
Aku mengembuskan napas berat, semua pasangan suami istri pasti juga menginginkan hadirnya seorang anak di pernikahan mereka.
Aku bertanya-tanya dalam hati...
Apakah hal itu terbesit di benak Ikram juga?
Apa dia juga mengingkan seorang anak dariku?
Hari ini weekend, Ikram memang biasanya bangun pukul delapanan pagi ketika weekend—terlebih lagi semalam dia begadang menonton bola.
Tetapi kemarin Ikram berpesan untuk membangunkannya jam setengah delapan karena hari ini dia akan menghadiri meeting dengan kliennya.
Tapi... kenapa meeting dihari libur? Aku hanya menyimpan pertanyaan tersebut dalam benakku saja tanpa berani menanyakannya karena kami juga sudah berjanji tidak akan mencampuri urusan satu sama lain.
Aku tersenyum setelah selesai memasak dan menyajikannya di ruang makan. Dan tepat pukul setengah delapan aku mengetuk ruang kerja Ikram yang ternyata tidak dikunci—biasanya dia menguncinya, mungkin malam ini dia kelupaan mengunci ruang kerjanya.
Aku mendorong pintu tersebut hinga terbuka. Tampak Ikram sedang tertidur pulas di sofa besar yang berada di sebelah kanan meja kerjanya yang ditumpuki dokumen-dokumen entah apa. Aku berjalan pelan mendekatinya, mengusap bahunya lembut.
"Mas bangun, katanya suruh bangunin jam setengah delapan?"
Ikram hanya mengeram dan mengatakan lima menit lagi dengan suara serak. Aku tersenyum kecil, tapi kasihan juga karena mungkin dia masih kurang tidur karena begadang semalam.
Aku melihat wajahnya yang tenang ketika tertidur, suara dengkuran napasnya membuatku tenang. Ikram tidur miring ke samping, aku menekuk lututku dan kini posisiku tepat di depan wajahnya.
"Aku kangen sama kamu, Mas," kataku pelan.
Mataku mulai memanas dan berkaca. Aku merindukannya. Selama menikah, kami berdua seolah menjadi orang asing.
Aku bergerak pelan mencium bibirnya, karena aku sadar, mungkin aku tidak akan pernah bisa lagi menciumnya. Aku menempelkan bibirku di bibirnya, tanpa kecupan, tanpa *******, tanpa nasfu sedikit pun.
Setelah selesai aku mundur dan tangisku mulai turun, aku menutup mulutku supaya suara isakanku tidak terdengar olehnya. Ikram bangun dan mendapati diriku yang menangis.
"Kamu kenapa, An," tanyanya sambil memegang bahuku.
Aku menggeleng. Baru pertama kali setelah kami menikah dia bertanya seperti itu kepadaku. Aku berdiri, Ikram masih menatapku dengan wajah datar.
Aku memberanikan diri untuk memeluknya, menghirup aroma tubuhnya. Tetapi entah mengapa aku tidak merasakan tangannya mengusap punggungku, dia hanya diam saja dan berdiri bagai patung. Setelah beberapa menit kemudian aku melepaskan pelukanku.
"Udah jam setengah delapan."
Aku mengatakan hal itu sambil menunduk agar Ikram tidak melihat wajahku yang mungkin menyedihkan saat ini.
Ikram mengangguk kemudian keluar dari ruang kerjanya dan aku mengekor di belakangnya.
Aku melihat Mama Erin yang sudah bersedekap dada di ruang makan sambil mengamati sekeliling ruangan.
Sejak adu mulut waktu itu, Mama Erin sudah jarang menghinaku lagi—meskipun tak ayal dia masih suka mengumpati diriku secara pelan. Mungkin Ikram yang menyuruh Mamanya agar tidak bicara keterlaluan padaku lagi.
"Loh, Ma. Nggak nyuruh supir aja buat jemput, Mama?" tanya Ikram sambil duduk di kursi makan.
"Mama cuma mampir ke rumah temen Mama. Sekalian mampir ke sini buat ngomong sesuatu."
Aku menyajikan makanan ke Mama Erin, aku masih mengingat nasihat dari Mamaku untuk sesopan mungkin kepada mertuaku yang tak ada sopan-sopannya ini.
"Nasinya setengah aja," kata Mama Erin seolah dia takut gendut. Aku mengangguk dan mengurangi porsi nasi dari piringnya. Kemudian menyajikan semangkuk sup di sebelah nasinya.
Aku menahan senyum. Apakah Mama Erin baru saja menyukai sup buatanku tetapi dia menggunakan bahasa yang lain untuk mengungkapkannya?
"Tapi rasanya b aja, masih enak masakan Siti," tambahnya.
Aku memutar bola mataku, prediksiku salah, Mama Erin itu levelnya sudah dendam keusumat kepadaku. Dia membenci semua aspek dalam diriku jadi tidak mungkin tiba-tiba dia menjadi sosok yang baik hati. Yah, kecuali jika kesurupan jin ifrit.
Suasana di ruang makan lengang, menyisakan suara dentuman sendok saja.
"Kalian kapan ngasih Mama momongan?"
Mendengar hal tersebut aku dan Ikram refleks mengehentikan gerakan mengunyah kami.
Ketika pandangan Mama Erin kembali fokus ke makanannya aku menyikut lengan Ikram pelan, meminta bantuan untuk menjawab pertanyaan Mamanya karena perihal ini benar-benar di luar kendaliku.
Karena memang pada kenyataanya selama empat bulan ini kami pisah ranjang. Ikram tidur di ruang kerjanya sedangkan aku tidur di kamar utama kami.
Tidak mungkin bukan aku menjawab jika itu semua mustahil mengingat sudah empat bulan kami menikah tetapi menantunya yang seksi ini tidak pernah disentuh sama sekali oleh putranya.
"Nggak tahu, Ma. Doain aja biar cepet isi," kata Ikram dengan santainya, bahkan wajahnya sangat datar. Apa mungkin dia sudah mempersiapkan jawaban tersebut jika seumpama Mamanya menanyakan tentang momongan?
"Udah hampir empat bulan, loh, Kram! Ya, masa belum isi, sih?! Mama, kan, pengin cucu, Ikram! Anak temennya Mama aja seminggu udah isi, kok!"
Nada suara Mama Erin mulai meninggi, aku memijit pelipisku. Bisa-bisa meledak isi kepalaku memikirkan hal ini. Sepertinya tanda-tanda hal buruk akan terjadi lagi.
"Ya, kan, nggak semua pasangan dikasih Tuhan waktunya samaan semua, Ma."
Aku mengembuskan napas lega karena aku tidak perlu mendebat Ibu mertuaku ini karena sudah diwakili oleh Ikram.
"Jangan-jangan istri kamu mandul, ya? Sana priksa ke dokter. Jangan sampai, ya, udah miskin terus mandul pula."
Gerakan menyendokku terhenti ketika mendengar ucapan setajam belati dari bibir merah mertuaku itu.
Mandul? Kenapa Mama Erin selalu mengatakan hal jahat kepadaku? Ikram menggenggam tangan kiriku ketika aku hendak mengatakan sesuatu untuk menjawab perkataan mertuaku.
"Ma, please," kata Ikram pelan. Mama Erin menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan membuang muka. Setelah itu Mama Erin pun berdiri kemudian berjalan keluar untuk pergi, aku dan Ikram mengantarnya sampai pintu keluar.
"Pokoknya Mama nggak mau tahu, pokoknya kalian berdua harus cepet-cepet kasih Mama cucu, ngerti?"
Aku memutar bola mataku karena lelah, memangnya buat anak semudah membuat berhala dari roti gandum pada zaman nabi, ya? Bisa-bisa aku mati muda jika terus bertahan menghadapi mertuaku ini.
Ikram mengangguk kemudian tangan kanannya merangkul pinggangku. Aku terdiam sejenak, pipiku memanas.
Apakah ini buah dari hasilku bersabar selama ini untuk membuatnya jatuh cinta kembali kepadaku?
Namun aku keliru, ketika Mama Erin sudah melangkahkan kakinya pergi, Ikram melepaskan tangannya dari pinggangku. Aku merasa sedih dan merasa kehilangan dalam waktu bersamaan.
Berarti tadi hanya ekting karena sedang ada Mama Erin, ya?
***
Yang mau lihat visual / foto karakter di novel After Marriage cuss cek di instagramku @Mayangsu_