
Sejak hari Selasa Bastian sudah masuk kerja. Wajahnya sudah mulai fresh. Dan ada semburat bahagia. Tapi tetap dengan wajah datar bagi semua karyawannya. Walau sedang sedikit kesal dia tetap masuk ke kantornya. Bagaimana tidak kesal? Saat baru saja sampai di parkiran ponselnya berdering dengan caller id MY SOULMATE ANGEL. Dia langsung memindah tombol ke arah hijau untuk menerima panggilan tunangannya itu. “Assalamu’alaykum Honey,” sapa Bastian kala itu.
“Wa’alaykum salam sayank,” balas Julia.
“A’ hari ini aku izin ya. Pas mau berangkat kerja barusan Bubu bilang dia ngedadak ke Jakarta. Jadi aku bilang ke bubu bisa nemanin dia. Sepertinya bubu sebentar lagi sampe ke rumah.” Julia langsung minta izin dihari pertama kerjanya.
Bastian yang sekarang tentu sudah berubah. Dia bisa sedikit menekan emosinya. “Iya enggak apa-apa. Salam buat bubu ya. Ponselmu jangan mati biar A’a bisa kirim pesan atau telepon kamu ya?”
“A’a ‘kan sudah tahu nomorku yang buat bisnis. Kalau nomor ini off, A’a bisa hubungi nomor itu,” jawab Julia. Sejak mereka bertunangan memang nomor di ponsel bisnisnya sudah Julia beritahu kepada Bastian.
“A’a jangan telat makan ya. Obat dibawa ‘kan?” Julia mewanti-wanti Bastian. Lelaki itu sering lalai minum obatnya.
“Iya, enggak akan lupa minum obat,” Bastian bersiap turun dari mobilnya.
“Semangat ya A’. Biar kita bisa segera liburan ke Singapore. Assalamu’alaykum.” dan Julia pun menutup pembicaraan mereka.
Kalimat terakhir Julia yang memacu Bastian untuk turun dan bekerja. Kalau tak mendengar kalimat itu, Bastian bisa saja menemani Julia.
Hari Rabu Julia sudah sampai lebih dulu di kantor. Banyak karyawan yang nyinyir Julia bisa libur lama. Berbeda dengan karyawan pada umumnya. Fanny yang mendapat protes lewat japri langsung menjawab Julia bahkan masih ada jatah cuti 16 hari lagi untuk tahun ini diluar cuti besar. Hal itu karena Julia menukar jam kerja lemburnya dengan jam libur. Bukan diuangkan. Mereka diminta mengecek pada bagian keuangan apakah Julia pernah terhitung lembur padahal hampir setiap hari kerja diluar jam kerja normal. Belum lagi bila dinas luar saat hari Sabtu dan Minggu.
Rabu siang adalah makan siang pertama lima sekawan sejak Julia kembali kerja. Tentu saja itu membuat Bastian uring-uringan. Dia makan siang di ruang kerjanya karena hari ini Julia membawakannya menu makanan sehat. Alasan Julia agar Bastian cepat pulih.
“Gimana ceritanya koq malah kamu tunangan?” Nia mencecar Julia penasaran. Memang mereka sering membahasnya selintas di chat group. Tapi tentu tidak tuntas. Maka dikesempatan pertama kumpul Nia langsung bertanya untuk menuntaskan rasa penasarannya.
“Dulu, dia pernah bilang orang tuanya mau ngelamar aku. Kalian tahu, dia bilang begitu diruang meeting. Bikin aku bete. Hal serius dan personal, dia katakan sehabis stress dengan klien dan diruang meeting kantor. Kalau di ruangan dia sih mendinglah. Aku marah. Jadi tunangan kemarin bukan dadakan. Udah ada wacana sejak lama,” Julia menjelaskan cerita lama.
“Terus pas di rumah sakit, dia bilang mau nanti orang tuanya akan “kenalan” dengan yayah dan bubu. Aku jawab aja, suruh mereka datang sebelum kami kerja. Jadi deh mereka datang 3 hari setelah dia pulang dari rumah sakit. Saat itu dia dan keluarga enggak tahu kalau aku sudah bilang ama yayah dan bubu aku dan Bastian enggak mau hanya kenalan. Kami maunya langsung tunangan dengan hanya 2 keluarga,” Julia menjelaskan memang kemauan dia dan Bastian mereka tunangan tanpa orang lain.
“Aku masih trauma bila pertunangan kami gagal seperti pertunanganku sebelumnya padahal sudah dipublish ke keluarga besar. Biar aja keluarga besar tahu saat lamaran untuk pernikahan nanti. Aku masih takut gagal lagi. Tentu aja pak Achdiyat dan bu Tuti kaget saat yayah bilang kami diminta tunangan diam-diam saat itu juga,” lanjut Julia sambil mengaduk juice sirsak yang dia pesan.
“Tapi tentu aja Bastian seneng banget. Walau saat di rumah sakit dia yang minta duluan buat tunangan dua keluarga inti. Tapi dia tetap enggak tau kalau aku pesan ke yayah soal tunangan itu. Malam sebelum dia datang emang aku yang minta dia bawa cincin yang pernah kami beli untuk pertunangan kami. Dia pikir cincin itu bakal dipakai setelah pertemuan. Saat kami berdua. Dia enggak nyangka cincin itu dipakai saat di depan kedua orang tua kami,” Julia menutup cerita lengkapnya.
“Jadi … keluarga besar kalian berdua enggak ada yang tahu? Diluar 2 keluarga hanya kami yang tahu?” Vita bertanya untuk memastikan.
***
Sekarang hari Kamis, seingat Bastian siang ini adalah meeting pertama sesudah dia sakit. Kemarin Julia sudah memberitahu dia akan keluar meeting bersama dengan manager marketing bukan hanya dengan Julia saja.
Bastian POV
Aku ingat ketika sikap Julia mulai berubah manis. Aku kira hanya karena di depan mantan tunangannya. Ternyata tidak. Sikapnya benar-benar manis dan tidak kaku seperti ketika dia belum meninggalkanku. Sebelum dia marah besar dan resign dari kantorku. Aku tak berani lagi salah langkah lalu dia berubah marah.
Aku akan mengubah tabiatku seperti pesan Apa’ semalam aku harus merubah sikapku terhadap Julia agar gadis itu bisa merasa nyaman berada di sisiku selamanya. Aku sadar aku tidak kasar, tapi terlalu posesif. Kalau sudah cemburu aku bisa hilang akal. Mungkin itu yang membuat Julia merasa tak nyaman denganku.
“Honey, kamu rebahan sini aja,” pintaku ketika itu.
“Aku enggak mau. Kamu cepat pulih dan cepat pulang. Nanti aku akan berbaring disisimu menemanimu recovery di rumah,” demikian jawab perempuan yang sudah mencuri semangat hidupku itu. Tanpanya aku serasa tak bernyawa.
“Promise?” tanyaku memastikan. Dan kulihat dia mengangguk sambil tersenyum dan mengangkat jari tengah dan telunjuknya sebagai tanda berjanji.
“Tapi kamu tidak boleh minta dokter untuk mengijinkanmu pulang sebelum waktunya. Bila aku tahu kamu pulang karena kamu merengek minta pulang. Aku enggak akan datang menjengukmu lagi.” Tetap saja dia memberi ancaman walau sudah berjanji.
“Kenapa sih satu kaliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii aja kamu enggak ngancem A’a?” protesku. Karena aku malu dia bisa menebak jalan pikiranku.
“Karena aku tahu otak licikmu itu. Sekarang kamu tidur dulu. Aku akan menunggumu bangun, aku enggak akan meninggalkanmu!” Gadis itu berjanji tak akan meninggalkanku. Tentu aku ingin melompat setinggi-tingginya -andaikan bisa!-
“Aku akan selalu disisimu dengan syarat, kamu harus ingat semua janjimu dan tak melanggar janji itu dan satu lagi yang tak termaafkan adalah PERSELINGKUHAN!” tegas Julia. Memang sejak dulu dia sudah mengatakan tak pernah ada kata maaf untuk pengkhianatan.
\=========================================================================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta