After Marriage

After Marriage
Bocah Itu Lagi!



Aku mulai bersih bersih. Menyapu. Menggosok kaca etalase. Dan masih banyak lagi sebelum toko dibuka.


Aku mentap ke arah kanan bawah. Tampak kursi Tyas masih terlihat masih kosong. Apa anak itu jangan jangan libur, ya, hari ini? Kenapa sudah pukul tujuh kurang lima belas menit dia belum juga datang?


Aku memanyunkan bibirku karena merasa tidak adil sama sekali karena Tyas yang telat datang pagi ini. Bagaimana tidak, biasanya kami membersihka bagian depan bersama. Namun kini aku sendirian yang membersihkan toko bagian depan karena Tyas belum sampai juga.


Sambil menunggu Tyas datang. Aku memutuskan untuk pergi sejenak ke belakang. Ke kamar mandi. Untuk cuci tangan dan memoleskan make upku yang mulai luntur ini agar penampilanku lebih segar lagi.


Tetapi setelah aku kembali dari kamar mandi. Mataku membulat seketika ketika melihat Tyas yang saat ini sedang tersenyum malu dan pipinya tampak memerah dan Tyas juga sedang dikerubungi oleh banyak karyawan lain.


'Apa yang saat ini sedang terjadi?' kataku dalam hati.


Aku menutup mulutku tidak percaya.


Tyas...


Tyas...


Hari ini... Tyas mengenakan hijab putih! Astaga! Aku yang merasa penasaran kemudian mulai berjalan mendekatinya untuk mengerubunginya juga seperti karyawan yang lainnya yang tak kalah antusiasnya seperti diriku ini.


Bahkan aku tidak percaya kalau itu benar-benar Tyas karena wajahnya saat ini tampak berbeda sekali ketika sesudah mengenakan hijab dan ketika tidak mengenakan hijab.


Benar kata Mai. Wanita yang mengenakan hijab terlihat tampak lebih anggun lagi daripada wanita yang tidak mengenakan hijab. Mereka seperti oase di padang pasir yang tandus. Terlihat begitu sangat menyejukkan hati.


'Oh, jadi dia terlambar masuk pagi karena ini toh alasannya?' kataku dalam hati.


"Pantesan telat berangkatnya. Bu haji, mah, jahat. Maimunah ini kecapekan tau berisih bersih sendiri," kataku sambil memasang wajah murung. Tyas tertawa kecil sambil memukul bahuku pelan.


"Maaf, ya, An. Nanti aku bantuin kamu waktu pembukuan sore, deh," kata Tyas merasa bersalah dengan diriku.


Aku baru menyengir dan mengacungkan jempolku serta memaafkan Tyas seketika.


Pembukuan sore memang hal yang memusingkan kepalaku karena kami harus menotal semua barang terjual pada nota penjualan harian. Untung saja Tyas sangat jago sekali mengurusi hal tersebut.


"Kamu cantik banget Yas pakai hijab kayak gini. Hehe."


"Makasih, An. Semoga kamu ikutan segera 'nyusul' juga, ya," kata Tyas membuatku meringis. Entah mengapa rasanya kata&kata Tyas tersebut seolah mencubit hatiku.


Padahal aku tahu kalau dia tidak bermaksud apa-apa. Atau mungkin, sebenarnya hati kecilku juga menginginkan apa yang saat ini sedang Tyas lakukan, ya?


Maksudku...


Mengenakan hijab begitu?


Ah, entahlah. Aku belum siap.


'Tapi sampai kapan belum siapnya? Sampai mati dulu baru tobat?' kata gadis batinku.


'Tapi, kalau kamu pakai hijab, kamu bakalan kesusahan cari kerjaan dan gimana kalau kamu nggak menarik lagi di mata laki-laki?' kata gadis batinku yang lain.


Dan berakhirlah diriku dengan perang batin sendiri ketika aku selalu memikiran hal tersebut.


"Tapi kamu nggak takut kalau Pak Erwin marah, Yas? Kamu nggak takut gitu kalau dipanggil atau dipecat?" kataku mengingatkannya kembali dirinya kalau memang di tempat ini pegawai perempuan tidak dizinkan mengenakan hijab.


Tyas tersenyum dengan lembut kepadaku. Dia tidak segerogi kemarin. Itu artinya dia sudah siap dengan apa pun risiko yang nantinya hendak ia hadapi.


"Nggak papa, kok, An. Aku udah siap sama semua konsekuensinya. Kalaupun hari ini aku memang dipecat. Aku bakalan nyoba ikhlas. Ya, meskipun sedih juga, sih. Karena apa? Karena sebenarnya rezeki kita itu udah Allah atur, An. Emang jalan hijrah itu sulit. Pasti banyak penghalang supaya kita berat ketika memutuskan untuk berhijrah. Aku udah mantepin hatiku. Aku bakalan tetap sama pendirianku ini."


Aku meringis dan memangut- mangutkan kepalaku paham.


'Emang jalan hijrah itu sulit. Pasti banyak penghalang supaya kita berat ketika memutuskan untuk berhijrah.'


Pak Erwin ini memang terkenal memiliki sifat galak, judes, tegas, killer sekali, lah, pokoknya.


"Selamat pagi, Pak," kataku dan Tyas bersamaan memberi salam kepada Pak Erwin. Pak Erwin hanya diam saja. Tetapi gerakan melangkah Pak Erwin terhenti ketika melihat Tyas yang berada di sampingku.


Aku menelan ludahku--pun sama seperti Tyas yang saat ini sepertinya juga sedang gerogi karena memang tatapan dari Pak Erwin saat ini memang sedang tidak bersahabat sama sekali.


Tetapi tindakan Pak Erwin hanyalah sampai sebatas itu saja. Kemudian setelah itu Pak Erwin berlalu memasuki ke ruangannya yang biasanya ia tempati.


Aku dan Tyas mengembuskan napas lega.


Ah, selamat.


Hari ini toko terbilang cukup ramai, banyak orang yang silih berganti untuk membeli kue. Bahkan aku rasa lonceng kecil yang terletak di atas kusen pintu toko selalu berbunyi, pertanda banyaknya pelanggan yang masuk untuk mengabseni diri mereka ketika membeli kue di sini.


Kami juga dibuat kewalahan dengan pesanan orang lain seperti pesanan pembuatan roti untuk acara PKK dan arisan juga.


Dan hal paling menyebalkannya lagi adalah memang gaji kami tidak naik sama sekali meskipun pesanan membludak seperti ini.


Jangankan naik gaji, dapat bonus saja sepertinya hanya mimpi.


Apes sekali aku bekerja di tempat seperti ini.


'Ya... Daripada menganggur di rumah saja, lebih memilih yang mana?' begitu lah pikirku.


Aku bersumpah-serapah sendiri. Dasar kompeni! Dasar tidak punya hati! Dasar toko kerja rodi!


Dan masih banyak lagi sumpah-serapah yang meluncur dengan mulusnya dari bibir merah meronaku ini.


Sedangkan Tyas yang berada di sebelahku hanya terkikik geli mendengar ocehan tertahanku sejak tadi. Sesekali Tyas mengusap bahuku menyuruhku ber istighfar agar aku bisa kembali ke mode tenang. Aku hanya memanyunkan bibirku, masih kesal.


"Tuh, di cariin," kata Tyas kepadaku sambil menunjuk ke arah pintu masuk toko menggunakan dagunya.


"Siapa?" kataku dengan singkat, dengan refleks aku menengok ke arah pintu masuk dan kini aku melihat Sean--bocah yang kemarin kini terlihat lagi di sini.


Aku mengeryitkan dahiku.


"Mau apa bocah itu ke sini lagi?" kataku dengan pelan.


"Ya, mau beli kue, lah, An. Masak mau beli pulpen. Lucu, ih, kamu," kata Tyas sambil menyenggol sedikit lenganku membuatku memanyunkan bibirku.


Ternyata anak ini mendengar juga perkataanku tadi. Padahal aku mengatakannya dengan sangat lirih.


Jelas saja aku mengerti dia ke sini hendak membeli kue. Tetapi kenapa dia ke sini di jam sepuluh pagi seperti ini? Apa anak ini tidak sekolah?


Aku bersedekap dada. Apa jangan-jangan dia sedang bolos sekolah, ya?


Dasar anak badung ini. Aku saja yang dulunya badung di sekolahan tidak pernah sama sekalipun berpikiran untuk bolos dari sekolahan, kok.


"Hai, Tante manis. Selamat pagi. Hari ini Tante cantik. Seperti kemarin," katanya dengan senyum menyengir ketika mendekati tempat kami.


Aku membuka mulutku tidak percaya. Dasar anak tengil! Beraninya menggoda tante tante di pagi hari yang cerah ini!


"Mau beli apa?" kataku dengan cuek dan terdengar begitu judesnya. Jelas saja aku kesal. Anak ini bolos sekolah dengan seenaknya, mana mungkin aku yang melihatnya tidak kesal!


Tyas menyikut lenganku karena sikap ketusku barusan. Karena memang pada kenyataanya kami ini disuruh beramah-tamah dengan pelanggan, bukan?


"Ih, kok, judes amat, sih, Tante. Aku, kan, ke sini mau beli kue," katanya sambil memasang wajah polosnya yang tidak pernah ia ganti sama sekali. Keculi ia ganti dengan wajah tengilnya yang sesekali ia tampakkan kepadaku.


Dan apa dia bilang tadi? Dia memaggilku dengan sebutan Tante? Aku mendelik sebal. Enak saja! Sejak kapan aku menikah dengan omnya, hah!