
"Tuhkan! Kamu, sih, asal bicara," kataku sambil melotot kesal. Sedangkan yang dipelototi masih tertawa sampai sudut matanya menyipit.
"Mau buat adek buat kamu, genduttt," kata Ikram santai sambil mencubit pipi tembam Diego dengan gemas.
"Wow," kata Diego polos. Ya Tuhan suamiku ini asal bicara kepada anak berusia lima tahun. Aku mencubit perut Ikram dengan tangan kiriku yang bebas tidak menahan gendongan Diego.
Kaki Diego bergerak-gerak minta diturunkan, akirnya aku menurunkannya dari gendonganku kemudian Diego berlari ke arah Papanya yang sedang berbicara dengan tamu lain.
"Maa syaa Allah."
Mai menangkup wajahku dengan gemas. Aku mengerucutkan bibirku.
"Akhirnya kamu nyusul juga, An. Semoga sakinah, mawadah, dan warohmah."
Aku terenyum dan mengatakan terima kasih. Tetapi setelah menyalami Mai wajahku berubah menajdi pias ketika melihat Lidya ternyata juga datang ke acara pernikahanku. Lidya memakai baju batik berwarna tosca, dia berjalan beriringan bersama suaminya dan dua anaknya yang masih kecil-kecil. Mataku menyusuri sekitar, takut jika Rudi juga ada di sini. Tetapi aku mengembuskan napas lega ketika tidak menemukan keberadaan Rudi di kerumunan para tamu undangan. Aku masih mengingat kata-kata yang Lidya bisikkan ketika menyamaiku dan memeluk tubuhku erat.
"Maafin aku, ya, An, atas kejadian saat itu, dari lubuk hatiku yang paling dalam aku merasa nyesel banget, An." Aku mengangguk. Itu hanya masalah masa lalu.
"Nggak nyangka banget Pak Ikram sama Anha nikah juga. Dulu padahal Pak Ikram judes banget, ya, An sama kamu. Judes-judes cinta ternyata."
Lidya tertawa cekikikan, dia mencoba mengalihkan perhatian. Aku ikut tertawa dan mengerucutkan bibirku ke arah Ikram yang sepertinya pipinya memerah malu mengingat masa-masa awal ketika kami baru pertama kali bertemu, saat itu aku masih menggunakan seragam SPG-ku dan dia dengan wajah menyebalkannya sok menyuruhku inilah, itulah, pecatlah, huh si boss sombong ini ternyata bisa kutakhlukkan.
"Semoga langgeng, ya," kata Lidya, aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Sudah pukul tiga sore acara masih saja ramai. Aku memukul-mukul kecil pahaku yang sudah sangat lelah.
"Anha," kata seseorang, membuatku langsung menengok ke arahnya yang saat ini mendekat dan hendak menyalamiku. Aku berdiri untuk menyalaminya. Senyumku mengembang melihatnya.
"Adi! Ya, ampun!"
Aku tersenyum dan langsung memeluknya bahkan aku lupa jika ada Ikram yang masih berada di sebelahku yang saat ini cemberut menampakkan ketidak sukaannya.
***
Dengan cepat aku melepaskan pelukanku pada tubuh Adi ketika merasakan Ikram menyentuh lenganku—dan sedikit menekan erat seolah memberi kode kepadaku jika seharusnya aku tidak bertingksh seperti itu. Aku menatap Ikram yang kini wajahnya dingin tidak menyukai apa yang tadi kulakukan. Aku tersenyum meringis, terlebih aku juga lupa dengan keberadaan wanita di sebelah Adi. Anha bodoh! kata gadis batinku.
Aku menggaruk kepalaku, "Sorry."
"Gapapa, kok. Santai aja, kita, kan, teman lama."
Aku tertawa, teman lama di ranjang juga—tambahku dalam hati.
"Selamat, ya, Anha. Semoga langgeng sampai tua," kata Adi. Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Ikram menggenggam erat tanganku, aku sedikit senang melihatnya cemburu seperti ini.
"Oh, iya, An. Doain, ya. Aku sama tunanganku bulan depan bakalan nyusul kalian."
Senyumku mengembang mendengar hal tersebut, aku menatap perempuan di sebelah Adi, sebenarnya wajah perempuan tersebut biasa-biasa saja, tapi lesung pipi di sebelah kanannya membuatnya terlihat manis dan tidak membosankan jika dipandang lama-lama. Aku mengamini hal tersebut dan tentunya aku ikut senang karena Adi sudah menemukan tambatan hatinya saat ini. Toh, aku juga sudah bahagia dengan kehidupanku dan dengan pernikahanku yang sekarang.
"Serius nanti malem aku bakalan ikat kamu kalau kamu kayak gitu ke cowok lain lagi, An. Aku bener-bener nggak suka," kata Ikram setelah Adi dan calon istrinya sudah pergi. Ikram memelukku dari belakang dan membisikkan kata-kata tersebut membuatku tertawa geli.
"Dasar possesive kamu," kataku sambil mencium pipi suami sahku ini.
Acara ini berakhir pada pukul tujuh malam.
Kakiku terasa lelah dan mati rasa karena banyaknya menyalami tamu undangan.
Saat ini kami sudah berada di ruang ganti. Aku menatap Ikram yang berada di sampingku, dia juga nampak kelelahan ketika MUA menghapus makeup kami, bahkan matanya juga terpejam sesaat menahan kantuk yang luar biasa meskipun beberapa detik kemudian matanya terbuka lagi mencoba untuk terjaga. Aku tertawa melihat ekspresi lucunya kemudian aku menyenggol lengannya membuat Ikram langsung terbangun dan mengerjapkan mata. Bahkan MUA yang mengapus riasan kami tertawa geli.
Ketika dua MUA itu sedang keluar entah kemana, aku mendekatkan tubuhku kepada Ikram.
"Abis ini langsung tidur atau..." tanyaku dengan pelan, takut jika ada orang lain yang mendengar percakapan rahasia ini. Ikram merenggangkan tubuhnya.
"Besok juga nggak papa. Aku tahu, kok, kamu kecapaian banget, Sayang."
Pipiku memanas ketika Ikram memanggilku dengan sebutan 'Sayang'. Ikram mengusap-usap kepalaku dengan manja. Malam ini kami menginap di hotel tempat resepsi ini diadakan. Baru besoknya kami pulang ke rumah Ikram.
Dan tentunya tidak ada apa-apa ketika kami sudah berada di kamar hotel karena aku dan Ikram sendiri sudah teler kelelahan karena padatnya acara pernikahan kami tadi siang.
***
Di Rumah Ikram...
Aku sangat bersyukur karena ternyata rumah mewah ini adalah rumah pribadi milik Ikram yang memang dibelinya sendiri dan dipersiapkan untuk keluarganya kelak.
Maksudku... Mama Erin tidak ikut tinggal di rumah ini karena Mama Erin sudah memiliki rumah pribadi di perumahan Surya Cendika satu daerah dengan rumah Tante Ririn. Aku beryukur aku tidak perlu tinggal satu atap dengan mertua judesku itu. Bisa aku mati muda jika harus tinggal bersama Mama Erin.
Aku memukul pelan bahu Ikram, aku malu ketika Ikram menggendongku di depan dengan gaya ala pengantin baru sedangkan Mama menahan senyumnya melihat keromantisan kami berdua.
"Malu, ih, Mas sama Mama," kataku pelan, aku mengalungkan tanganku di lehernya karena takut terjatuh. Sebenarnya aku sedikit tidak terbiasa memanggil Ikram dengan sebutan Mas. Tetapi mengingat kami sudah menikah tidak mungkin aku memanggilnya dengan nama panggilannya. Terlebih Mama yang menyuruhku.
"Mas serius kuat gendong aku? Aku turun dulu aja, deh, nggak papa daripada jatuh," kataku ketika Ikram mulai menaiki tangga untuk ke kamar utama di lantai atas. Ikram hanya menyeringai tetap tidak mau menurunkanku.
"Garap kamu sehari semalam aja aku kuat, kok, Sayang."
"Mas!" Aku melotot kepadanya kemudian memukul bahunya, kenapa Ikram begitu mesum menjelang hari-hari setelah menikah, sih? Kanaya yang sedang meletakkan tasnya di atas meja dekat tangga tampak pipinya memerah malu karena tidak sengaja mendengar perkataan Kakaknya yang mesum ini. Aku cemberut, Ikram memang sekarang sering bicara asal seenaknya.