After Marriage

After Marriage
Sebagai Kekasih yang Tak Dianggap



Kemudian setelah Ikram yakin jika pintu tersebut sudah benar benar terkunci dengan rapat. Barulah Ikram memasukkan kunci tersebut ke dalam kantung celanannya kembali.


"Tapi aku istri kamu, Mas. Kenapa juga aku nggak boleh tahu sekadar apa isi dari ruang kerja kamu!" kata Dewi dengan kesal karena Dewi merasa berhak tahu.


"Itu privacy aku."


"Tap--"


Belum sempat Dewi menyelesaikan ucapannya tersebut, namun Ikram sudah meninggalkannya di belakang dan dengan sebegitu acuhnya Ikram bergerak menuruni anak tangga untuk melakukan makan malam yang tertunda itu. Benar benar mengabaikan Dewi mentah mentah.


Dewi mengepalan jemarinya erat erat. Bibirnya bergetar merasakan kekesalan yang amat luar biasa.


Sekarang dia bertanya dalam hati. Benarkah dia istrinya?


Kenapa Ikram selalu memperlakukannya seperit itu? Dewi seolah bagaikan Istri yang memiliki raga suaminya, namun tidak dengan hatinya.


Ikram selalu mengcuhkannya, bahkan Dewi merasa ini tidak seperti pernikahan yang dulu ia impikan ketika sebelum menikah!


Diajak bicara saja jarang! Berhubungan biologis saja hanya beberapa kali saja, itupun hanya ketika Ikram sedang menginginkannya. Paling paling satu bulan hanya tiga kali.  Bahkan Dewi merasa Ikram tidak menganggapnya sebagai istrinya sama sekali.


Dengan kesal Dewi menendang pintu ruang kerja Ikram yang sudah tertutup dan terkunci rapat itu.


"Sialan!"


***


Di kantor, ketika jam istirahat makan siang tiba...


Biasanya jam segini para karyawan sibuk keluar dari ruangannya untuk mencari makanan pengganjal perut mereka setelah setengah harian berkutat dengan pekerjannya masing masing. Contohnya seperti makan siang di kantin kantor ataupun di tempat makan dekat sini.


Sebelumnya Hasan sudah memesan dua burger berserta minumannya lewat goofo*d untuk dinikmati bersama dengan Anha karena teringat jika dulu Anha pernah datang ke lantai atas menemuinya hanya untuk sekadar makan siang besama, kini giliran Hasan yang mendatangi Anha.


Kalau boleh jujur, sebenarnya Hasan merasa agak malu karena takut apabila beberapa pasang mata karyawan menatap ke arahnya dan berbisik bisik tidak jelas karena seorang manager di perusahaan ini datang ke ruangannya CSO seperti Anha.


Ah, yasudahlah. Mari bersikap bodo amat. Pasti gossip yang Anha dan Hasan tutup tutupi lambat laun akan orang orang ketahui juga jika sebenarnya mereka berdua pacaran.


Toh, biarkan saja semua orang tahu kalau sebenarnya memang Anha dan Hasan memiliiki hubungan. Kan, sebenatar lagi mereka juga akan menikah. Jadi sekarang Hasan akan pacaran secara terang terangan dengan Anha.


Ketika Hasan sudah sampai di pintu ruangan kekasihnya itu. Kini Hasan bergerak mengetuk tiga kali pintu ruangan ketika mendapati Anha yang masih sibuk menata dokumen di meja kubikelnya.


“Siang,” kata Hasan menyapa wanitanya.


Anha langsung seperti tergerak sendiri menengok ke arah sumber suara tersebut dan mendapati Hasan yang sedang bersender di daun pintu ruangan.


"Boleh masuk?" tanya Hasan sambil tersenyum.


Anha membalas senyuman manis dari calon suaminya yang beberapa bulan lagi akan sah menjadi suaminya itu sambil mengangguk dan menarik salah satu kursi temannya yang kosong karena saat ini dia sedang makan siang di luar.


Hasan bergerak mendekat, lalu duduk duduk di kursi itu. Ia = memberikan bungkusan berisi burger dan minuman tersebut kepada Anha.


Tampak Anha yang begitu senang membuka bungkusan tersebut dan membaginya dengan Hasan, lalu Anha langsung menikmati makanan tersebut. Mereka menikmati makan siangnya bersama sama.


***


YA JANGAN NYANYI SAMBIL BACA JUDUL BABNYA KALI MAIMUNAH -_-