After Marriage

After Marriage
Ingin Liburan



Entah mengapa rasanya begitu singkat saja, dan entah mengapa juga aku merasa saat ini aku harus mau tidak mau berberat hati untuk melepaskan kepergian Ikram yang akan melakukan perjalanan bisnisnya ke Bandung.


Padahal suasana kehangatan di dalam pernikahan kami berdua baru saja memasuki fase hangat hangatnya namun aku harus mau tidak mau merelakan dia untuk menyelesaikan sesaat urusan bisnis.


Tetapi... Aku rindu. Amat merindukan dirinya.


Sejujurnya saking rindunya aku merasa tidak rela jika mengizinkannya pergia. Aku ingin melakukan banyak hal dengan dirinya.


Seperti kencan yang tidak pernah kami jalani sama sekali selama ini.


Tidak perlu muluk muluk mengajakku keluar negeri, ataupun mengajakku untuk shoping sepuasnya, menyewa hotel mewah, atau pun naik pesawat pribadi seperti istri CEO di TV TV. Aku tidak semerepotkan itu.


Aku tidak manja. Liburan yang aku harapkan sejak dulu hanyalah liburan yang sederhana seperti khalayak liburan orang pada umumnya. Asalkan liburanku kali ini bersama Ikram. Pasti aku mau saja menghabiskan hanyak waktu dengan dirinya.


Alih alih liburan super mewah seperti istri orang kaya pada umumnya. Aku malahan lebih tertarik dengan liburan biasa dan ditempat yang asri, semacam perdesaan ataupun perbukitan, tempat yang belum pernah di jamah oleh banyak orang atau pun wisatawan asing.


Aku ingin mengajak Ikram untuk pergi bersama ke pantai untuk menikmati suasana di sore ketika menatap tenggelamnya matahari di ufuk barat serta lembutnya pasir putih yang berada di kakiku.


Kapan aku bisa menikmati sunset bersama Ikram?


Dimana mataku menikmati birunya air laut dengan ombak yang bekejar kejaran tanpa lelah. Tanpa bosan. Tapi anehnya dari bunyi airnya saja aku sudah merasakan suasana yang begitu damai.


Belum lagi suasana angin laut yang membelai pipiku yang seolah mengantarkan angin sejuk menentramkan jiwa.


Pantai memang tempat yang cocok untuk menghabiskan waktu kebersamaan dengan kekasih hati di akhir pekan.


Tetapi pergi mengunjungi tempat tempat rekreasi yang lain pun hitungannya juga tak kalah bagusnya daripada Laut.


Yang penting aku menikmati itu semua dengan dirinya, mengingat selama ini hubungan kami begitu pasif dan begitu monoton. Tidak ada perkembangan sama sekali-- kecuali di waktu waktu terakhir ini.


Dulu sekali, ketika aku masih berusia tujuh tahun-- tepatnya ketika Almarhum Papaku masih hidup. Aku pernah diajak Papa dan Mama pergi bersama untuk piknik di desa wisata di daerah Sekatul Jawa Tengah. Di sana tempatnya begitu bagus dan udaranya pun asri sekali.


Sudah berapa tahun lamanya aku tidak ke sana kembali? Apabila aku mengajak Ikram, apakah dia mau meluangkan waktunya sejenak untuk pergi denganku ke sana? Tidak apa jika kami pergi ke sana setelah dia menyelesaikan perjalanan bisnisnya di Bandung selama dua minggu nanti.


Bayanganku mengingat kembali desa wisata Sekatul tersebut, aku ingat betul dulu di da kebun strowberry yang ukurannya cukup luas sekali.


Anha kecil dulu mengenakan topi besar ala Noni Noni Belanda yang terbuat dari anyaman serat bambu dengan motif bunga berwarna biru muda sedangkan aku masih ingat dengan betul dulu Mama berteriak teriak memanggil namaku karena aku dulu selalu lari ke sana ke mari dengan penuh bahagia dan memetik setrowberry tersebut sendiri ketika masa panen stroberry tiba.


Bukannya itu amat seru? Nantinya di sana akulah yang memetik strowberry tersebut lalu Ikram yang akan memegangi wadah keranjang kecil untik Stroberry yang berwarna merah menggoda yang telah aku petik dan ku kumpulkan tersebut.


Ada juga permainan flying fox, dan lainnya. Yang aku ingat, terakhir kalinya aku main flying fox itu ketika aku berumur tujuh tahun itu.


Di sana juga banyak gazebo yang terhubung langsung dengan pohon pohon di sekitar pinggir jalan setapak. Aku begitu ingin ke sana,


Tetapi. Aku begitu sadar diri jika pastinya aku akan menjadi istri yang egois apabila aku memaksakan Ikram untuk menunda penerbangannya demi aku ini.


Tapi... Aku kan sedang ulang tahun. Omong omong apakah Ikram tahu jika hari ini aku sedang berulang tahun, ya?


Jika aku menginginkan Honeymoon kami yang batal dulu untuk hadiah ulang tahunku hari ini apakah dia akan memberikannya untukku?


Aku mengabaikan pikiranku sejenak mengenai liburan tersebut dan mulai beranjak dari sofa empuk ini serta nimatnya biskuit rasa kelapa yang sedari tadi aku makan bahkan tanpa terasa isi dari toples berisi biskuit tersebut sudah mulai habis.


Aku membersihkan tanganku dengan tissue yang terletak di atas meja. Setelah itu aku berdiri dari posisi dudukku kemudian aku berjalan pelan menuju dapur untuk membantu Siti memasak makanan untuk makan nalam nanti.


Aku tersenyum kepada Siti dan mengambil sayuran yang berada di dalam kulkas yang memang di sediakan untuk wadah sayur serta buah-buahan.


"Nyonya itu orangnya rajin banget, ya. Nggak kayak nyonya nyonya yang lain di komplek ini. Beuh, jangankan masak, buka pintu puntu rumah aja kayaknya nggak mau saka sekali nyonya. Macem sultan aja," kata Siti mulai menerocos sendiri dan didukung sepenuhnya dengan anggukkan kepala Menik di sebelahnya yang sedang sibuk menumis bawang.


"Nyona Anha itu udah cantik, baik, pinter masak, idaman banget, deh, pokonya," puji Siti kembali secara berlebihan membuatku bersemu dan menahan tawa.


"Betul itu nyonya! Saya sama menik kerja puluhan tahun di sini pun mau, kok, nyonya," kata Menik dengan menggebu-gebu.


"Alah bilang aja kalian muji biar dapet bonus bulanan, kan?" kataku sambil menahan senyum dan tanganku sibuk mengupas kentang.


"Hehe. Tahu aja, sih, nyonya ini. Jadi malu."


Kini Siti dan Menik terkekeh dan tertawa bersama. Pembantuku yang satunya memang mengambil alih mengerjakan membereskan rumah dan ruang tidur sedangakan Menik dan Siti lebih aktif di dapur dan di pagi hari.


"Siti, ambilin garpu di sana dong," kataku sambil menggerakan tangan kiriku ke belakang sedangkan tangan kananku masih sibuk mengocok adonan yang kubuat. Menurutku kentang goreng enak juga sebagai cemilan untuk nanti malam sambil menonton film bersama Ikram.


Tapi anehnya kenapa Siti dan Menik tidak menjawab perkataanku sih? Mereka ke mana? Bahkan tanganku lelah dan aku sudah meminta tolong kepadanya dua kali. Apa mereka ke belakang, ya?


Ketika aku hendak menoleh ke arah belakang. Bukan garpu yang diulurkan Siti ke tanganku melainkan kertas. Aku yang dengan refleks berbalik badan dan langsung mendapati ternyata Ikram lah yang saat ini sedang berada di belakangku membuat diriku ini sedikit tercekat.


"Ka-kamu," kataku terbata ketika Ikram tersenyum dan mengunci diriku menggunakan kedua tangan kiri dan kanannya di kedua sisi tubuhku.


Aku meringis. Pantas saja tadi Siti dan Menik pergi. Lelaki ini lah ternyata penyebabnya.


Ikram menciumi pipi kanan dan kiriku. Kemudian diakhiri dengan ciuman pada keningku.


"Selamat ulang tahun, Sayang."