
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Laura masih berbenah di kamarnya. Hari ini dia malas keluar rumah setelah kemarin seharian bermain dengan Nazwa dan Fahri. Kedua anak itu baru mau pulang dari rumahnya menjelang maghrib.
“Neng,” bik Sanah mengetuk pintu kamar Laura yang tidak tertutup.
“Iya masuk Bik, kan pintu juga enggak ditutup,” sahut Laura sambil mengeluarkan baju-baju di rak lemarinya.
“Di panti ada tamu cari Eneng,” bik Sanah memberitahu. Nengsih menelepon ke dapur memberitahu Ariano datang bertamu. Lelaki itu belum tahu kalau Laura tidak tinggal di panti asuhan, melainkan tinggal dirumah terpisah.
“Saha atuh Bik?” tanya Laura penasaran. [ Saha atuh \= siapa sih ].
“Kata Nengsih namanya Ariano,” sahut bik Sanah lirih.
“Haduuuuuuuuu. Lagi mau bongkar lemari,” Laura kesal karena niatnya dia mau menyortir isi lemarinya. Dengan kesal dia memantaskan diri. Mengganti celana pendek dengan celana dibawah lutut. Dan kaos kebanggaannya yang super tipis dan kedodoran dia ganti dengan kaos pas badan. Tak mungkin dia menerima tamu dengan mengenakan pakaian santai seperti itu.
Tak perlu sisiran, dia hanya mengambil jepit rambut besar dan rambutnya dicepol keatas dengan jepit itu.
“Pageeeeeee,” Ariano menyapanya dengan riang. Dan tentu dengan senyum manisnya.
“Hai, pagi juga. Ada perlu apa?” tanya Laura dengan datar. Laura sangat keqi karena rencananya membongkar kamar terganggu.
“Hang out yok?” ajak Ariano yang hari ini sangat ganteng. Dengan outfit yang santai tapi berkelas. Kaca mata hitam dileher kaosnya. Benar-benar bujangan idaman.
“Kan sejak hari Kamis saya bilang, kalau hari Sabtu dan Minggu saya ada janji. Ini saya sedang menunggu para tante karena kami janjian mau membeli kain kiloan di Cigondewah,” sahut Laura dengan serius. Padahal itu hanya cerita bohong yang dia sebutkan saja. Dia kesal bila ada orang yang asal datang untuk menemuinya sedang sebelumnya dia sudah menolaknya.
Kalau ngajak jalan seperti August minggu lalu, itu tak masalah. Karena saat itu August memang tak janjian dan mereka bertemu di panti. Biasanya August memang datang untuk melihat bayi-bayi di panti. Lagi pula aini Ariano sudah ditolak. Kan benar-benar membuatnya keqi.
Setelah berbasa basi akhirnya Ariano pun pamit. ‘Sejak saat ini aku akan katakan pada para pegawai di panti kalau ada tamu dan aku dirumah belakang, tamu diminta menghubungiku via ponsel saja. Karena tak enak tak menemui bila pegawai sudah bilang aku ada dirumah,’ batin Laura. Dia jadi bad mood pagi ini.
“Kalau ada tamu lagi dan saya sedang dirumah. Jangan pernah katakan saya ada. Suruh dia menghubungi saya lewat telepon saja. Kalau saya sempat, saya akan keluar. Tolong beritahu pada semua untuk waktu kapan pun. Karena kalau tamu personal mereka pasti akan kerumah bukan kesini,” Laura berpesan pada Sukma yang bertemu dengannya saat dia ingin kembali ke rumah.
Laura kembali kekamarnya dan juga kembali berganti pakaian santai. Walau sudah bad mood, tapi karena terlanjur bajunya sudah dia keluarkan dari lemari, maka dia kembali beberes. Dia pisah baju yang jarang bahkan tak pernah dia pakai lagi. Dia akan minta pegawai panti untuk memilihnya bila mereka suka, bila tak ada yang mau mereka bisa berikan pada orang lain diluar panti.
Sampai menjelang sore baru Laura selesai membongkar satu lemari saja. Leamri lain belum sempat dia bongkar. Akhirnya dia mencukupi kerja baktinya. Dia segera mandi lalu menemani wak Ganis ngobrol santai.
***
Hari kedua di Singapore, Julia dan Bastian sengaja hanya mengunjungi destinasi wisata .Yang pertama mereka datangi adalah Merlion Park. Di taman ini lah berdiri dengan megah Patung Singa alias Merlion Statue yang merupakan lambang negara kebanggaan Singapura.
Walau Julia dan Bastian sudah beberapa kali kesini, tapi ini adalah kedatangan pertama mereka berdua di Singapore. Sehingga mereka merasa wajib untuk berfoto berdua disana. Bastian kadang minta sesama turis untuk saling membuat foto. Kadang mereka memasang timer apabila camera yang mereka bawa bisa diletakkan disuatu tempat sehingga mereka bisa berfoto bersama.
“Honey,” panggil Bastian. Dan Saat Julia menengok dia langsung menjepretkan cameranya. Banya foto Julia disemua tempat. Tak ada pertengkaran selama mereka bersama. Bastian benar-benar berubah. Dia sangat menekan egonya. Itu semua membuat mereka berdua bahagia.Sehabis dari Merlion park, Bastian mengajak Julia ke Esplanade, sebuah pusat seni yang populer karena arsitektur bangunannya yang unik dan kerap disamakan dengan bentuk dari buah durian.
“Udah kenyang gini penyakit utama kembali kambuh,” Julia mengeluh pada Bastian ketika mereka selesai makan siang.
“Kenapa Honey?” tanya Bastian khawatir. Dia mendengar suara Julia sudah lirih.
“Jadi malas gerak dan pengen tidur aja,” jawab Julia dengan tersenyum licik.
“Kamu tu bikin A’a khawatir aja,” dengan gemas lengan Bastian melingkari kepala Julia.
“Hahaha … sakit tau A’,” Julia pun merajuk manja. Dia benar-benar tertawa Bastia memperlihatkan wajah khawatir.
“A’a kira serius,” jawab Bastian keqi. Dia sungguh taakut bila Julia sakit.
“Siang ini kita kedua destinasi aja ya, kalau bisa ya tiga lah. China town, Little India dan Arab. Atau mungkin tambah ke Bugis street,” Bastian memberitahu lokasi yang akan dia tuju sehabis mereka makan siang.
“Nanti malam kita naik bianglala di Singapore Flyer,” lanjut Bastian. Singapore Flyer mempunyai bianglala yang memiliki tinggi mencapai 165 meter atau setara bangunan 42 lantai ini memungkinkan pengunjung untuk menikmati panorama kota Singapura dari ketinggian selama kurang lebih 30 menit.
“Terserah A’a aja,” sahut Julia ringan. Dia senang bisa jalan-jalan berdua lepas dari kerja rutin yang sangat memberatkan Bastian.
“Next trip gimana kalau kita ke Australia?” tanya Bastian.
“Pengennya ke Thai aja A. Kemaren karena ikut biro wisata aku belum puas disana,” Julia menawar lokasi jalan-jalan mereka berikutnya.
“Oke, bisa kita pertimbangkan,” sahut Bastian sambil merengkuh Julia untuk jalan lagi.
“Kalau cape bilang ya Yank,” Bastian berkali-kali selalu minta Julia mengatakan bila sudah tidak kuat.
“Kalau lagi berdua A’a, mana ada rasa cape,” jawab Julia sambil mengedipkan matanya pada Bastian.
“Jangan menggoda A’a begitu Yank,” Bastian mengeluh. Ini dilokasi umum. Tentu dia tak bisa mencium bibir Julia yang sudah membuatnya geregetan itu.
Julia hanya terkekeh pelan mendengar Bastian putus asa seperti itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sambil nunggu Yanktie update bab berikut, coba mampir ke cerita milik teman baik yanktie ini ya.
Napennya : SENJA_90
Judul cerita : PEMBALASAN SANG PELAKOR
Cerita singkatnya seperti ini :
Akibat kejadian di masa lalu, Clarissa Dianti Jenia (23 tahun) terpaksa menjalani profesinya sebagai seorang pelakor. Ia menggunakan kecantikannya untuk menjerat para lelaki hidung belang yang dianggapnya pantas untuk mendapatkan ganjaran karena telah berselingkuh di belakang pasangannya yang juga ternyata sama-sama bermain api dengan lelaki lain.
Clarissa terus menekuni profesinya selama tiga tahun, hingga suatu hari ia mendapatkan kabar bahwa seseorang yang berkaitan dengan masa lalunya kembali ke Indonesia dan telah hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.
Lantas, bagaimana cara Clarissa membalaskan dendamnya kepada orang-orang yang telah menghancurkan kebahagiaannya? Akankah ada seseorang yang tulus mencintai Clarissa setelah tahu masa lalunya yang kelam?