sebutan Tante?! Kurang ajar. Aku tidak terima akan hal tersebut dan menjambak lebih erat rambut si bocah sialan ini sampai dia kesakitan.
"Ampun Tante, sakit banget aduh. Tolong lepasin, Tante," katanya sambil memegangi rambutnya tersebut yang masih aku jambak. Biar tahu rasan anak ini!
"Bilang apa, hah? memangnya kapan aku nikah sama ommu?" kataku mengingatkan kesalahan bocal tengil ini.
"Iy-iya kakak. Janji nggak akan manggil dengan sebutan Tante lagi. Tolong lepasin kak Anha," kata Sean memelas kepadaku masih kesakitan karena kujambak.
Baru kemudian setelah di rasa kasihan baru aku mau melepaskan jambakannku pada rambutnya.
Setelah itu Sean meminta maaf ke padaku karena tadi kurang ajar dan memanggilku dengan sebutan tante tante juga.
Aku bersedekap dada dan membuang muka pura pura marah terhadapnya.
"Kakak ikut aku sebentar, yuk." kata sean sambil menggengam erat jemariku. Aku mengeryit.
Menanyainya bahwa kita hendak pergi ke mana tetapi sean hanya memilih untuk diam saja dan menyuruhku mengikutinya kemana pun dia pergi.
Heh! Dasar bocah gila!
Sean mengajakku ke parkiran dan memberikanku helm berwarna navy.
Dia juga membantuku dalam mengenakan helm tersebut.
Aku memegangi pundaknya dari belakang dan mulai membonceng diirinya. Untung saja hari ini aku mengenakan celana formal jadi aku dapat menaiki motor ini dengan nyaman.
"Udah?" tanya Sean memastikan diriku sudah siap atau belum. Aku mengangguk dan memegang pinggang Sean. Sean kemudian menstater motornya dan membawa motor ini dengan laju normal. Aku bersyukur dia tidak ugal ugalan ketika berkendara.
Sesekali Sean menatapku dari spion samping kirinya. Kemudian dia tersenyum sendiri sedangkan aku hanya mengabaikan anak gila ini dan menyuruhnya untuk fokus menyetir ke depan saja.
Tetapi anak ini isengnya bukan main. Sesekali dia mengerem mendadan membuat tubuhku bagian depan berbenturan dengan punggungnya membuatku marah bukan main. Bukan hanya tubuhku namun sampai helm kami juga berbenturan.
Aku memukul dengan keras kepalanya yang terhalang oleh helm.
"Kamu iseng gitu lagi sama aku, aku bakalan minta turun di sini juga!" kataku mengancamnya sambil mendelik galak kepadanya.
Sean terlihat takut dan tidak berani lagi mengulangi kesalahannya--walaupun masih menahan senyum jahilnya.
Setelah itu kami sampailah di danau yang airnya berwarna hijau.
Aku dan Sean mulai turun dari motor dan aku bergidik ngeri melihat suasana di sini begitu sepi dan mengerikan sekali. Pinggiran danau itu batu batu, beberapa orang--di sisi lain-- ada yang sedang memancing, ada juga yang piknik dan makan roti gandum di bawah pohon dekat danau.
Sean menggandeng tanganku agar aku berhati hati ketika berjalan.
Ketika itu aku duduk di pinggir danau dan menatap lurus ke arah sana.
Sean duduk di sebelahku. Kemudian Sean memberiku beberapa butir batu untukku.
"Aku kalau lagi BT biasanya main ke sini. Terus ngelempar batu kayak gini," katanya sambil mencontohkan kepadaku tentang bagaimana melempar batu tersebut sampai membentuk tiga loncatan pada atas air.
Aku mencobanya dan sialannya tidak sejuh batu yang dilemparkan oleh Sean membuat Sean menertawaiku.
Aku hanya memanyunkan bibirku kesal.
"Kamu emangnya tadi ada masalah apa? Sini cerita ke kakak sini, siapa tahu kakak bisa bantu kamu," tanyaku mencoba kembali ke tujuan awal mengapa aku mau mengikuti anak ini sejauh ini.
Sean menggeleng. Awalnya dia membuka mulutnya hendak bercerita namun pada akhirnya dia urungkan hal tersebut.
"Nggak papa. Ceritain aja sama kakak. Siapa tahu kakak bisa bantu kamu. Lagian sejak tadi pagi kamu cemberut melulu."
Akhirnya setelah aku bujuk, Sean pun mau menceritakan masalahnya kepadaku juga.
"Jadi, ceritanya emang dari kecil aku nggak punya orang tua. Aku tinggal sama omaku, kak. Dan baru setelah delapan belas tahun lamanya aku baru tahu kabar mengenai kedua orang tuaku," kata Sean panjang lebar namun Sean tidak menjelaskannya secara singkat. Dia hanya menjelaskan kepadaku tentang garis besarnya saja.
Aku paham. Memang ada masalah di dunia ini yang tidak semuanya di ceritakan kepada orang lain.
"Oke... Lalu kabar apa setelah delapan belas tahun itu?" tanyaku sambil mengusap lembut punggung Sean. Sean masih melemparkan batu tersebut dengan emosi sampai membentuk tiga lompatan di atas air.
Aku menelan ludah. Jadi melempar batu itu adalah bentuk dari pelampiasan rasa sakitnya. Bentuk dari pelariannya?
Benar kata orang. Orang yang terlihat biasa biasa saja dan ketawa tiwi bisa saja sebenarnya dia sedang menyembuyikan luka yang begitu hebatnya. Maka dari itu dia berpura pura tersenyum dan tertawa.
"Kue yang kemarin itu buat Mama. Kue pertama yang aku kasih ke Mama setelah delapan belas tahun."
Um...
Entahlah... Aku hanya mampu terdiam dan menyimak.
"Kalau aku bilang ke kakak kalau aku ini sebenernya anak wanita simpenan pejabat tapi papa aku nggak ngakuin mama aku karena hubungan mereka hubungan gelap sedangkan papa nyembunyiin aku dari publik karena papa adalah salah satu petinggi di negara ini. Lalu, mama yang nggak dinikahi oleh papa jadinya gila dan di rawat di rumah sakit jiwa, apa Kakak bakalan percaya sama aku?" katanya panjang lebar sambil menatap ke arah danau depannya.
Mataku membulat. Aku menutup mulutku dengan telapak tanganku. Syok bukan main.