After Marriage

After Marriage
Tidak Punya Malu Sama Sekali!



 


 


***


"*Anha…" kata Hasan dengan pelan sambil memegang lengan Anha karena ia merasa tidak enak hati membiarkan tangan tamu pentingnya tersebut menggantung tak dijabat sama sekali sedari tadi.


Anha tersenyum pongah. Dia merasa sangat muak kepada dua orang di depannya tersebut.


"Nggak mau. Aku jijik. Lagian aku nggak mau kalau anjingnya nanti marah," kata Anha dengan sarkastik membuat ketiga orang yang berada di situ tercengang dengan ucapan Anha yang tak terduga tersebut.


“Anha maksud kamu apa?” tanya Hasan dengan dahi mengeryit tidak percaya akan perkataan Anha yang sangat kasat itu. Kenapa Anha mengatakan hal tersebut kepada tamu pentingnya?


Untung saja yang ada di sini hanyalah mereka berempat. Bagaimana jika ada banyak orang yang melihat? Yang ada malahan Hasan malu dibuatnya.


Hasan memegang lengan Anha. Bagaimana pun Anha tidak boleh seketerlaluan itu.


"Anha*…"


“Anha…”


Hasan mengeryit ketika melihat kekasihnya tersebut hanya diam saja tak bergeming.


"Anha. Hei… kok, kamu ngalamun, An," kata Hasan sambil mengguncnag pelan lengan Anha membuat Anha yang sedari tadi terdiam kini tersadar dari lamunannya.


"Ya? I-iya ada apa? Ma-maaf ada apa?" kata Anha sambil mengerjabkan kedua matanya ketika kesadarannya sudah kembali pulih.


Astaga, saking berkutatnya dia dengan pemikirannya sendiri sampai dia berpikiran untuk memaki Ikram dengan Dewi seperti itu.


Anha tersenyum kepada Ikram, dia mempersembahkan senyuman terbaik yang dia miliki seolah olah mereka berdua tidak pernah kenal antar satu dengan yang lainnya, seolah ini adalah pertemuan mereka yang pertama.


Kemudian Anha menjabat tangan Ikram yang sedari tadi menggantung tersebut sambil mengatakan…


"Saya Anha, tunangannya Hasan. Senang bertemu dengan Anda Pak Ikram."


Mungkin kalian menganggap Anha gila, tapi inilah solusinya. Anha ingin membuat Ikram yang sekarang merasa amat menyesal karena dia dulu telah menyia nyiakan dirinya.


Dia akan memperlihatkan kepada mantan suaminya itu kalau Anha yang saat ini adalah Anha yang bahagia dengan kehidupannya, Anha yang cantik dan memukau ketika orang melihatnya, Anha yang sangat dicintai oleh kekasihnya agar Ikram merasa cemburu dan menyesal karena dulu telah mennyia nyiakan dirinya.


Setelah itu Anha juga menyalami Dewi. Tapi entah mengapa Dewi masih saja betah sekali memasang wajah murungnya kepada Anha sejak tadi.


Seolah olah Anha saat ini adalah ancaman terbesar bagi dirinya.


Bukannya seharusnya Anha yang memasang wajah tidak sukanya kepada Dewi, ya, karena Dewilah yang dulu telah merebut suaminya itu dari dirinya?


Lalu kenapa juga malahan wanita si perebut suami orang ini yang lebih galakan daripada Anha yang statusnya adalah seorang korban?


“Tunangan Anda cantik juga, ya,” kata Ikram sambil menatap ke arah Anha. Anha benar benar tidak percaya dengan apa yang baru saja Ikram katakan itu.


Entah tadi Ikram berkata basa basi belaka ataupun mengatakannya dengan serius. Tapi Ikram benar benar tidak punya malu sama sekali!


***


Follow juga instagram penulis novel ini: @Mayangsu_ di sana aku lebih aktif dan post banyak info tentang novelku + jadwal update novel + visual tokoh dll. Makasih.