TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
OUR FIRST KISS



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta  


\==============================================================================


‘Sesampai di rumah sakit kami akan diskusi dulu koq. Jam makan siang aja enggak apa-apa. Habis jemput Teteh,’ balas Ilyas.


‘Oke, take care Ayahnya anak-anak,’ balas Namira.


‘Love you Bundanya anak-anak,’ balas Ilyas.


Namira langsung menurunkan belanjaannya dan menyimpan sesuai jenisnya. Lalu dia membantu bik Iyah masak untuk makan siang mereka. Hari ini menu masak mereka sayur bening daun katuk dengan labu siam dan jagung manis. Lalu ada lauk balado telor serta goreng tahu serta kerupuk.


***


Sejak siang Laura hanya bercerita yang ringan-ringan dengan mama dan papanya, sore tadi mereka video call dengan Gerry yang besok akan kembali pulang ke Indonesia. Laura titip bahan-bahan milik omanya dibawa Gerry untuknya.


“Semangat buat sidang besok ya Kak,” pesan Gerry untuk kakak tercintanya.


“Iya, aku pasti semangat. Lebih-lebih ada mama dan papa disini. Kamu jangan lupa pesananku. Itu akan aku bikin baju nikahku,” jawab Laura.


“Apa Kakak akan segera menikah?” tanya Gerry. Gerry sudah tahu dari sang mama, kakaknya sudah punya tambatan hati lagi. Hanya belum tahu kalau kakaknya ingin segera menikah.


“Hal itu akan kami bicarakan sesudah sidang selesai. Abang juga enggak akan ngajak aku bicara hal itu selama aku konsentrasi penuh dengan persidangan. Aku hapal karakter Abang,” sahut Laura.


***


“Aku ada di panti,” Ariano memberiahu Laura setelah mereka berbalas salam.


“Aku masih di Bandung, mungkin malam baru sampai rumah,” sahut Laura. Seperti perintahnya, sekarang semua pegawai panti akan menyuruh tamu yaang tidak janjian dengannya untuk langsung menghubungi ponselnya saja. Bukan memanggilkan dirinya walau dia sedang di rumah.


Ariano sedih. Sudah seminggu ini hampir tiap ada kesempatan dia mencari Laura di panti asuhan. Dia sudah tak sabar ingin mengungkapkan isi hatinya pada perempuan yang sudah mencuri hatinya itu.


***


Makan malam Laura pergi keluar, Syahrul memintanya makan malam dirumahnya dengan Nazwa dan Fahri. Nazwa putrinya ingin memperlihatkan hasil masakannya. Menu yang Nazwa buat hanya menu sederhana. Gadis kecil itu hanya membuat ayam goreng dengan sambal matah ala ayam geprek. Dia tambah aneka lalapan mentah. Laura tentu sangat menghargai upaya gadis kecil itu menjadi tuan rumah makan malam mereka kali ini.


“Enak banget Kak. Udah bisa terima pesenan online nih,” puji Laura.


“Iya bener Mom, rasanya persis ama yang biasa kita beli ya Mom,” Fahri menimpali pujian Laura.


“Mommy tahu, dan enggak ngomong hanya sekedar pujian dimulut. Ini beneran enak. Rasa bumbu ayamnya kerasa sampai dalam bukan hanya dikulit. Sambalnya juga pas. Bawang putihnya kerasa banget,” sahut Laura.


“Ayamnya aku ungkep pakai bumbu kunyit dulu Momm. Aku beberapa kali beli ayam geprek online dan selalu aku perhatikan texture ayam serta rasa bumbunya. Trus setelah beberapa kali uji coba dapat resep ini yang pas dilidah kami,” sahut Nazwa. Gadis kecil ini memang senang bereksperimen mencoba modifikasi beberapa resep.


Sementara Syahrul hanya memperhatikan tiga sosok yang dia cinta ini. Syahrul yakin, bila dia tak ada, Laura akan memperhatikan anak-anaknya dengan baik. “Daddy koq diem aja?” tanya Laura.


“Daddy hanya sedang bahagia melihat kalian,” jawab Syahrul sambil tersenyum manis.


***


“Abang enggak apa-apa koq. Cuma Abang koq serasa bakal pergi lama. Tapi seinget Abang, di rumah sakit sedang enggak ada jadwal seminar apa pun,” jawab Syahrul sambil mengecupi puncak kepala Laura yang sedang bersandar di bahunya.


“Kalau Abang pergi, kamu jaga anak-anak ya. Setelah tahu kita jadian anak-anak tentu enggak mau ditinggal sendirian dirumah. Pasti mereka maunya tinggal denganmu,” lanjut Syahrul.


“Nanti mereka jauh ke sekolahnya,” jawab Laura. Bukan dia tak mau dititipi anak-anak.


“Nanti driver akan ngejemput mereka lebih pagi agar mereka enggak terlambat. Abang yakin mereka tahu konsekwensi pilihan tinggal denganmu. Mereka harus siap lebih awal.” Syahrul memeluk lembut Laura.


“Aku pulang dulu ya, biar bisa tidur cepet buat persiapan sidang besok,” Laura pun pamit pada Syahrul.


“Abang besok habis selesai sidang langsung kembali ke rumah sakit ya. Enggak bisa ikut makan siang dengan mama papa. Apalagi nunggu sampai mereka pulang. Jam satu ada meeting soal pembuatan ruang main untuk pasien anak yang dirawat inap.” Syahrul memberitahu jadwalnya esok pagi.


“Abang bisa datang pas aku sidang aja itu sudah membuatku senang koq Bang. Kita sama-sama tahu kalau pasangan kita bukan pengangguran yang bisa berada disisi kita 24 jam penuh.” Laura mengecup pipi Syahrul lembut.


Syahrul memegang kedua pipi Laura ditatapnya kejora mata Laura. Dia menempelkan dahinya didahi Laura. Tak ada penolakan di mata gadis itu. Dia mencium lembut bibir perempuan yang hampir dua tahun ini menghiasi pikirannya, mendomi-nasi mimpi indah sebagai lelaki dewasa. Itu first kiss mereka. Selama ini Syahrul hanya berani mencium pipi atau puncak kepala itu pun hanya selintas.


“Bang …,” Laura menjeda ciuman mereka. Ciuman yang awalnya lembut akhirnya karena Laura membalas menjadi ciuman hangat yang tak ingin mereka sudahi.


“I love you sunshine, I love you Mom,” bisik Syahrul lembut ditelinga Laura.


“I love you too calon imamku,” jawab Laura dan dia pun memeluk erat Syahrul.


“Hati-hati ya, dan kabari bila sudah sampai rumah,”pesan Syahrul saat akan menutup pintu mobil Laura. Dia sempatkan mengecup sekali lagi bibir kekasihnya itu.


***


‘Besok sebelum masuk ruang sidang, saya ingin bicara sebentar ya,’ chat Adnan masuk saat Laura baru menyalakan mesin mobilnya. Dia tak langsung membalas. Laura langsung melajukan mobilnya menuju rumah.


‘Oke,’ jawab Laura. Dia baru saja mematikan mesin mobilnya. Sebelum keluar mobil memang dia membalas chat Adnan terlebih dahulu.


‘Aku sudah sampai rumah. Abang istirahat ya,’ Laura pun memberitahu Syahrul. Dia tahu lelaki itu menunggu khabar darinya dengan cemas.


‘Abang lagi siapin materi buat rapat besok. Apa yang dibutuhkan untuk ruang bermain pasien anak itu. Nanti setelah materi siap Abang akan tidur koq. Love you sunshine. Sleep well ya,’ jawab Syahrul di chat itu. Dan Laura pun tak lagi membalasnya.


Laura masih sempat berbincang dengan Anjas sebelum masuk kamarnya. Anjas sedang duduk sendirian didepan televisi.


“Belum tidur Pa,” sapa Laura ketika melewati ruang tengah.


“Sejak kapan Papa bisa tidur sebelum berganti hari?” Anjas malah balik bertanya pada putri sulungnya.


“Hahaha, kirain semakin tua kebiasaannya berubah,” goda Laura. Dia hapal kebiasaan tidur papanya sesudah lewat tengah malam.


“Cieeee, yang udah punya calon suami berani ngatain Papa tua,” Anjas bukannya marah dikatain tua, dia malah menggoda Laura.


“Ih Papa, malah godain Kakak,” sungut Laura. Dia tak menyangka malah dia yang digoda oleh papanya.


Memang sebagai anak perempuan Laura lebih dekat dengan Papa dan Opanya dibanding dengan sang mama. Hanya masalah perempuan yang akan Laura ceritakan pada Claudia. Diluar itu dia lebih senang bertukar pendapat dengan Anjas.