After Marriage

After Marriage
Meledak



"Abi juga kenapa, sih, pakai pegang-pegang tangan Anha kayak gitu! Bahkan Abi megang tangan cewek lain di depan istri Abi sendiri!" kata Mai sambil mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Aku menaikkan pandanganku mencoba menatap Mai yang saat ini terlihat begitu emosi.


Mata Mai memerah dan menahan tangis.


Aku berdiri. Mencoba untuk menenangkan Mai dan mengatakan dia saat ini sedang salah paham terhadapku dan terhadap Mas Doni juga.


"Ma-Mai. Bukan gitu maksudnya," kataku mencoba mengulurkan tangan untuk menyentuh lengan Mai. Namun Mai menepis tanganku yang terulur itu.


"Bukan kayak gitu gimana?! Aku udah tahu semuanya, An!" teriak Mai dengan keras membuat nyaliku menjadi ciut seketika dan kini aku ketakutan. Demi Tuhan. Seumur hidupku aku tidak pernah melihat Mai sampai semarah ini kepadaku apa lagi sampai berteriak seperti itu kepadaku.


"Umi. Umi kenapa, sih? Kenapa Umi tiba-tiba marah kayak gitu? Coba jelasin pelan-pelan ke Abi," kata Mas Doni dengan lembut mencoba meredakan emosi Mai yang saat ini sedang meletup-letup.


Namun ternyata respons Mai terhadap Mas Doni pun juga sama seperti responsnya terhadapku.


Mai saat ini juga menepis tangan Mas Doni yang hendak menyentuh lengannya kemudian Mai memalingkan muka ke samping dan tampak dia menangis membuatku semakin merasa bersalah lagi kepadanya.


Aku memeluk lengan kananku sendiri. Kenapa dimana pun aku berada aku selalu membuat masalah kepada orang orang yang berada di sekelilingku, sih.


Mas Doni mengernyit tidak percaya dengan respons dari Mai. Itu sangat wajar. Mai saat ini sedang dikuasai dengan rasa kecemburuannya yang tinggi. Aku tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana lagi kepada Mai.


"Mai. Dengerin aku. Kamu salah paham sama aku. Dan soal ibu-ibu it—"


"Seharusnya kamu tahu diri, An. Aku niat tulus nolong kamu tapi kamu malahan kayak gini sama rumah tangga aku," kata Mai dengan sangat pelan tetapi masih terdengar di telingaku dan itu rasanya benar-benar menusuk hatiku yang paling dalam.


"Dek!" kata Mas Doni seolah memberi kode kepada Mai jika apa yang tadi baru saja Mai ucapkan kepadaku itu sudah keterlaluan dan seharusnya dia tidak mengatakan hal seperti itu.


Bahkan tanpa kusadari kini Mas Doni sudah tidak memanggil Mai dengan sebutan Umi lagi. Kini nada bicara Mas Doni pun juga sudah terdengar dingin sekali dan begitu menusuk.


"Bahkan kamu juga malahan belain dia! Udah kelihatan banget, kan, kalau kalian ada apa-apa di belakang aku dan kamu juga lebih belain dia daripada aku, Mas!" teriak Mai kepada suaminya. Aku diam membisu. Karena aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Mai menolak mentah-mentah baik ucapanku ataupun ucapan suaminya.


Mas Doni memijit keningnya frustasi. Dan dia juga memejamkan mata sejenak, berusaha agar tidak ikut-ikutan terbawa emosi ketika menghadapi istrinya yang saat ini sedang cemburu buta terhadapnya dan terhadapku juga.


Jika dilihat-lihat dari sifat Mas Doni yang dewasa itu. Aku yakin sekali Mas Doni tipe lelaki yang dewasa. Apa lagi dia seorang duda dan umurnya juga sudah matang juga. Kontrol emosinya pasti sudah setabil. Berbeda dengan Ik—


"Dek Anha. Tolong masuk dulu ke kamar sebentar, ya. Saya mau ngomong sama Mai berdua dulu," kata Mas Doni dengan ramah dan datar. Aku mengangguk dan berlalu memasuki kamarku.


Aku tahu mereka mau menyelesaikan masalah mereka berdua secara pribadi.


Tetapi meski pun begitu sayup-sayup aku masih dapat mendengarkan perkataan mereka karena kamar tamu ini letaknya berada di sebelah ruang dapur persis.


"Umi, Sayang. Umi kenapa, sih, bisa marah marah kayak gini? Coba jelasin ke Abi kenapa Umi bisa semarah ini. Hmm?" kata Mas Doni yang terdengar begitu lembut dan dewasa yang terdengar sampai sini. Dia mencoba menenangkan Mai.


"Nggak papa!" kata Mai dengan singkat. Aku yang mendengarnya dari dalam kamar saat ini hanya mampu menebak-nebak apa yang saat ini sedang mereka bicarakan dan aku hanya mampu membayangkan gerkan tubuh Mai dan Mas Doni.


Pasti saat ini Mas Doni sedang memegang kedua lengan Mai dengan lembut dan Mai saat ini sedang membuang muka ke samping. Saat ini Mas Doni juga sedang mencoba menjelaskan semua kesalah pahaman yang saat ini sedang terjadi di antara kita kepada Mai.


"Kalau Abi salah. Abi minta maaf, ya, Umi."


Ya Tuhan. Bahkan masih ada lelaki di dunia ini yang selembut itu ketika memperlakukan seorang istrinya. Memang Mai pantas mendapatkan Mas Doni yang dewasa dan baik secara umur mau pun secara emosi itu. Mai sholehah dan baik. Maka jodohnya pun lelaki yang sholeh dan baik pula.


Jodoh adalah cerminan diri.


Dan jujur dari dalam lubuk hatiku tidak ada niatan sama sekali bagiku untuk menggoda Mas Doni atau pun merebutnya dari Mai.


Aku mengembuskan napas berat dan menatap langit langit kamar ini.


Seharusnya ketika malam itu apa pun yang terjadi harusnya aku menolak jemputan dari Mas Doni agar Mai tidak salah paham terhadapku.


Seharusnya ketika keran di dalam kamar mandi mati aku menunggu Mas Doni di depan rumah saja ketika dia sibuk membetulkannya agar Mai tidak salah paham terhadapku.


Ini semua salahku. Aku menyeka air mataku yang tanpa kusadari menetes. Kemudian aku bergerak untuk memasukkan semua barang-barangku ke dalam tas ranselku. Aku pergi saja dari sini dari pada aku menjadi sebuah benalu di dalam rumah angga orang lain.


Ternyata memang benar wanita dan pria yang bukan mahram apabila tinggal di bawah satu atap akan menyebabkan fitnah.


Memang yang ditakuti bukanlah suami Mai yang bisa jadi kepincut denganku ataupun aku yang kepincut terhadapnya melainkan hal yang paling menakutkan adalah fitnah yang menyebar karena hal itu.


Mai sangat wajar jika saat ini dia cemburut terhadapku. Apalagi Mai juga memergoki aku keluar dari dalam kamar bersamaan dengan suaminya. Istri mana yang tidak berpikir macam-macam jika suaminya keluar dari dalam kamar dengan sahabatnya seperti itu?


Bahkan jika seumpamanya aku yang saat ini berada di posisi Mai juga pasti aku akan marah besar.


Dasar Anha bodoh!


"Bilang aja kalian selingkuh di depan Umi. Bilang aja pasti Abi suka sama dia, kan?!" teriak Mai dari ruang samping.


"Umi. Coba tarik napas dulu. Coba tenangin dulu emosi Umi yang meletup-letup itu baru kita ngomong baik-baik."


"Abi nggak usah, sok, nggak tahu kayak gitu, deh. Umi udah tahu semuanya! Umi udah tahu hubungan gelap kalian."


"Maksud Umi itu gimana? Selingkuh sama siapa? Abi selingkuh sama temen Umi itu, gitu? Abi nggak ada hubungan apa-apa, Mi, sama dia. Di sini Umi salah paham."


"Salah paham apanya! Kalian pulang barengan berdua. Cekikikan berdua. Keluar dari dalem kamar berdua. Apa lagi?! Mau ngelak apa lagi?"


Aku bisa membayangkan pasti saat ini Mas Doni sedang memejamkan matanya, atau *** rambutnya ke belakang.


"Soal njemput dia? Bukannya waktu itu Umi yang nyuruh Abi buat njemput dia karena Umi khawatir banget sama dia kalau dia kenapa-napa di jalan. Inget?" kata Mas Doni membuat Mai hening sesaat. Kalah telak tidak dapat menjawab perkataan Mas Doni sama sekali.


"Terus soal kenapa kalian bisa keluar barengan dari dalam kamar? Kalian pasti habis..." Mai tidak berani melanjutkan ucapannya itu. Atau mungkin dia saat ini sedang menutup mulutnya dan menangis tertahan.


"Astaghfirullah, Dek! Waktu itu aku cuma benerin keran air di kamar mandi kamar tamu karena emang airnya macet nggak bisa keluar. Nggak ada yang lain lagi. Cuma bantu hal itu, doang, Dek. Kenapa, sih, kamu, kok, bisa suudzon kayak gitu?"


Aku menelan ludah. Benar, kan, kataku. Pasti Mai salah paham mengenai hal itu kepadaku karena memang kenyataannya aku dan Mas Doni tidak melakukan apa-apa, kok.


"Bohong, pasti kamu bohong, kan! Mana mungkin kamu ngaku, Mas! Maling ngaku penjara penuh!"


"Astaghfirullah, Dek! Sumpah demi Allah Mas nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Mas bener-bener cuma bantuin dia. Kamu salah paham! Kamu nggak boleh cemburu buta kayak gitu. Itu sahabat baik kamu sendiri. Mas juga udah bahagia sama kamu, sama Shiren dan sama Marwa juga. Jadi nggak mungkin juga Mas aneh-aneh sama wanita lain. Istighfar kamu, Dek! Kamu salah paham!"


Kini Mai dan Mas Doni sudah tidak menggunakan bahasa panggilan Umi dan Abi lagi. Kata-kata Mas Doni sudah terdengar begitu tegas—namun bukan marah, suasana di ruangan sebelah benar-benar sedang begitu panasnya.


Dan kehadirankulah yang memicu pertengkaran rumah tangga Mai.


"Iya-iya aku tahu Anha lebih cantik daripada aku. Siapa juga yang nggak suka sama dia!"


"Mai!" kata Mas Doni dengan penuh penekanan. Bukan berteriak, Mas Doni lebih ke tegas dan aku bisa membayangkan mungkin saja saat ini Mas Doni sedang mencengkeram erat kedua lengan tangan Mai.


Aku *** bajuku yang tadi kulipat dan hendak kumasukkan ke dalam tas ranselku yang berwarna hitam itu. Aku saja yang sekilas mendengar perkataan Mas Doni saja sudah setakut ini. Apalagi Mai yang saat ini sedang berada di depannya. Pasti dia juga merasakan ketakutan.


"A-aku cemburu," kata Mai dengan begitu lirih sambil menangis—ditambah lagi kami berbeda ruangan menyebabkan suaranya terdengar sangat kecil sekali untuk kudengar meskipun ruang kamar tamu dan dapur bersebelahan.


Aku bisa membayangkan Mas Doni saat ini pasti sedang memeluk Mai. Mengusap punggung Mai penuh dengan kasih sayang dan mencoba menenangkannya. Sikap dewasa dan lembut secara bersamaan yang mencairkan hati seorang perempaun.


"Umi. Tolong jangan kayak gini lagi," kata Mas Doni ketika Mai sudah agak tenangan.


"Umi tahu nggak? Kalau kedua orang sudah berumah tangga. Pasti bakalan banyak banget setan yang bakalan ngeganggu rumah tangga mereka biar kedua rumah tangga pasangan itu retak. Kalau orang biasa aja ibaratnya di ganggu satu setan. Tetapi kalau yang namanya orang udah nikah itu yang ganggu seribu setan biar mereka berantem, biar mereka cekcok, dan biar endingnya mereka pisah. Karena nikah itu ibadah yang paling lama dan paling banyak pahalanya."


Aku yang dari kamar ini ikut mendengar juga penuturan Mas Doni.


"Masalah biasa aja kadang bisa memicu pertengkaran hebat, kan, Dek? Kayak suami yang marah ke istinya karena rumahnya beranakan banget, lah. Atau suami yang marah ke istri karena hal sepele kayak kaus kakinya nggak ada sebelah, lah. Dan masih banyak lagi. Itu juga bentuk dari godaan setan. Please, lah, Umi. Abi itu sayang banget sama Umi. Janganlah Umi cemburu buta kayak gitu lagi. Paham, hmm?"


Aku tidak tahu apa yang saat ini sedang mereka lakukan. Mungkin saat ini Mas Doni sedang menangkup wajah Mai. Atau sedang menjelaslan hal tersebut dengan memeluk dan menggesekkan hidungnya pada hidung Mai dan Mai mengangguk pelan mengerti akan penjelasan dari suaminya tersebut.


"Nanti kalau mood Umi udah baikan. Umi jangan lupa minta maaf juga ke sahabat umi tadi, ya. Soalnya Umi juga salah karena suudzon sama dia. Abi juga salah karena seharusnya Abi nggak boleh kenal terlalu deket sama orang lain selain Umi. Dia juga salah karena minta tolong dan timingnya emang beneran nggak tepat. Di sini semuanya salah, oke? Kasihan juga dia cuma nginap di sini tapi dituduh yang engga-engga. Mengerti, Umi?"


Setelah itu aku tidak mendengar lagi sayup-sayup suara dari ruang sebelah.


Kini aku lebih sibuk menata barang-barangku dan mengemasinya ke dalam ranselku.


Haruskah aku pulang saat ini atau besok pagi saja?


Bahkan aku sudah tidak memedulikan lagi makan malam hari ini. Sekarang ini aku malahan tidak berani bertemu dan bertatap muka dengan Mai.


Haruskah aku kabur dari sini ketika Mai dan suaminya sudah terlelap nanti? Aku menggelengkan kepalaku. Kenapa juga aku berpikiran seperti itu karena saking takutnya bertemu dengan Mai.


Aku masuk ke dalam rumah ini secara baik-baik dan tentu saja aku harus keluar dari ruamah Mai dengan itikad baik pula.


***


Jam setengah sembilan malam.


Aku memegangi perutku yang keroncongan karena kelaparan dan belum makan malam. Aku hanya tiduran di ranjang ini masih dalam keadaaan tidak berani untuk keluar dari dalam kamar. Takut betemu dengan Mai.


Ketika aku masih sibuk melamun dan menatap kosong langit-langit kamar ini. Tanpa kuduga sama sekali pintu kamar ini diketuk oleh seseorang.


Terdengar suara Mai dari luar sana.


“Anha, udah tidur belum? Aku boleh masuk, nggak?”


Aku tidak menjawab sama sekali perkataan Mai yang masih di luar kamar, tetapi kini Mai sudah bergerak memutar gagang pintu ke arah bawah dan membuka pintu tersebut dengan pelan.


Mai tampak sedang melemparkan senyum lembut kepadaku—yang malahan membuatku membalasnya dengan senyum kikuk pula. Sudah tidak terlihat lagi api amarah di kedua bola mata hitamnya.


Mai melenggang masuk sambil membawa kantung keresek hitam di tangan kanannya.