TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
KAMU HAMIL?



“Enggak. Tadi pagi nasi gorengnya enak.” Wulan memang mengolah ayam yang ada dia suir lalu dia buat untuk nasi goreng. Karena stock nasi sisa pernikahan mereka masih banyak. Dan beruntung semua Wulan simpan. Dia mengeluarkan sesuai kebutuhan saja.


“Gimana kalau kita beli sedikit sayuran dan buah serta bakso. Nanti bisa buat capcay dan nasi goreng baso atau sosis. Bikin juice juga salad,” Wulan tak ingin makan diresto.


“Mas terserah kamu. Mas enggak mau kamu cape dan terbebani harus masak. Kalau malas masak ya kita beli aja,” jawab August. Dia ingin yang praktisa dan tidak ribet.


“Aku malah kebeban bila harus beli makanan matang. Aku sukanya masak sendiri,” jawab Wulan.


“Oh iya Yank, kita enggak bawa kertas list karena enggak niat belanja.” August memberitahu list yang mereka tak bawa.


“Kita beli yang kita ingat aja. Karena pernah kita tulis, setidaknya kita ingat beberapa,” sahut Wulan.


“Jangan lupa cemilanmu buat teman belajar,” August baru tahu semalam kebiasaan Wulan bila sedang belajar.


“Iya, sama toplesnya sekalian,” balas Wulan.


***


Rabu pagi sehabis memandikan Syahrul, Laura segera sarapan lalu pergi ke butiknya. Jarak dari rumah sakit ke butik lebih dekat daripada jarak rumah ke butik. Dia tetap harus mengontrol tempat usahanya itu.


Tak lama Laura di butik. Yang pasti dia tidak lepas tangan tanpa mengawasi. “Ini pakai bahan yang ini ya, Laura menyerahkan gambar dan bahan pada bagian potong.


“Lalu gambar yang ini buat bahan ini dikombinasi dengan ini dibagian tangan dan bawahnya.


Sesudah itu dia langsung kembali ke rumah sakit.


***


“Abang masih betah bobo?” tanya Laura siang ini. Dia memang segera kembali ke rumah sakit agar bisa masuk di jam kunjungan siang.


“Sudah dua minggu lho. Masih enggak kangen aku?” tanya Laura lagi. “Bangun dong sayank,” rengek Laura. Dia ciumi tangan kanan Syahrul yang bebas infus. Laura yakin bobot Syahrul sedikit turun karena dia melihat jemari lelaki ini mulai terlihat mengecil.


“Apa dia belum ada perubahan?” terdengar suara pelan ditelinga Laura.


“Kamu kan bisa lihat sendiri data ini,” balas yang lain.


“Aku kan enggak perlu datanya. Temanku selalu saja cerewet tanya perkembangannya. Padahal dia sudah hampir lima tahun bercerai dengan si dokter,” sahut suara yang pertama.


“Dia yang kabur, dan dia langsung nikah. Ngapain dia cari khabar tentang mantan yang sedang kritis?” balas suara kedua. Laura yang memang dekat dengan meja perawat ruang ICU sangat jelas mendengar percakapan itu.


“Seharusnya kamu jangan membantu orang seperti itu. Karena kamu termasuk mendapat dosa membantu orang yang sesat. Bila dia ingin tahu, secara resmi dia bisa tanya ke rumah sakit. Atau tanya calon istrinya yang tak pernah bergeser dari sisinya,” suara kedua melanjutkan petuahnya lalu terdengar langkah kaki meninggalkan meja rawat itu.


‘Aku tahu sekarang mengapa Ida bisa mendapat info kalau Abang kritis. Rupanya ada informan dirumah sakit ini,’ Laura masih belum tahu apa maksud Ida selalu memantau Syahrul.


“Besok putusan sidang Bang. Besok aku tinggal sebentar aja ya. Enggak lama. Sebenernya aku pengen ada Abang saat mendengar keputusan itu. Aku sih enggak masalah dia dihukum berapa tahun pun. Walau hanya kena satu bulan juga enggak peduli. Yang penting usaha dia hancur. Dan aku dengar usaha ayah serta keluarga suaminya juga hancur. Aku jahat ya Bang punya rasa suka seperti ini?”


“Dia sudah lama menginjakku Bang. Jadi wajar aku suka dia mendapat balasan seperti sekarang. Dan yang pasti balasannya bukan dari aku kan. Tapi akibat perbuatannya sendiri. Kalau dia enggak jahat juga aku enggak balas,” Laura membela dirinya.


Dia juga mendengar rumors kalau suami Laras sudah mengajukan cerai.


***


Bastian juga sudah tiba diparkiran resto. Lelaki gagah itu langsung masuk dan melihat sahabat calon istrinya sudah lengkap ditambah Harun tentunya.


“Lho, Julia enggak datang sama Bapak?” tanya Vita melihat Bastian datang seorang diri.


“Saya kira dia sudah sampai. Tadi dia bilang sudah diparkiran,” sahut Bastian bingung.


Fanny mencoba menghubungi ponsel Julia, terdengar nada sambung dan dering yang dekat dengan mereka. Dipintu belakang terlihat seorang gadis yang membawa black forest kecil dengan lilin yang menyala berjalan pelan karena takut lilinnya padam. Dan ponsel di dalam tasnya berdering panggilan dari Fanny.


“Ya ampun Honey, kamu bikin A’a kembali deg-deg an. Takut kamu ngilang lagi,” Bastian menghampiri Julia dan membantu mengambil alih tart untuk dia bawa.


“Silakan ya Bapak Bastian kembali make a wish dan tiup lilinnya,” Julia memang sudah datang sejak sepuluh menit  lalu. Dia sudah memesan minum dan makanan untuk pertemuan kali ini. Nanti yang ingin menu tambahan bisa tambah.


Seperti semalam, Bastian kembali make a wish dalam hatinya, lalu dia meniup lilin yang memang hanya satu kecil. Dia lalu memotong kue, dan potongan pertama dia suapkan pada kekasih hatinya.


“Kalian potong sendiri dan makan sepuasnya,” Julia memerintah semuanya self service.


“Uda mau ucapin selamat dulu lah. Masa main nyosor kue aja,” Harun menghampiri Bastian dan mengulurkan tangan untuk memberi ucapan selamat pada pemimpin perusahaannya itu.


Secara bergilir semua memberi ucapan selamat pada Bastian lalu memakan tart dan minum coke yang sudah tersedia.


“Kalian mau makan sekarang atau mau dengar ceritaku dulu?” Julia melempar wacana pada genksnya.


“Ceita dulu lah. Kita cukup ke ganjel dengan kue ini. Jadi kami masih kuat nunggu waktu makan. Tapi kalau buat nunda dengar cerita kayaknya enggak sanggup,” jawab Yuni cepat.


“Bener, kita mah lebih penasaran ama ceritamu daripada ama makan siang,” jawab Nia.


“Ha ha ha ha, buat kalian lebih baik cerita. Tapi buat para lelaki lebih baik makan. Apa lagi buat pak Bos,” Vita menjawab netral.


“Ya udah, aku akan minta makanan disiapin. Sambil nunggu makanan datang kita ceritaan ya,” Julia berjalan mendekati server yang stanby di ruang itu. Memang Julia booking satu ruang VIP untuk acara ini sehingga tak ada orang umum yang melihat mereka berkumpul.


“Jadi kami mengundang kalian itu mau kasih tahu, semalam pak Achdiyat mengancam kami sebentar lagi kami akan dinikahkan. Kami siap tidak siap. Mau tidak mau, harus segera menikah,” Julia memulai ceritanya kali ini.


“Kamu hamil?” tanya Fanny penasaran.


==================================================================== 


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta