
"Gimana aku bisa punya anak Mas kalau selama ini kamu sendiri nggak pernah nyentuh aku? Kamu nggak tahu aku, tuh, sakit hati banget dikatain mandul sama Mama kamu! Kamu nggak pernah ngasih nafkah batin ke aku sama sekali Mas!" kataku dengan emosi, napasku memburu tidak beraturan.
Ikram menarik rambutnya ke belakang. Kemudian menggeleng.
"Tapi aku bener-bener nggak bisa, Anha."
"Iya! Nggak bisanya kenapa? Kamu impoten? Atau kamu gay? Atau aku udah nggak menarik lagi di mata kamu, gitu? Semua hal pasti ada alasannya, Mas. Makanya sekarang kamu harus jelasin ke aku kenapa nggak bisa! Aku aja yang cewek nggak bisa nahan ini semua sedangkan kamu yang cowok kenapa bisa bertahan selama empat bulan!"
Ikram memandangku yang sedang diselimuti emosi dengan tatapan tidak percaya jika aku bisa semarah ini. Aku membuang muka, kesal melihat dirinya yang masih terdiam sambil bersandar di lemari seperti orang idiot.
Rudi saja sampai mengejar-ngejar diriku hendak meniduriku sedangkan suamiku sendiri tidak mau berhubungan intim denganku.
Aku *** rambutku frustasi, kesal dan malu menjadi satu secara bersamaan.
Ikram bergerak mendekatiku kemudian memegang kedua bahuku dengan kencang. Pandanganku langsung tertuju ke wajahnya yang saat ini bergerak mendekatiku.
Aku menelan salivaku, jantungku berdegub lebih cepat, kemudian Ikram menyatukan keningku dengan keningnya, hidung kami saling bergesekan. Aku memejamkan mata. Aku merasakan embusan napasnya pada permukaan kulit wajahku.
Tetapi Ikram merenggangkan jarak ketika bibir kami hampir saja bertemu untuk untuk berciuman.
"See? I can't."
Aku mengeram sebal. Aku bisa gila jika tidak mendapatkan kebutuhan itu.
"Kasih tahu aku alasan kenapa kamu nggak bisa ngelakuin ini?" tanyaku untuk kedua kalinya. Aku memegang lengannya menuntut jawaban.
"Aku nggak bisa, An." Ikram menggeleng.
"Kenapa!"
Ikram memejamkan mata, kemudian menggelengkan kepala pelan.
Wajahnya tampak benar-benar lelah dan tidak ada minat sama sekali membahas hal ini denganku. Tatapi hari ini aku harus mendapatkan jawaban darinya apapun yang terjadi. Sudah cukup kami saling diam-diaman satu sama lain selama empat bulan ini.
"Karena aku nggak bisa ngebayangin berapa cowok yang udah nyentuh kamu dan udah nikmatin tubuh kamu, Anha," kata Ikram dengan lirih tanpa mau memandangku sama sekali. Jantungku seolah diremas dan ditarik keluar, rongga pernapasanku menyempit, mataku memanas mendengar hal tersebut.
"Aku jijik sama kamu," katanya begitu pelan seperti desahan lelah, tetapi ucapan tersebut sangat menyakiti perasaanku. Bibirku bergetar, mataku berkaca. Tetapi kali ini aku tidak mau menangis di depannya meskipun hatiku begitu sakit mendengar perkataannya barusan.
Jijik?
Istri mana yang tidak sakit hati jika suaminya tidak mau menyentuhnya. Apalagi alasannya karena jijik.
"Tiap kali aku mencoba ngebangun rasa lagi sama kamu. Aku selalu nggak bisa karena aku selalu kebayang berapa cowok yang udah tidur sama kamu, berapa orang yang udah nyicipin tubuh kamu," katanya dengan sangat pelan, aku masih memalingkan wajahku tanpa mau menatapnya sama sekali. Hatiku begitu sakit, egoku terluka parah.
Tanganku yang semula memegang lengannya pun terlepas seolah semua sendi tubuhku melemas.
Dan di hari inilah pertengkaran hebat antara aku dan suamiku baru saja terjadi setelah empat bulan lamanya kami hidup bersama.
Aku berjalan ke arah lemari untuk mengambil bajuku, mengabaikan Ikram yang masih berdiri di dekat ranjang kami.
"Kalau begitu kamu suruh Mamamu buat nutup mulutnya dan berhenti minta cucu sama aku. Aku nggak mau emosiku sampai meledak dan ngasih tahu ke dia kalau aku nggak bakalan ngasih cucu ke dia karena suamiku jijik dan nggak mau nyentuh aku selama ini."
Setitik air mata lolos dari pelupuk mataku, untungnya Ikram tidak melihatnya karena saat ini posisiku sedang memunggunginya karena sibuk memilih baju di lemari. Padahal aku sudah mencoba sekuat tenaga untuk terlihat tegar tetapi kenapa nada bicaraku berubah karena menahan tangis.
Apa sebegitu rendahnya dia memandangku sampai harus berkata seperti itu? Jijik? Itu benar-benar menyakiti hatiku.
"Aku emang menjijikkan banget, Mas. Tapi itu semua masa lalu aku. Aku udah nggak pernah kayak gituan lagi selama sebelum kelulusan kuliah. Semua orang punya salah dan punya masa lalu, Mas," kataku untuk terakhir kalinya kepadanya, setelah itu aku menutup pintu lemari.
Sebelum aku bergerak berjalan ke arah kamar mandi untuk memakai baju. Ikram mengampiriku dan memegang lenganku. Aku membuang muka, tidak ingin dia melihat mataku yang sudah berkaca menahan tangis.
"An..."
Ikram mengantung ucapannya. Aku mencoba melepaskan cengkeramannya pada lenganku dan berhasil.
"An, dengerin aku. Bukan kayak gitu maksud aku. Please, aku cuma butuh waktu lebih sampai aku bisa nerima kamu apa adanya."
Aku menarik lenganku ketika dia hendak mencoba menyentuh lenganku kembali dan aku menggelengkan kepala.
"Nggak perlu, Mas. Aku janji nggak bakalan kayak gitu lagi ke kamu. Maaf tadi aku terlihat murahan banget ke kamu. Pasti kamu tadi jijik banget," kataku sambil tersenyum getir dan tanpa mau memandang wajahnya sama sekali karena aku tidak mau dia tahu aku menangis. Itu akan membuatku semakin terlihat menyedihkan di matanya.
"Aku butuh waktu buat nenangin diri dulu. Kata-kata kamu tadi bener-bener nyakitin hati aku banget, Mas."
Aku hendak berjalan menuju kamar untuk memakai baju yang tadi kuambil dari lemari pakaian. Tetapi Ikram menarik lenganku kembali dan menangkup pipiku dengan kedua tangannya.
Mataku membulat penuh, tubuhku terasa kaku seolah mati rasa, detik jam seolah berhenti bergerak. Aku bahkan tidak percaya dengan apa yang saat ini sedang terjadi...
Ikram mencium bibirku.
***
Enam bulan pernikahan...
Setelah kejadian itu, di mana tepatnya ketika Ikram mencium bibirku, aku hanya mampu terdiam dan membisu. Setelah itu Ikram melepaskan ciuman kami, matanya mengerjab beberapa kali mengamati manik hitamku secara bergantian dari kiri ke kanan. Aku tidak dapat menebak isi hatinya dari netra cokelat kesukaanku itu.
Namun setelah itu Ikram mundur satu langkah, pandangannya menatap ke arah bawah. Kemudian Ikram berbalik badan keluar dari dalam kamar ini menyisakan diriku yang mematung sendirian dan memegang bibirku yang terdapat bekas ciumannya.
Apa maksudnya ini semua? Kenapa dia menciumku padahal sebelumnya dia mengatakan kepadaku jika dia jijik denganku?
Selama dua bulan ini, tidak ada lagi pembahasan tentang hubungan biologis suami istri ataupun pembahasan mengenai anak antara aku dan Ikram. Kami menjalani rutinitas seperti biasanya. Aku tetap menjalani keseharianku sebagai Ibu rumah tangga, memasak untuknya, dan melayaninya sebaik mungkin sedangkan Ikram semakin sibuk dengan pekerjaannya yang begitu padat.