
"Kamu ngasih anak saya makanan sampah kayak gitu, hah?!"
Rahangku setengah terbuka mendengar perkataan Ibu mertuaku ini. Astaga, makanan sampah? Apa sehina itu pasta di mata mertuaku? Toh, tadi anaknya makan dengan lahap, kok. Apa kabar dengan anak kost yang makan mi instant setiap hari? Jika makan pasta saja dibilang makanan sampah, lalu yang setiap hari makan mi instan berarti melebihi sampah begitu?
"Seumur hidup saya! saya nggak pernah, ya, ngasih makan anak saya asal-asalan. Semua harus ada gizinya dan harus yang higienis. Harus dari supermarket! Bisa-bisa anak saya mati muda kalau kamu kasih makanan kayak gitu terus. Emang dasar nggak becus kamu ngurus suami!" makinya dengan kasar, kata-katanya bak pisau yang tajam menusuk tepat di jantungku.
Aku menatap Ikram berharap meminta pembelaan, tetapi Ikram masih terdiam saja dan hanya menatap kosong piringnya yang menyisakan seperempat porsi pasta.
Aku masih ingat dulu sebelum menikah Ikram membelaku dan menyuruh Mamanya untuk berhenti merendahkanku. Tapi sekarang?
Aku meremas ujung bajuku, aku tidak boleh menangis. Apalagi di depan Mama Erin.
"Gini\, nih\, kalau cari istri kampungan! Mama\, kan\, udah bilang sama kamu\, Ikram. Sebelum nikah itu kamu itu harusnya cari *'bibit-bebet-bobot'*nya yang baik. Yang kaya raya. Nggak kayak dia yang cuma modal tampang\, doang. Heran\, deh\, Mama kenapa itu mantu nggak ada bagus-bagusnya."
Napasku memburu, hatiku benar-benar sakit mendengar hal tersebut.
...Inget, ya, nasihat Mama. Nanti setelah menikah, kamu harus patuh sama suamimu, harus sopan sama mertuamu. Kamu harus tunjukin bahwa anak kesayangan Mama ini adalah menantu yang terbaik buat mereka...
Aku teringat kembali pesan yang pernah Mama katakana kepadaku. Dengan kasar aku mengusap air mataku yang metes di pipi, aku harus bertahan agar tidak memaki Mama Erin apalagi di depan suamiku. Apalagi aku sudah berjanji kepada Mama untuk tetap sopan ke pada ibu mertuaku.
"Coba kalau nikah sama anaknya orang kaya, pasti attitude-nya baik. Dan tentunya terdidik. Heran, deh, kenapa kamu mau sama yang kayak gitu? Kamu dipelet atau gimana, sih, Kram sama dia?"
Aku tidak kuat lagi diperlakukan seperti ini.
Hal yang lebih menyesakkan adalah ketika aku melihat Ikram yang hanya masih diam saja tanpa berkata sepatah kata pun ketika Mamanya menghinaku separah ini. Bahkan saat ini dia hanya acuh dan menatap pasta sialan itu.
Seharusnya dia membelaku karena aku ini istrinya. Seharusnya dia marah ketika harga diri Istrinya diinjak-injak Mamanya.
...Inget, ya, nasihat Mama. Nanti setelah menikah, kamu harus patuh sama suamimu, harus sopan sama mertuamu. Kamu harus tunjukin bahwa anak kesayangan Mama ini adalah menantu yang terbaik buat mereka...
Bibirku bergetar.
Ikram sudah tidak mencintaiku lagi.
"Iya, Ma. Anha yang salah. Anha memang nggak becus ngurus suami. Maafin Anha, Ma. Anha yang salah," kataku lirih dengan suara bergetar karena menangis. Ikram baru mengangkat pandangannya yang dari tadi tertuju pada piringnya.
Aku menatapnya penuh luka, dia tidak peduli kepadaku, dia sudah tidak mencintaiku lagi. Aku sudah tidak kuat lagi menahan semua rasa sakit ini. Aku menangis terisak di depan suamiku dan Ibu mertuaku. Tampak Mama Erin tersenyum puas sekali dan merasa menang.
Semua ini begitu sakit.
Aku tidak kuat lagi.
Apakah mungkin jalan perceraian memang solusi yang terbaik?
"Kamu tahu nggak kenapa saya nggak suka banget sama kamu? Kamu itu miskin, kamu nggak selevel sama anak saya. Anak saya itu pantesnya ngedapetin doker atau anak pengusaha kaya raya. Bukan gadis macem kamu! Orang kayak kamu itu cuma benalu yang numpang nama belakang dari keluarga kami dan cuma bakalan gerogotin harta anak saya!" kata Mama Erin sambil tersenyum miring.
Ikram berdiri dengan gerakan ragu.
"Ma, udah Ma."
Setalah sekian lama membisu akhirnya Ikram baru mengangkat suara, mungkin dia paham jika Mamanya sudah sangat keterlaluan menghinaku.
Aku menunduk dan mengusap air mataku.
"Iya, Tante. Anha tau diri kalau Anha nggak pantes buat anak Tante. Tapi gimanapun Anha ini manusia, Tante. Anha juga bisa sakit hati ketika Tante maki kayak gitu."
Aku tidak mau membalas makian Mama Erin, aku lebih memilih mengalah demi suamiku dan demi Mamaku. Bahkan saat ini aku memanggilnya dengan sebutan 'Tante', bukan 'Mama' lagi.
Aku mencoba menatap Ikram yang masih terdiam kaku. Mungkin dia tidak percaya aku baru saja mengatakan hal tersebut.
Suamiku sudah tidak mencintaiku dan tidak peduli lagi denganku.
Lalu apalagi yang aku harapkan dari pernikahan menyakitkan ini?
Hari ini aku akan melepaskan semua rasa sakit yang dari dulu kutahan.
"Maafin aku Ikram atas semua kesalahanku. Aku pamit—" kata-kataku terputus karena aku sudah tidak sanggup lagi dengan semua ini.
Aku berjalan keluar dari rumah ini meninggalkan Ikram dan Tante Erin.
Ketika baru sampai di teras rumah aku mendengar Ikram memanggil namaku namun aku tidak peduli. Aku mau pulang ke rumah Mama.
"Anha!"
Aku tidak memedulikan Ikram yang memanggil namaku dari belakang.
Tanpa kusadari aku merasakan tanganku ditarik dengan kencang dari belakang.
Kemudian aku merasakan Ikram memelukku dengan begitu erat.
"Jangan pergi, Anha."
***
"Maafin aku Ikram atas semua kesalahanku. Aku pamit-" kata-kataku terputus karena aku sudah tidak sanggup lagi dengan semua ini.
Aku berjalan keluar dari rumah ini meninggalkan Ikram dan Tante Erin.
Ketika baru sampai di teras rumah, aku mendengar Ikram memanggil namaku namun aku tidak peduli sama sekali.
Aku mau pulang ke rumah Mama.
"Anha!"
Aku tidak memedulikan Ikram yang memanggil namaku dari belakang.
Tanpa kusadari aku merasakan tanganku ditarik dengan kencang dari arah belakang.
Kemudian aku merasakan Ikram memelukku dengan begitu erat.
"Jangan pergi, Anha."
Aku menangis sesenggukan di pelukan Ikram, rasanya begitu sakit dan menyesakkan. Lututku lemas dan tubuhku merosot ke bawah-masih dalam pelukan Ikram. Mama Erin begitu jahat kepadaku. Kata-katanya begitu menusuk jantungku. Ikram memelukku erat dan mengusap rambutku pelan.
"Maafin Mama aku, Anha."
Aku tidak dapat berkata apa pun lagi. Kini aku hanya mampu menumpahkan air mataku dan menangis sesenggukan pada dada bidang Ikram.
Sekilas aku mendengar suara dari high hels Mama Erin yang ia entakkan dengan kasar melewati kami berdua sambil bergumam kesal.
Aku tidak tahu berapa menit aku menangis sesenggukan di pelukan Ikram. Setelah tangisku mulai mereda. Ikram membantuku untuk berdiri kemudian menuntunku untuk memasuki rumah.
Dia menyuruhku duduk di sofa ruang keluarga, menyuruhku untuk menenangkan diriku terlebih dahulu. Aku mengangguk. Setelah itu Ikram pergi entah kemana menyisakan diriku yang duduk sendiri di sofa ruang keluarga sambil menatap kosong ke arah depan.
***
Follow juga instagramku: @Mayangsu_ di sana aku lebih aktif dan post banyak info tentang novelku + jadwal update + visual tokoh. Makasih.