After Marriage

After Marriage
Drama Apa Lagi?



Tubuhku terasa kaku seperti tidak dapat kugerakkan sama sekali ketika Ikram melakukan hal itu.


Tampak dia begitu marah membuatku ketakutan. Ikram menarik rambutnya kebelakang dan napasnya berembus tidak karuan.


Aku menunduk ke bawah menatap pecahan kaca yang berceceran lantai. Bibirku bergetar dan aku menangis tertahan.


Aku tidak pernah melihat Ikram semarah ini. Meskipun dia tidak main tangan dan tidak memukulku tetapi aku benar-benar takut dan tidak berani menatapnya saat ini.


Kutekuk lututku, aku mencoba memunguti pecahan kaca di lantai mengingat sekarang di rumah ini hanya ada aku dan Ikram saja.


Jadi mau tidak mau aku yang harus membersihkan kekacauan ini karena sebelumnya pembantu kami sudah di liburkan selama satu minggu dengan alasan supaya tidak menganggu privasiku dengan Ikram ketika nantinya kami hendak bermesraan ataupun berhubungan intim setelah hari-hari pernikahan.


Tapi itu semua tinggalah rencana.


Karena pernikahan kami berdua kini sudah hancur.


Seperti pigura berisi foto pernikahan kami ini.


Aku memekik kecil ketika merasakan perih di jari telunjukku akibat tergores pecahan kaca dari pigura.


Aku mencoba mengibaskan jari telunjukku yang mulai mengeluarkan darah. Lukanya cukup lebar. Setelah itu aku mengisap jari telunjukku untuk meredakan rasa perih, lalu aku membungkus tanganku dengan ujung bajuku.


"Bukannya itu mirip sama kamu?" kata Ikram yang dari tadi masih berdiri di dekatku. Aku menggigit bibirku, bahkan dia tidak peduli sedikit pun kepadaku dan tidak panik sama sekali ketika tanganku terluka. Kenyataan itu lebih menyakitkan daripada tergores kaca pigura ini.


"Kaca yang udah pecah nggak akan bisa dibenerin kebentuk semula lagi, An. Sekeras apa pun kamu mencoba nyatuin lagi pecahan kaca yang udah rusak itu, tetep aja tanganmu bakalan terluka. Dan kamu nggak bakalan paham kalau saat ini kamu lagi nyakitin semua orang terdekat kamu, An."


Setelah itu Ikram berjalan pergi menjauh dariku. Aku masih menahan tangis sambil membersihkan kembali pecahan kaca di lantai dengan menggunakan tangan kiriku, namun bedanya kali ini gerakanku lebih berhati-hati lagi.


Setelah selesai membersihkan pecahan kaca tersebut, aku mengambil kotak P3K dari dalam lemari tetapi aku tidak menemukan hansaplas sehingga aku hanya meneteskan betadine ke jariku yang terluka kemudian membalut telunjukku dengan menggunakan kain perca yang sudah kupotong membentuk pita memanjang sebagai pengganti hansaplas sementara.


Mataku sembab, hidungku susah bernapas karena mampet seperti orang yang sedang pilek, kepalaku terasa berat karena terlalu banyak menangis dari kemarin. Jadi lebih baik kuputuskan untuk tidur sejenak.


Nanti sore setelah aku bangun dari tidurku, aku akan mengemasi barang-barangku dan segera angkat kaki dari rumah ini. Untuk apa aku berlama-lama di sini jika Ikram saja sepertinya tidak sudi lagi melihatku. Dia membenciku, dia sudah tidak mencintaiku lagi.


Seharusnya tadi dia panik dan khawatir ketika jariku berdarah tetapi dia hanya diam saja.


Aku tidur dengan posisi meringkuk miring. Bibirku bergetar, aku membiarkan air mataku mengalir ke bawah.


Dia sudah tidak mencintaiku lagi.


Aku mencoba memejamkan mata dan berpikir apa yang harus aku katakana nanti kepada Mama?


Bagaimana nantinya aku mengatakan kepada Mama Ikram sudah menalakku?


Aku takut.


Ikram benar, aku menyakiti semua orang di sekitarku seperti pecahan kaca pigura itu.


***


Aku mengusap mataku pelan ketika terbangun. Rasa pusing di kepalaku sudah cukup reda, namun sembab di mataku tidak.


Aku menatap jari telunjukku yang tadi terluka kini sudah terbalut hansaplas berwarna cokelat.


Bukannya tadi aku membebat tanganku dengan kain yang kupotong membentuk pita panjang? Lalu kenapa sekarang berganti dengan hansaplas cokelat? Apa jangan-jangan Ikram yang...


Aku menuruni anak tangga untuk mencari keberadaaan Ikram. Terlihat orang tersebut sedang berada di dapur sambil memegang panci dan menyalakan kompor, sepertinya hendak memasak sesuatu. Ikram menggaruk kepalanya. Aku tersenyum tipis, aku yakin dia tidak mengerti cara memasak makanan—walaupun aku sendiri juga tidak terlalu bisa masak, sih.


Aku memberanikan diri untuk berjalan mendekatinya.


"Biar aku aja yang masakin," kataku ketika melihat dua bungkus pasta di dekat kompor.


Ini semua pasti bisa diperbaiki, kan? kataku dalam hati.


"Kamu duduk aja di ruang makan, nanti aku anterin kalau udah matang," kataku sambil mengambil alih panci dari tangan Ikram.


Ikram mengangguk tanpa melihatku sama sekali, kemudian dia berjalan ke ruang makan yang letaknya tidak jauh dari dapur.


Aku memang tidak bisa memasak tapi kalau hanya masak pasta saja tentunya aku masih bisa. Tidak ada pembantu di rumah ini. Dari kemarin Ikram memesan masakan dari luar menggunakan jasa go food.


Mungkin hari ini dia malas memesan makanan dari luar dan lebih memilih memasak pasta karena hal tersebut tidak terlalu repot.


Sekitar sepuluh menitan dua pasta buatanku sudah jadi. Aku berjalan dan menyajikan satu piring untuk Ikram dan satunya lagi untukku.


Kami berdua duduk  berhadap-hadapan, suasana di ruang makan ini sepi, hanya menyisakan suara dentuman dari garpu dan sendok makan.


Ikram dari tadi hanya menatap pasta buatanku dan memakannya dalam diam tanpa berkata sepatah kata pun.


Padahal terbesit keinginan di benakku dia akan memuji masakanku walaupun hanya sekadar pasta.


Tapi aku tidak akan muluk-muluk sampai berharap seperti itu, dia mau makan masakanku saja aku sudah sangat bersyukur.


Aku yakin semua ini pasti ada jalan, selama empat bulan kedepan aku akan berusaha menjadi istri yang terbaik untuk Ikram, aku akan berusaha menyenangkannya.


Hanya satu harapanku, aku berharap pelan-pelan dia akan luluh kepadaku dan akan mencintaiku lagi seperti dulu kala.


Batu yang keras tetap akan terkikis, kan, jika lambat-laun terus terkena tetesan air, bukan?


Sejujurnya aku tidak tahu apakah analogi itu bisa diterapkan di dunia nyata.


Aku tidak munafik, semua orang yang sedang berada diposisi Ikram pasti juga akan merasa sakit hati. Tetapi aku akan terus mencoba, mencoba membuatnya jatuh cinta kepadaku lagi.


Sambil menunggu Ikram mengabiskan makanannya, aku berlalu membawa piring kotorku ke tempat cuci piring.


Aku mendengar suara ketukan dari pintu masuk, hal tersebut membuatku dan Ikram refleks menengok ke arah sumber suara.


Terlihat Mama Erin masuk tanpa di persilakan dengan wajah judes yang melekat di wajahnya. Kemudian Mama Erin berjalan menuju ke arah kami berdua.


Aku mengembuskan napas berat. Seolah bisa meramal jika pasti sebentar lagi akan terjadi hal buruk.


Dahi Mama Erin mengerut ketika mengamati meja makan, setelah itu tatapannya mengamati Ikram yang sedang makan. Sedetik kemudian mulut Mama Erin terbuka.


'Ya, Tuhan, sekarang drama apa lagi?' batinku.


***


Follow juga instagramku: @Mayangsu_ di sana aku lebih aktif dan post banyak info tentang novelku + jadwal update + visual tokoh. Makasih.