After Marriage

After Marriage
Gemas



"Tante… nikah, yuk, sama aku," kata Sean sambil menyium pergelangan tangan Anha dengan lembut dan penuh perasaan.


Sempat beberapa saat Anha terdiam dan termangu. Waktu seolah behenti berputar untuk sesaat. Tetapi ketika otaknya yang semula beku mulai dapat berpikir dengan baik.


Dengan kesal sambil memelototkan mata Anha menjambak agak keras rambut bocah tengil di depannya ini sampai dia kesakitan.


"Nikah Nikah! Anak kamu mau kamu kasih makan apa, hah?! Bocah bau kencur sok-sokan ngajak nikah. Sekolah yang bener kamu!" omel Anha sambil masih menjambak rambut si tengil ini.


"Aduh Tante ampun, Tante. Sakit! Plis lepasin tante cantik."


Sean mencoba melepaskan tangan Anha yang masih mejambak rambutnya, namun agak sulit juga dan susah dilepaskan. Salah sendiri dia menjahili Tante kesayangannya itu.


Karena Anha merasa kasihan kepada bocah di depannya ini, terlebih ekpresi kesakitan yang natural itu. Akhirnya Anha mau melepaskan tangannya dari rambut Sean. Tetapi Anha tetap mempertahankan ekspresi judesnya dan tangan yang bersedekap dada.


"Galak banget, sih, Tante," keluh Sean dengan wajah sok imutnya.


"Biarin!" kata Anha dengan medelik sebal. Sisil yang menyaksikan pertengkaran kecil tersebut hanya mencoba menutup mulutnya dengan menggunakan telapak tanggannya karena takut apabila kelepasan ngakak.


Jangan salah, walaupun umur  Anha dengan Sean terpaut jauh. Tapi di mata Sisil mereka itu cukup cocok, kok. Bagaikan kisah cinta Rafi Ahmad dan Yuni Sarah. Memangnya bocil ganteng dan kaya raya siapa yang tidak mau?


"Kenapa, sih, Tante nggak mau nikah sama aku? Padahal anak cheerleaders aja pada ngejar-ngejar aku, loh. Hehe."


Anha medelik galak mendengar hal tersebut bagaikan singa yang hendak menelan mangsanya bulat-bulat.


"NIKAH NIKAH! Sekolah yang bener kamu!"


"Ih, galak. Tapi cintah," goda Sean sambil mengedipkan sebelah matanya.


Anha mengangkat tangannya seolah hendak memukul bocah yang kelewatan tengil di depannya tersebut namun urung mengingat si tengil yang sedang menatapnya sambil tersenyum tersebut adalah keponakan dari petinggi di kantor ini.


Daripada terbawa emosi dan dipecat dadakan karena kenal dengan orang dalam, lebih baik dia meladeni saja bocah ini.


"Nikah nikah, emang anak sama istri kamu mau kamu kasih makan apa, hah? Batu apung gitu?" kata Anha dengan sewot.


Sean menyengir senang.


"Ya, nggak, dong, Tante. Abis ini, kan, aku kuliah terus aku bakalan kerja di kantor Koko-ku ini dan jadi CEO ganteng idaman cewek cewek kayak di novel-novel gitu, Tan," jawab Sean dengan enteng sambil menggerakan tangannya seolah sedang menjelaskan sesuatu yang sangat bermutu sekali dan dibalas dengan Anha yang hanya mampu memutar bola matanya saja ketika mendengan penuturan tersebut.


"Udah, ah, sana. Aku mau kerja lagi tau! Lagian istirahatnya kurang tiga menit lagi gara-gara ngeladeni kamu yang nggak jelas ini!"


Bukannya segera pergi, si Sean malahan masih duduk santai sambil memutar kursi kerja seolah Anha adalah emak emak yang mengomel tidak jelas kepada pasangannya.


Anha gemas bukan main. Anak ini memang sengaja sedang menguji kesabaran dirinya.


"Tante tante. Aku kemarin udah browsing di internet. Katanya  cewek yang usianya di bawah tiga puluh lima tahun masih bisa hamil dengan risiko rendah, kok. Bahanya kalau udah tiga puluh lima ke atas, Tan. Jadi Tante aman nikah sama aku sampai aku nanti jadi CEO ganteng dan hot."


Sisil yang mendengar celetukan bocah tersebut otomatis langsung menyemburkan air yang sedang diminumnya itu. Sedangkan Anha hanya mampu diam dan membuka sedikit mulutnya tidak percaya dengan apa yang anak ini barusan katakan.


Bahkan bocah bau kencur itu sudah memikirkan sampai hal sejauh itu?


"Anak ini bener-bener, ya…"


Anha baru saja ingin melepas sepatu flat shoesnya untuk dilemparkan ke kepala anak tersebut namun Sean sudah kabur dan menghindar hendak keluar dari ruang sambil tersenyum cengengesan dan memberi ciuman jauh untuk Anha.


Anha hanya meresponnya dengan kepalan tangan seolah hendak menjitak anak tersebut.


"Diem kamu, Sil. Nggak usah ketawa ketiwi mulu!" kata Anha kepada Sisil denga sewot karena menertawainya sejak tadi.


“Kamu, mah, enak, An. Cakep. Sampai di sukai Pak Manager ganteng. Ditaksir pulak sama keponakan boss besar. Emang enak banget, ya, jadi cewek cantik.”


“Enak apanya! Mana ada enak – enaknya di taksir bocah bau kencur kayak gitu!”


Anha memutar bola matanya sebal.


“Hidup itu nggak seindah drama korea, Sil. Bangun bangun! Kacung kayak kita gausah mikir aneh-aneh apalagi sampai sejauh itu. Mending kerja, pulang, tidur. Selesai!”


Sisil masih ngotot dengan pendiriannya.


“Yaudah, gimana kalau sama Pak Hasan aja? Hot, kok. Kalau nggak mau kasih aja ke aku. Hehe.”


“Pak Hasan itu udah ada yang punya. Lagian dia juga nggak terlalu ngejar-ngejar aku. Makanya aku nggak terlalu ngarep sama dia. Aku itu bukan siapa-siapa dibandingkan Bella, Sil.”


Sisil menggelengkan kepala dengan kuat. Tidak setuju dengan argument Anha barusan. Memang kenyataannya Anha lebih cantik, kok, daripada Bella. Bella alias si Bihun Korea itu cuma menang putih saja.


Beda dengan Anha yang memiliki hidung mancung, rambut hitam panjang, bahkan bibir bawahnya yang tebal saja sudah membuat lelaki kadang memikirkan hal-hal yang aneh. Badan Anha juga proposional. Kelewatan seksi.


“Kasihan kecantikan kamu, An, kalau nggak kamu gunain. Jangankan Pak Hasan. Jadi istri kedua pejabat aja kamu bisa, kok.”


Anha hanya terkekeh mendengar hal tersebut. Menganggap semua itu hanya gurauan Sisil atau angin lalu saja.


Untuk saat ini, dia tidak muluk muluk dalam mencari pasangan hidup. Tidak perlu pejabat atau CEO sekalipun. Cukup lelaki yang baik saja, lelaki yang penyabar dan penyayang. Syukur syukur kalau lelaki tersebut sudah mapan.


Soal fisik dan kaya raya berkelimang harta mungkin itu semua hanya bonus. Toh, Anha pernah menjalani cinta dengan Ikram yang kaya raya dan tampan saja dulu di sia siakan.


Pernah bercerai membuat Anha menjadi lebih selektif dan membentengi diri lagi.


Kedua orang tersebut kini mulai fokus ke kerjaan mereka masing-masing. Anha mulai berkutat dengan komputernya setelah membereskan makanan dan bekal yang tadi di tinggalkan oleh Sean.


Sedangkan Sisil sudah berkutat di kubikelnya dan tenggelam dengan data customer yang tadi pagi dihubunginya.


Sudahlah, kalau memang takdir. Entah Hasan, entah Sean, atau entah lelaki manapun. Pasti akan dipertemukan Anha di pelaminan. Anha masih menikmati kesendiriannya saat ini—meskipun tak ayal yang lebih repot akan statusnya hanyalah Mamanya dan Sisil sahabatnya itu.


Ketika Anha sedang sibuk menata arsip. Tiba-tiba seorang karyawan lain mengetuk pintu dan memanggil namanya membuat Anha seketika menoleh ke  arah sumber suara.


“Misi. Mbak Anha ada?” tanya lelaki tersebut.


“Ya,” kata Anha singkat.


“Mbak, bisa ikut sebentar, nggak? Mbak Anha dipanggil Pak Hans.”


Sontak Anha, Sisil dan beberapa karyawan lain yang berada di sana kaget. Karena pasalnya Pak Hans adalah salah satu petinggi di perusahaan ini.


Lebih tepatnya Pak Hans adalah Koko-nya si tengil Sean.


Anha memejamkan mata sesaat sebelum mengembuskan napas berat.


Masalah apa lagi yang akan ia hadapi kali ini?


***


Hayo siapa itu? Apakah Pak Hans cowok temennya Mamanya Anha yang hendak dijodohin sama Anha waktu itu? Rahasia dong >.<


Omong-omong, gimana kabar kalian?


Maaf, ya, sudah menghilang agak lama. Author kangen kalian semua. Author Alhamdulillah sehat, author lama nggak update karena sibuk real life. Semoga nggak lupa sama Anha-Sean-Hasan, ya.


Big Love,


Maying.