
"Apa kamu juga nggak bisa ngertiin seberapa sakit hatinya aku, An dan seberapa kecewanya aku?"
Aku meremas rambutku, benar-benar frustasi saat ini. Tapi kalau boleh jujur selama ini Mama Erin tidak mengetahui bahwa diriku sudah tidak perawan sebelum menikah, itu artinya Ikram tidak mengatakan kepada siapa pun tentang itu. Aku bahkan tidak bisa membayangkan betapa bencinya Mama Erin jika mengetahui hal tersebut. Pasti beliau akan memakiku habis-habisan.
Tapi...
"Terus kamu maunya apa, Mas? Aku capek banget sama ini semua. Apa kita cerai aja? Mamamu juga benci banget sama aku, Mas. Kamu juga benci dan marah sama aku. Kamu nggak mau nyentuh aku dan jijik sama aku padahal aku ini istrimu sendiri. Terus apa yang kita harapin dari pernikahan ini?"
Aku menunduk agar dia tidak melihat mataku yang sudah berair. Semua beban di benakku yang kusimpan selama enam bulan ini seolah keluar dengan sendirinya.
Lagi pula kalau hari ini aku cerai, aku sudah tidak malu lagi karena tidak akan menjadi buah bibir tetangga mengingat aku cerai di usia pernikahanku yang sudah menginjak enam bulan, berbeda jika Ikram menceraikanku dulu ketika pernikahan kami baru berlangsung selama tiga hari.
Bukannya aku sudah tidak mencintai Ikram lagi. Aku sangat-sangat mencintai dirinya. Namun aku sudah tidak kuat lagi dengan sikap Mama Erin mertuaku. Aku juga sangat ingin hidup bahagia dengan Iram dan memiliki seorang bayi yang lucu darinya. Tetapi faktanya Ikram tidak mau, bahkan aku berani bertaruh dia tidak ada pandangan sama sekali mengenai anak. Lalu untuk apa hubungan ini dipertahankan.
"An, nggak gitu, Sayang. Maafin aku. Aku cuma butuh waktu lagi."
Ikram menggenggam erat jemariku.
"Ini sudah setengah tahun!" teriakku sambil menatapnya dengan wajah menangis. Ikram terdiam tidak percaya dengan reaksiku barusan.
Aku ingin anak darinya!
"Kenapa kamu nggak mau berhubungan intim sama aku? Kamu bilang ada alasan lain, kan? Apa aku sebegitu menjijikannya di mata kamu!"
Ikram menangkup wajahku dan menghapus air mataku.
"Maafin aku. Dan saol jijik. Tolong jangan bahas itu lagi, An. Itu udah dua bulan yang lalu. Aku cuma belum siap aja untuk punya anak sama kamu."
Bagaimana aku tidak mengingatnya. Kata-katanya begitu menyakiti perasaanku yang paling dalam.
"Kenapa?" tanyaku. Kenapa dia belum siap memiliki anak denganku? Apakah dia tidak tahu jika aku sudah stress dimintai cucu oleh Ibunya yang mirip nenek lampir itu.
"Karena dulu aku mikirnya kalau kita punya anak, hal itu malahan ngerepotin kita kalau kita cerai nanti," katanya dengan sangat pelan sambil menunduk.
Mataku membulat penuh, aku tidak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan. Kenapa dia sampai berpikiran seperti itu? bahkan perceraian seolah sudah ia pikirkan dengan sangat matang.
"Tapi itu dulu, itu dua bulan yang lalu. Maafin aku. Kenyataan memang pahit. Tapi aku pengin kita saling jujur. Kesalahan kita dari awal itu karena kita nggak komunikasi. Aku yang egois karena merasa tersakiti sampai gamau ngomongin semua hal secara baik-baik sama kamu."
Entahlah, saat ini aku terlalu lelah. Aku tidak tahu hendak berbicara apa lagi. Kepalaku seolah sudah tidak dapat berpikir lagi saat ini.
"Aku mau tidur, Mas. Kepalaku pusing," kataku sambil melepaskan jemariku yang masih digenggamnya erat, kemudian aku menarik selimutku dan menutupi seluruh tubuhku tertutupi dengan selimut ini.
"Selamat tidur, An."
Aku dapat mendengar Ikram hal tersebut meskipun sangat lirih.
Apakah memang sebenarnya kami saling mencintai tetapi ego kami terlalu besar?
Aku menutup mataku, kepalaku terasa pening, aku butuh tidur. Aku hanya berharap semoga besok lebih baik daripada hari ini.
Ketika aku terbangun aku merasakan sedikit sesak. Aku menggeliat dan merasakan lengan kekar melingkar di perutku, mataku membulat penuh ketika melihat Ikram sedang terlelap di sampingku dan memelukku bagaikan sebuah guling.
Pipiku merona sangat merah karena dekatnya jarak kami berdua, terlebih lagi Ikram tidur dengan tidak mengenakan baju atasan. Aku otomatis memeriksa diriku sendiri yang ternyata masih mengenakan baju lengkap.
Aku hendak menyingkirkan lengannya tersebut, aku harus turun ke bawah untuk memasak karena sebelumnya aku sudah menetapkan jadwal memasak kupegang dihari kamis sampai selasa kepada Siti. Namun rasanya susah menyingkirkan lengan Ikram.
"Lima menit lagi, An."
Ikram semakin mengeratkan pelukannya pada tubuhku dan menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku mengangguk dan hanya terdiam dalam posisiku yang masih terkurung lengannya.
Jadi... apa semalam Ikram tidur di ranjang ini bersamaku? Setelah enam bulan lamanya kita berdua pisah ranjang akhirnya dia mau tidur seranjang denganku juga?
Aku memejamkan mataku kembali dan mengusap lengannya lembut.
"Maafin aku karena selama ini nggak pernah buat kamu bahagia, An," kata Ikram dengan sangat lirih begitu menyentuh hatiku.
"Aku pengin memperbaiki hubungan ini," lanjutnya lagi.
Dan mungkin...
Batu yang keras itu memang kini benar-benar bisa terkikis oleh tetesan air meskipun harus menunggu selama enam bulan.
***
Pagi hari sinar matahari mulai menyapa melalui cahaya yang memasuki beberapa celah jendela rumah kami. **Mood-**ku tidak pernah sebagus ini ketika di pagi hari. Tanganku sudah dengan gesit menarik laci lemari dan mengambil dasi berwarna navy tua milik Ikram. Kemudian setelah itu aku berjalan menghampirinya yang saat ini sedang sibuk mengancingkan lengan kemejanya.
Dia tersenyum kepadaku ketika aku berjalan mendekat, senyumannya berhasil membuat pipiku menghangat. Kupasangkan dasi tersebut pada kerah kemejanya, kemudian aku membentuk sampul segitiga pada dasi tersebut.
Entah mengapa kali ini aku merasakan gerakan memasangkan dasi seolah lebih lama dari biasanya. Aku... sedikit gemetar dan merasa canggung karena dekatnya jarak antara kami berdua.
Aku sampai dapat merasakan napas Ikram yang berembus mengenai pucuk kepalaku, jantungku berdegup lebih cepat daripada biasanya. Terlebih ketika saat ini tanpa kusadari Ikram merangkul pinggangku dan menarikku agar lebih mendekat, memotong jarak antara tubuh kami berdua.
"Kamu cantik, An. Kenapa dari dulu aku jarang ngamati kamu dari dekat."
Uh, pipiku memerah merona akan pujiannya di pagi hari. Ikram tertawa kecil dan mengusap pipiku yang memerah menggunakan ibu jarinya.
Dia ini berlebihan sekali dalam memujiku, padahal penampilanku saat ini saja masih kusut dan aku masih mengenakan baju tidurku, serta rambutku masih terlihat berantakan khas wanita yang baru saja bangun tidur. Lalu, mana ada cantik-cantiknya sama sekali coba.
"Selesai," kataku ketika sudah memasangkan dasinya dengan rapi kemudian aku menepuk-nepuk hasil karyaku itu.
"Makasih," katanya sambil tersenyum manis. Mata kami saling memandang satu sama lain kemudian aku memutuskan pandanganku dengan cara menatap ke arah lain karena aku malu ditatap seperti itu.