After Marriage

After Marriage
Jaga Perasaan



Tetapi Sean hanya diam saja dengan ekspresi datar di wajahnya. Kemudian Sean menepis tangan Vany dari bahunya dan berdecak kesal.


“Kamu tahu, kan, kalau aku benci banget di sentuh orang lain,” kata Sean dengan singkat, padat, dan sangat menohok.


“Ma—maaf. Aku nggak tahu. Tapi aku boleh, kan, ikutan makan kamu sama kakakmu?” tanya Vany dengan nada imut yang di buat buat. Anha hanya meringis, tadi tante tante, sekarang Anha di panggil kakak, besok lagi kalau berjalan dengan Sean apa yang orang panggil ke dia? Mamanya begitu?


Sean menatap ke arah depan, menatap Anha dalam diam tanpa ekspresi sama sekali. Anha menelan ludahnya, kenapa Sean yang sekarang dengan Sean yang lima menit lalu berbeda, ya? Padhaal tadi Sean ceria, tengil. Namun sekarang Sean berubah menjadi dingin, cuek, bahkan di sentuh saja tidak mau. Padahal tadi Sean menempel terus, kok, dengan Anha. Tapi kenapa sekarang dia di sentuh pun tidak mau? Aneh.


Sean masih saja menatap Anha dalam diam. Tentu saja Sean tidak mau disentuh orang lain, perlakuan khususnya hanya untuk Anha seorang.


Anha menelan ludah karena terus ditatap dalam diam seperti itu.


“Emm… kamu duduk aja, silakan makan sama kami. Biar rame. Hehe,” kata Anha sambil mempersilakan Vany untuk duduk. Vany pun senang bukan main karena bisa makan dengan Sean. Murid laki laki yang terkenal di sekolahan karena dia tampan dan dari keluarga kaya.


Sean ingin rasanya menepuk dahinya. Kenapa malahan tante Anha mengizinkan Vany untuk bergabung, sih. Padahal Sean ingin Anha untuk menolaknya dan tidak memperbolehkan Vany untuk duduk.


Sean menggerutu dalam hati. Hancur sudah kencan indahnya itu.


“Sean Sean! Katanya kamu mau pindah ke Singapura, ya?” kata Vany mencoba mendekati Sean. Dia harus memanfaatkan moment ini dengan baik.


“Iya,” jawab Sean dengan singkat.


“Nanti kamu kuliah di mana? Ambil jurusan apa? Terus nanti pasti seru banget, ya, kamu di sana.”


Vany mulai mendominasi percakapan. Anha hanya menunduk karena tidak tahu harus berbuat apa. Namun sinyal tersebut dianggap Sean seperti Anha sedih karena kehadiran Vany yang tiba tiba di sini.


Tidak, tante kesayangannya tidak boleh sedih seperti itu.


Akhirnya Sean berdiri dari duduknya membuat Anha dan Vany mengeryitkan dahinya, mau apa anak ini?


“Ayuk tante kita pergi aja. Aku males banget di sini!”


Sean menggandeng tangan Anha dan agak menariknya perlahan hingga Anha berdiri.


“Mubazir tahu!” Anha mecoba menolak. Mana sushinya sangat enak lagi. Sean berdecak kesal dengan tingkah Anha.


“Udah nggak usah di urusin lagi itu makanan. Besok Sean beliin serestorannya buat tante, deh.”


Hah?!


Vany yang masih duduk di kursi mengerjabkan matanya tidak percaya. Dengan kesal dia memanggil ama Sean namun Sean tidak peduli dan segera berlalu dari restoran tersebut.


Dia cuma tidak ingin kalau tante seksinya cemburu.


“Kamu kenapa, sih!” kata Anha sambil mengempaskan lengannya yang dari tadi ditarik Sean dari restoran sampai mereka sudah keluar dari Mall dan kini sampai di parkiran butik tempat motor Sean berada.


“Kamu nggak boleh buang buang makanan kayak tadi, tahu! Mana harganya mahal lagi,” kata Anha sambil mengomeli Sean habis habisan. Jiwa emak emaknya muncul saat ini.


Sean menepuk dahinya sendiri. Kenapa di otak tante ini malahan ada makanan saja.


“Aku nggak suka tante karena ada Vany di situ.”


Sean menggantungkan ucapannya sejenak. Anha mengeryitkan dahi karena masih belum paham.


“Sean nggak mau buat tante cemburu. Cowok kalau suka sama cewek mereka nggak cuma nyingkirin cowok lain dari cewek yang mereka sukai. Tapi mereka juga harus nyingkirin cewek lain dari mereka karena mereka nggak pengin wanitanya tersakiti.”


Sean mengusap pipi Anha dengan tangannya, pipi putihnya tersebut bersemu begitu merah, dan Sean menaruh anak rambut Anha ke belakang telinganya.


Kata kata Sean benar benar sangat manis.


Andai Hasan juga memperlakukan Anha seperti itu.


Menjauhkan wanita lain (Bella) dari Hasan karena tidak ingin Anha cemburu. Pasti Anha akan sangat senang.


***