
BERTEMU LAGI DENGAN BAB KEDUA HARI INI
YANKTIE UCAPKAN SELAMAT MEMBACA
Dokter itu tak mau mengatakan hal itu secara langsung. Laura dan Gerry mendekat ke brankar. “Abang, kami tahu Abang kuat. Kami menanti Abang kembali,” bisik Laura. Dia kembali menciumi pipi Syahrul
“Abang janji kita akan segera menikah. Jangan bikin aku kelamaan menunggu.”
Sementara Gerry membacakan Al Qur’an pelan dari ponselnya. “Kak, kita salat Maghrib dulu yok,” ajak Gerry.
“Kita gantian De. Kakak enggak mau tinggalin Abang sendirian,” sahut Laura.
Gerry keluar untuk salat, dia menghubungi sang mama. “Sepertinya kakak enggak akan pulang. Barusan kondisi Abang kritis dan dokter minta keluarga mendoakan yang terbaik untuk Abang.”
“Astagfirullaaaah. Semoga Abang kuat. Mama enggak bisa ngebayangin bagaimana kakakmu bila abang juga pergi seperti Tommy,” Claudia langsung terisak mendengar anak bungsunya bercerita bagaimana kondisi Syahrul saat ini.
“Kak, aku enggak mau Kakak ikut sakit. Kita makan malam dulu yok. Habis itu kita masuk lagi buat baca Qur’an bareng sama Abang,” Gerry mengajak kakaknya yang baru selesai salat untuk makan malam terlebih dahulu.
“Kakak malas De,” sahut Laura lirih. Bagaimana dia bisa makan bila melihat kondisi Syahrul seperti sekarang?
“Kalau Kakak enggak makan, aku enggak ngebolehin Kakak nunggu Abang didalam,” Gerry berupaya mengancam Laura. Dia tak ingin kakaknya makin drop.
“Kalau begitu kamu beli saja diseberang atau delivery order. Kakak enggak mau jalan keluar,” akhirnya Laura mengalah.
Akhirnya Gerry membeli makanan secara online agar dia juga tak meninggalkan Laura sendirian. Meski lama dan sulit habis, tapi Laura berupaya makan. Dia tak ingin sakit sehingga malah akan merepotkan. Dia mensugestikan dirinya dia harus kuat.
‘Ada Nazwa dan Fahri yang harus aku pikirkan. Aku akan bertahan untuk mereka. Kalau daddy mereka tak bisa bertahan. Hanya aku yang mereka punya,” pikir Laura. Dia sudah bersiap menerima kemungkinan terburuk bila Syahrul harus meninggalkannya.
“Abang, kita mulai ngaji ya. Seperti biasa. Tapi kali ini aku ditemenin Gerry. Kita baca bareng ya?” ajak Laura pada Syahrul ditelinga lelaki itu.
Lirih Gerry dan Laura membaca Al Qur’an dari ponsel mereka. Setelah selesai Gerry keluar untuk membiarkan Laura bercerita pada Syahrul.
Tengah malam Laura yang tertidur sambil duduk di sebelah brankar Syahrul terbangun karena mendengar suara cukup ramai. Pasien diujung ruang yang kemarin sudah terlihat sehat dan akan dipindah ke ruang rawat biasa kritis lalu meninggal. Suara tangis pilu keluarganya membuat Laura makin sedih.
***
“Mas,” Wulan masih diam sambil memegangi perutnya. Dia mengambil tangan August dan meletakkan diperutnya.
“Ada yang gerak Sweety,” pekik August merasakan sedikit gerakan diperut istrinya. Tanpa malu dan tanpa permisi August mengangkat kemeja yang dikenakan Wulan, dia pegang secara langsung perut istrinya. Dia tak ingin dihalangi selapis kain.
“Assalamu’alaykum anak Ayah,” sapa August. Dia kecupi perut Wulan. Dan pemilik perut hanya bisa terisak. Dia tak menyangka akan merasakan cinta tulus August untuk anaknya.
“Hei jangan menangis. Kasihan dede kalau Ibu nangis,” August merasakan tetes air mata membasahi punggung tangannya. Dia segera berdiri dan memeluk istrinya.
“Ibu menangis karena bahagia Yah,” balas Wulan sambil balas memeluk suaminya. Lelaki yang jauh dari pengharapannya. Tapi malah berhasil dia miliki tanpa terduga.
***
“Mas, ini kenapa disimpan disini? Dan punya siapa?” Wulan memperlihatkan paper bag kecil berisi kotak cincin di rak baju August. Dia sedang memasukkan baju August yang baru dia setrika.
“Apa Mas akan berikan pada perempuan lain?” Wulan mulai tak enak hati melihat perilaku suaminya.
“Bukan seperti itu Sweety. Cincin itu Mas beli diam-diam saat kita belanja cincin pernikahan kita. Kamu ingat ‘kan saat keluar dari toko perhiasan Mas izin ke toilet dan kamu beli kopi? Itu sebenarnya Mas kembali ke toko perhiasan untuk membeli cincin yang kamu sukai.” sahut August pelan.
“Niatnya Mas mau saat lamaran Mas akan serahkan cincin itu. Tapi karena Mas nervous, cincin malah ketinggalan di hotel,” sahut August malu-malu.
“Itu sebabnya saat lamaran kita enggak ada cincin. Farhan dan Yudha sampai nge bully Mas karena lupa bawa cincin ini,” August mengambil kotak itu, membukanya dan memasangkan di jari manis tangan kiri istrinya. Karena di jari manis tangan kanan ada cincin pernikahan mereka.
“Mas bisa nervous juga?” tanya Wulan tak percaya. Dia melihat cincin yang baru saja disematkan dijarinya.
“Kamu bikin Mas nervous. Mas yang sudah kawakan gini kalah ama anak baru lulus SMA,” August memeluk erat istrinya dan mengecup puncak kepala Wulan. Dia sungguh takluk oleh anak kecil ini.
Hari ini August memaksa Wulan untuk memeriksakan kandungannya. Padahal belum satu bulan dari waktu pemeriksaan sebelumnya. Mereka terakhir memeriksa kondisi bayi saat mengunjungi dokter Syahrul tiga minggu lalu. Sebelum mereka menikah. Saat ini August memaksa periksa karena merasakan gerakan bayi didalam perut istrinya.
“Kita periksa sekalian nengok dokter Syahrul lagi,” demikian alasan August tadi. Sayang di ICU mereka tak melihat Laura atau siapa pun yang menunggu. Barang Laura di ruang tunggu ditutup tikar. Penunggu lain mengatakan Laura pergi sejak pagi.
“Kita mulai belanja keperluan jagoan Ayah ya,” ajak August. Tadi mereka sudah melihat jenis kelamin bayi dalam kandungan Wulan.
“Apa enggak kecepetan Yah?” Wulan masih ingat petuah lama yang melarang membeli perlengkapan bayi bila kehamilan dibawah usia tujuh bulan.
“Ibu enggak usah percaya mitos. Enggak ada istilah kecepatan untuk membeli perlengkapan bayi,” sahut August sambil membukakan pintu mobil untuk istrinya.
“Ayah lagi seneng banget,” August mengemukakan apa yang dia rasa saat ini.
“Kenapa?” tanya Wulan.
“Karena anak kita laki-laki,” balas August, dia mengambil receh guna membayar parkir karena mereka akan keluar dari area rumah sakit.
“Apa kalau bayi ini perempuan Ayah enggak senang?” tanya Wulan sedikit kecewa.
“Bukan begitu. Jangan salah sangka. Kalau anak kita ini perempuan, Ayah enggak tega saat nanti dia akan menikah. Karena pasti Ayah enggak boleh jadi walinya. Saat itu kita harus jujur kalau Ayah bukan ayah kandungnya,” August mengatakan alasannya.
Wulan baru mengerti apa yang dimaksud August. Memang benar secara agam August dilarang menjadi wali bagi anak perempuan yang bukan anak kandungnya.
***
Laura kembali tertidur sambil memegang jemari Syahrul. Tadi saat pasien yang meninggal dibawa keluar ruang ini, Laura hanya bisa mengecupi jemari Syahrul. Jemari yang bisa memberikan kehangatan. Jemari yang bisa menyalurkan ketenangan. Jemari yang bisa lembut mengusap pipi bahkan bibirnya.
Dengan posisi kepala ada di bed. Dan tidur dalam sambil duduk, itu yang Laura pilih malam ini. Dia semakin takut Syahrul tak bisa bertahan dan dia harus ‘menjanda’ sebelum ijab kabul.
====================================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta