
"Buruan Ikram! Panas banget tau di sini! Ini rumah, kok, ya, nggak ada AC-nya, sama sekali, sih. Parah, deh. Kalau Mama, Mah, bisa mati kepanasan kalau tinggal di dalam rumah kecil, sumpek, jelek, dan nggak ada AC-nya kayak gini," celoteh seseorang dengan nada menghina. Suaranya begitu terdengar tidak asing di telingaku.
Yeah, itu adalah suara dari Mama Erin. Ibu Mertuaku.
Awalnya aku kaget karena ternyata Mama Erin juga ikut ke sini. Kukira tadi Ikram datang sendiri ke sini. Tapi, memangnya mau apa Mama Erin pakai repot repot ikut datang ke sini segala?
"Ma-Mama. Apa Anhanya ada? Apa Anha udah pulang?" tanya Ikram kepada Mama dengan suara terputus. Dari suaranya dia saat ini seperti orang yang yang begitu gerogi dan begitu canggung. Atau mungkin ketakutan. Entahlah.
Tadi sebelumnya ketika aku dan Mama sedang mengobrol hangat di ruang kelaurga ini memang benar Mama juga mengatakan kalau hampir setiap hari Ikram memang datang ke sini. Rutin. Tidak pernah terlewat sehari pun. Bahkan sehari bisa sampai dua kali, pagi dan malam.
Itu semua ia lakukan hanyalah untuk mencariku. Untuk mengetahui keberadaanku apakah aku sudah pulang? Apakah aku dalam keadaan baik-baik saja?
Mama bilang saat itu Ikram seperti orang linglung dan wajahnya terlihat begitu cemas, amat khawatir, dan begitu sedih karena kutinggalkan.
Tetapi saat ini aku memang sudah tidak peduli dengannya.
Ketika setengah tahun menikah dengannya. Yang kurasakan hanyalah rasa sedih dan sakit. Apalagi ketika Ikram mengacuhkanku, tidak menyentuhku, bahkan mungkin dulu aku tidak dianggapnya sama sekali.
Di pernikahan yang aku jalani waktu itu yang ada hanyalah rasa begitu sakit. Tubuhku terasa begitu sesak seperti seseorang yang sedang dililit puluhan tali tambang sampai bernapas pun rasanya begitu berat. Amat berat.
Bukannya pernikahan itu adalah janji suci di hadapan Tuhan atas bergabungnya dua manusia yang mengucap janji suci dan melebur menjadi satu. Dan pernikaha itu sendiri harusnya membuat kedua orang yang menjalaninya akan semakin bahagia dari sebelumnya, bukan?
Sedangkan berbeda dengan diriku. Aku tidak bahagia.
Aku sudah memikirkan banyak aspek apa saja yang akan kulalui jika aku memilih bertahan dengan Ikram.
Jika aku memilih bertahan dengan Ikram. Maka itu artinya aku akan selamanya hidup di bawah tekanan Mama Erin dan aku akan selalu dihina hina oleh Mama Erin.
Dan sejujurnya aku tidak akan pernah bisa kuat jika menerima hal itu, apalagi Mama Erin menghinaku secara berulang-ulang, hampir setiap hari. Bisa-bisa aku jadi depresi.
Kemungkinan kedua. Masa, iya, aku harus tinggal satu atap dengan Dewi? Apalagi mengingat Ikram tidak mau menceraikan dan meninggalkan Dewi namun anehnya Ikram mencintai kami berdua secara bersamaan.
Egois, serakah, mau menang sendiri.
Memang wanita normal mana yang mau di madu, dibagi kasih, dan berbagi suami dengan wanita yang lainnya.
Oke, baiklah, memang ada khasus di luar sana di mana ada seorang wanita yang mau di madu karena suaminya itu kaya raya. Ibaratnya seperti menggadaikan cinta demi gelimang uang dan hidup mewah daripada menjadi janda.
Namun aku tidak mau melakukan hal seperti itu. Aku tidak kuat. Aku tidak ridha sama sekali. Kalau pun mas Ikram lebih memilih aku daripada Dewi dan Mas Ikram benar-benar mau bertaubat serta meninggalkan Dewi demi aku. Tapi tetap saja aku tidak akan pernah tega dengan Dewi.
Bagaimanapun juga aku ini seorang perempuan. Aku masih punya hati. Dewi memang masih begitu polos, dia dijanji janjikan pernikahan resmi oleh Ikram.
Dia di suguhi percintaan yang terasa begitu manis semanis madu. Sama seperti ketika Ikram yang dulu menjanjikan cinta kepadaku ketika kami belum menikah.
Dulu Ikram memperlakukanku bak Ratu. Ia menggandeng tanganku, ia mengucapkan kata cinta, dan memberiku barang mewah.
Pun sama, aku yakin ketika Dewi dan suamiku sedang berada di masa pendekatan pastinya Mas Ikram juga melakukan apa yang ia lakukan kepadaku kepada Dewi juga.
Aku memegangi dadaku karena rasanya jantungku berdenyut dengan ngilu sekali.
Kenangan ketika aku memergoki suamiku waktu di hotel itu.
Sampai mati pun bayangan suamiku yang polos tanpa sehelai benang pun yang sedang berhubungan intim dengan Dewi di hotel. Bagaimana suasananya, wajah Ikram yang kelabakan karena ketahuan, wajah Dewi yang sama halnya ketakutan dan menunduk ke bawah sambil memegangi selimut putih yang menutupi tubuh telanjangnya. Semuanya aku ingat dengan detail.
Di tambah lagi kini Dewi sudah memberikan mahkotanya kepada Ikram, Dewi juga menentang keras keputusan ornag tuanya sampai orang tuanya akhirnya mau merestui pernikahan Ikram dengan dirinya meskipun sekadar pernikahan siri.
Aku menggeleng. Sekarang aku hanya mampu memegang teguh keputusan dalam hatiku.
Aku menganggukkan kepala. Aku sudah mantap. Sangat mantap. Aku yakin ini adalah keputusan yang terbaik untuk kami semua.
Dan keputusanku adalah…
Aku ingin cerai!
***
"Ikram! cepetan kamu selesein ini semua! Pegel kaki Mama! Udah panas banget lagi di sini. Udahlah, Mama tunggu aja di mobil! Gerah. Buruan!" kata Mama Erin yang tertangkap indra pendengaranku dari ruang keluarga.
Mama Erin mengomel tidak jelas kemudian mengentakkan kakinya setelah itu mungkin ia berlalu pergi. Aku yang jengah akan sifat arogannya kini hanya mampu memutar bola mataku.
"Nak Ikram tadi mau ngomong apa?" tanya Mama kembali kepada Ikram.
"Um… A-apa… Apa Anhanya udah pulang, Ma? I-Ikram khawatir banget sama Anha," kata Ikram dengan hati hati. Suaranya agak lirih—tapi masih dapat terdengar oleh telingaku.
Aku yang semula masih menggenggam gelas tehku yang berada di pangkuanku kini aku bergerak untuk menaruh gelas tersebut di atas meja kaca yang berada di depanku itu.
"Iya. Anha udah pulang tadi pagi. Alhamudililahnya dia pulang dengan selamat dan baik-baik aja, jadi kamu nggak perlu khawatir lagi."
Hening sesaat dari arah ruang tamu tersebut, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi karena terhalang tembok. Aku juga tidak tahu ekspresi Ikram secara langsung. Yang biasa kuketahui hanyalah suara sayup sayup dari Mama dan Ikram.
"Mama… boleh nggak Ikram ketemu sama Anha sebentar aja? Ada satu hal yang perlu Ikram omongin sama Anha, Ma…" kata Ikram menggantung, kemudian Ikram melanjutkan kembali ucapannya tersebut.
"Perihal pernikahan kami."
Aku menelan ludahku, jantungku seolah terasa berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Terasa berdebar-debar tidak karuan.
Tentang pernikahan kami? Memangnya apa yang hendak Ikram katakana kepadaku? Apakah mengenai perceraian kami? Benarkah dia sudah memutuskan ini semua secepat itu?
Aku menarik napas dalam-dalam dan bertanya dalam hati tentang sanggupkah aku menghadapi Ikram secara langsung hari ini?
"Mama coba tanyain dulu, ya, ke, Anhanya. Karena Mama nggak bisa maksain Anha kalau emang Anhanya lagi nggak mau ngomong sama kamu."
Setelah itu tidak ada suara yang terdengar dari seberang sana.
Tiba-tiba tanpa aku sadari sama sekali kini Mama sudah menyibak korden dan berjalan menghampiriku.
***