
“Tapi maaf sebelumnya. Sejujurnya saya agak nggak setuju Hasan sama kamu kalau emang statusmu janda.”
Anha tediam mendengar penuturan dari Papa Hasan tersebut. Belum apa apa ultimatumnya sudah seperti skak mat bagi Anha saja.
Kini wajah Anha pasi. Memangnya apa salahnya seorang janda?
“Lagi pula. Di luar sana banyak wanita yang juga cantik dan masih single.”
Nyali Anha sudah meciut. Dia sudah ditolak mentah mentah oleh papa Hasan. Lalu sekarang dia bisa apa lagi.
Hasan yang melihat Anha kini mulai mengerut berinisiatif untuk menamenginya. Bagaimana pun juga dia harus memperjuangkan Anha mati matian. Inilah kesempatan Hasan untuk membuktikan jika rasa cintanya kepada Anha sangat besar.
“Papa. Hasan bisa nggak ngomong empat mata sebentar sama Papa.”
Semua orang di ruangan tersebut cukup terkejut melihat Hasan tiba tiba mengatakan hal tersebut.
Anha mendongakkan kepalanya menatap Hasan yang saat ini sudah berdiri dari posisi duduknya.
Memangnya apa yang hendak Hasan katakana kepada Papanya sampai harus bicara hanya berdua saja?
Papanya yang semula ragu pada akhirnya tetap mau menuruti keinginan putranya tersebut.
“Oke.”
Papa Hasan berjalan pergi ke arah sebelah kanan ruang keluarga ini. Entahlah itu ruangan apa, Anha pun tidak tahu pastinya.
“Bentar, ya,” kata Hasan sebelum menyusul Papanya ke ruangan tersebut.
Ketika baru berjalan beberapa langkah, Hasan menengok ke arah belakang dan tersenyum kepada Anha. Senyumannya seolah mengatakan semuanya akan baik baik saja.
Karena memang lebih baik Anha tidak tahu apa yang hendak mereka perbincangkan.
Setibanya di ruang kerja Papanya. Hasan melihat Papanya yang kini sedang duduk di kursi kerjanya sambil bersedekap dada dengan wajah yang murung. Bahkan aura ketidak sukaannya dengan Anha saja sangat ketara.
“Papa kenapa, sih. Dia itu cewek pilihan aku. Dan aku intinya niat bakalan nikahin dia, Pa.”
Papa Hasan menggelengkan kepalanya. Dia benar benar tidak setuju sekali jika putranya menikah dengan perempuan yang tadi.
“Papa tetep nggak setuju kamu nikah sama dia.”
“Kenapa, Pa? Hasan cuma minta restu aja kenapa harus dipersulit.”
Papanya kini naik phitam. Dia berdiri dari posisi duduknya.
“Banyak wanita di luar sana yang lebih cantik dan lebih bagus daripada dia Hasan!”
Kini debat mulut pun ternyata tidak dapat di hindari. Untung saja ruangan ini kedap suara. Jadi nada tinggi dari Papanya Hasan tersebut tidak terdengar sampai ruang keluarga yang berada di seberang sana.
“Tapi bagi Hasan dia yang terbaik, Pa. Dia cantik, dewasa, anggun. Hasan nggak mau yang lainnya.”
Pening sudah kepala Papanya. Inilah salah satu sifat Hasan dari dulu, dia selalu kukuh akan pendapatnya jika menyukai sesuatu.
“Intinya Papa tetep aja nggak ngerestui kamu dan nggak bakalan jadi wali nikah kamu.”
Hasan kehabisan kata kata. Walaupun dia bisa saja nekat kawin lari atau sejenisnya. Tapi tetap saja Hasan ingin mempersunting Anha dengan cara yang baik baik.
“Kenapa Papa sebegitu nggak Sukanya sama Anha?”
“Ya, karena dia Janda!” kata Papa Ikram sambil menggerakkan tangannya. Kemudian Papa Hasan menatap ke arah luar pintu kaca dan melihat perempuan yang disukai anaknya itu sedang melihat mereka berdua dengan wajah pasi dan takut.
Tapi mengingat setengah dinding ruangan tersebut adalah kaca transparan dan pintunya kaca pula. Maka saat ini yang Anha tangkap hanyalah Hasan dan papanya sedang berdebat cukup serius sampai tangan mereka bergerak saling membantah satu sama lain.
“Ya ampun, Pa. Janda atau gadis nggak ada bedanya, Pa. Lagian dia janda tanpa anak, kok. Dan dia dulu nikah sama mantannya cuma enam bulan, doang,” kata Hasan mencoba menebak acak apa yang menjadi kekhawatiran papanya tersebut.
Kini papanya terdiam sejenak. Dan tingkat emosional Papanya juga sudah agak menurun dan tidak meletup letup seperti tadi.
Dan benar saja dugaan Hasan. Ternyata papanya selama ini tidak merestuinya karena dikiranya Anha seorang janda dengan tanggungan anak dari pernikahannya sebelumnya.